Wallpaper

Rizky Brawijaya
Chapter #1

10X10

Suara adzan subuh masuk ke jendela kamar, berusaha membangunkan pasangan suami-istri muda dan seorang anak perempuan berumur tujuh tahun di tengahnya. Rossa terbangun pada pandangan sengau kemudian dengan hati-hati tangannya menyeberangi wajah anaknya, menepuk pipi kanan suami sampai terbangun.


"Yank, yank, yank. Sayang," ucap pelan Rossa.


Mata Fadlan terbuka perlahan dan mengarah langsung ke wajah Rossa yang kepalanya terangkat mengambang. "Udah subuh?" tanya Fadlan setengah sadar.


"Ayo, bangun. Entar Ica keburu bangun mau sekolah," ajak perempuan dua puluh tiga tahun itu tak sabaran.


Fadlan beranjak dari ranjang, mencari pakaian dalamn untuk dikenakan disusul Rossa menguncir rambut panjangnya dihiasi poni jarang nan terurai rapi lalu menggunakan kaus tanpa bra. Mereka keluar bergiliran dari kamar kecil berukuran 2X3 meter meninggalkan Raisa (nama asli Ica) yang masih di mimpi indahnya.


Waktu menunjukkan pukul setengah enam pagi. Rossa dan Fadlan sudah rapi dengan pakaian kerja masing-masing dan Raisa mengenakan seragam merah putih lengkap. Sambil menunggu Rossa selesai masak mie instan, di meja makan Fadlan ajak ngobrol anak yang wajahnya mirip Rossa sibuk memainkan sendok dan garpu.


"Tugas Bahasa Indonesia sudah selesai Ica?" tanya Fadlan.


"Sudah Yah. Nanti Ica bakal bacain ceritanya di depan teman-teman. Pasti bagus ceritanya tentang Ayah sama Mama dan Ica sendiri," balas Raisa antusias.


Fadlan melontarkan senyum bahagianya. "Pasti! Anak Mama dan Ayah hebat. Jago membuat cerita bagus."


"Ya iyalah. Kan cita-cita Ica nanti mau jadi penulis kayak Mama. Iya kan Ma?"


Rossa yang mendengar dari dapur menyahut sembari mengaduk-aduk mie di mangkuk. "Mama bukan penulis Ca. Mama itu editornya para penulis yang mau bukunya diterbitin. Tapi kalo kamu mau jadi penulis sih gak apa-apa. Itu bagus. Nanti bisa terkenal kayak..., J.K. Rowling, Stephen King, Buya Hamka. Nanti juga bisa Mama yang bantuin editin novel Ica."


Tiga mangkuk mie instan sudah tiba di hadapan mereka. Rossa langsung membagikan dan terlibat lebih lanjut dalam diskusi Fadlan dan Raisa. "Makanya, belajarnya yang rajin. Bahasa Indonesia dibagusin terutama," ucapnya kemudian merapikan tali dasi Raisa yang miring.


Rossa dan Fadlan menyantap hidangan hangat-hangat beda dengan Raisa yang memilih bertanya dahulu kepada sang ayah. "Kenapa Ayah gak kerja di penerbit buku kayak Mama?"


Pemuda yang usia lebih tua dua tahun dari Rossa sejenak meunda makannya. "Mama kamu tuh pinter di sekolah dulu. Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Kimia. Yang orang-orang lain termasuk Ayah gak bisa dia bisa. Ayah gak jago Bahasa Indonesia. Mama juga jago bikin puisi. Nanti minta tolong Mama buatin kalo ada tugas buat di sekolah. Pasti nilainya 100."


Rossa sempat melirik Fadlan sambil tersenyum manis sebelum suapan selanjutnya masuk ke rongga mulut. Raisa menantang sang mama atas bocoran yang Fadlan berikan tadi. "Nanti bantu Ica buatin pas ada tugasnya."


"Iya." Rossa mengangguk siap.


Fadlam mengantar Raisa dan Rossa dengan motor Vega ZR keluaran 2010 yang Fadlan beli dari marketplace Facebook empat tahun lalu. Dengan atribut lengkap, mereka meninggalkan dan membiarkan rumah dengan ukuran 10x10 tiap harinya kosong di tengah padatnya perkampungan. Jarak ke sekolah sekitar 1,5 KM. Jadi butuh sepuluh menit buat Raisa tiba di gerbang sekolah dalam kondisi jalan yang lancar.


"Ayah, nanti bawain Ica coklat kalo Raisa dapat 100 PR-nya. Ayah kan gajian sekarang. Janji?" ucap Raisa setelah turun dari motor.


"Iya. Tahu aja Ayah entar gajian. Tapi kalo PR-nya 100. Kalo kurang satu aja, gak jadi cokelatnya," kata Fadlan membuka kaca helm.


Raisa bukan kebanyakan anak-anak lain yang ditantang balik malah cemberut justru menerima itu dengan semangat. "Oke! Aku masuk dulu. Semangat kerjanya Ayah, Mama supaya bisa beli rumah baru yang keren dan bagus."


Raisa dan Fadlan kompak mengaminkan doa sang anak. "AMIN."


"Dah, masuk. Ayah sama Mama berangkat," ucap lelaki kurus bertinggi 174 cm. Beda 15 cm dari istrinya.


"Jaga diri yah Nak. Nanti Bu Chika jemput kamu siang. Jangan lupa ganti pakaian sepulang sekolah," sambung Rossa mengelus-elus rambut Raisa.


"Siap. Bye Ayah, Mama." Raisa masuk ke dalam sekolah kemudian Fadlan melanjutkan perjalanan mengantar istri ke tempat kerja. Di perjalanan tiba-tiba ban depan motor mengalami bocor ban sehingga terpaksa berhenti ke tempat tambal ban terdekat.


Rossa minta jajan kue pancong tak jauh dari mereka duduk menunggu ban motor ditambal. Fadlan membelikan satu cup seharga Rp.10.000. Mereka makan berdua, suap-suapan seperti remaja pacaran. Mereka menikah diusia enam belas dan delapan belas. Lebih tepatnya setelah lulus SMA. Fadlan langsung diajak teman bekerja di gudang sparepart mobil-mobil pabrikan Asia sampai sekarang. Sayangnya ia sudah pindah keluar kota mengikuti istri yang pindah tempat dinas sedangkan Rossa melanjutkan kuliah sastra Bahasa Indonesia setelah melahirkan Raisa demi bisa kerja di tempat bagus walaupun ujung-ujungnya sang ayah yang merekomendasikan masuk di perusahaan penerbit buku bekas tempatnya sebagai direksi selama beberapa puluh tahun.


"Tahun ini goals kita dua loh Yank. Rumah baru sama aku mau anak kedua. Secara tabungan kamu tinggal dikit lagi nyampe target. Aku juga bantuin setengahnya dari tabungan aku. Ini udah mau masuk musim hujan. Seharian aja hujan deras gak berhenti-henti, habis kebanjiran kayak bulan-bulan lalu. Naik-naikin barang ke atas. Ica sekolahnya jadi keganggu. Kita kerjanya keganggu juga yang pada akhirnya potong gaji. Kamu tahu kan bos aku dan kamu hitung-hitungan mateng banget sama duit. Kalo bukan karena Ayah, aku udah pindah kerja ke penerbit lain. Tapi begitu kamu suka cerita nyari kerja susah. Gak jadi," gerutu Rossa.


Lihat selengkapnya