Suara adzan subuh masuk dari jendela kamar, berusaha membangunkan pasangan suami-istri muda dan seorang anak perempuan berumur tujuh tahun yang tertidur lelap di tengah mereka berdua. Rossa terbangun pada pandangan kunang-kunang kemudian dengan hati-hati tangannya menyeberangi wajah cantik bidadari kecil itu lalu menepuk pelan pipi manis suaminya sampai terbangun.
"Sayang, sayang," ucap Rossa dengan nada sedikit sengau.
Matanya terbuka perlahan dan mengarah langsung ke wajah Rossa yang kepalanya terangkat mengambang. "Udah subuh?" tanyanya setengah sadar.
"Ayo. Entar Ica keburu bangun mau sekolah," ajak perempuan dua puluh tiga tahun sungguh tak sabaran.
Fadlan beranjak dari ranjang, mencari kemejanya untuk dikenakan disusul Rossa menguncir rambut panjang yang dihiasi poni jarang terurai rapi kemudian tak lupa menggunakan kaosnya kembali. Mereka keluar bergiliran dari kamar kecil berukuran 2 X 3 meter, meninggalkan Raisa (nama asli Ica) yang masih di mimpi indahnya.
Sinar matahari masuk menyorot ke sela-sela ventilasi rumah sekadar menghangatkan pagi Rossa dan Fadlan yang sudah rapi dengan pakaian kerja masing-masing juga Raisa yang mengenakan seragam merah putih bersih dan lengkap. Sambil menunggu Rossa selesai masak mie instan, di meja makan sana Fadlan sempatkan mengajak bicara dan bercanda ria gadis kecil yang paras cantiknya menyerupai sang mama.
"Tugas Bahasa Indonesia sudah selesai Ica?"
"Sudah Yah. Nanti Ica bakal bacain ceritanya di depan teman-teman. Pasti bagus ceritanya tentang Ayah sama Mama dan Ica sendiri," balas Raisa antusias.
Fadlan melontarkan senyum bahagia. "Pasti! Anak Mama dan Ayah hebat. Jago membuat cerita bagus."
"Ya iyalah. Kan cita-cita Ica nanti mau jadi penulis kayak Mama. Iya kan Ma?"
Suara Raisa yang terdengar sampai dapur dibalas Rossa sembari mengaduk-aduk mie instan yang menggolak manja dari dalam wajan. "Mama bukan penulis Ca. Mama itu editornya para penulis yang mau ceritanya diterbitkan. Tapi kalo kamu mau jadi penulis sih gak apa-apa. Itu bagus. Nanti bisa terkenal kayak J.K. Rowling yang bikin cerita Harry Potter yang kemarin malam kamu sama Mama baca di kamar. Nanti Mama deh yang bantu editin novel Ica juga."
Tiga mangkuk mie sudah tiba di hadapan mereka. Rossa langsung membagikan dan terlibat lebih lanjut dalam diskusi antara ayah dan anak. "Makanya, belajarnya yang rajin. Bahasa Indonesia dibagusin terutama," ucapnya kemudian merapikan tali dasinya yang sedikit miring.
Mereka segera menyantap hidangan sejuta umat itu hangat-hangat berbeda dengan Raisa yang masih bertanya penuh rasa penasaran kepada ayahnya. "Kenapa Ayah gak kerja di penerbit buku kayak Mama?"
Pemuda yang lebih tua dua tahun dari Rossa sejenak menunda sarapannya demi melandeni si buah hati yang rasa ingin tahunya besar. "Mama kamu tuh pinter di sekolah dulu. Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, matematika. Yang orang-orang lain termasuk Ayah gak bisa, dia bisa. Mama juga jago bikin puisi. Nanti minta tolong buatin kalo ada tugas buat di sekolah. Pasti dapat 100."
Mata sang istri sempat melirik Fadlan sambil tersenyum manis sebelum suapan selanjutnya masuk ke rongga mulut. Raisa kini gantian menantang sang mama atas bocoran besar yang sengaja Fadlan beberkan. "Nanti bantuin Ica pas ada tugasnya yah?"
"Iya." Rossa mengangguk siap.
*****
Segera Fadlan mengantar anak-istrinya menggunakan motor bebek jadul keluaran tahun 2009 yang dibeli bekas dari grup marketplace Facebook empat tahun lalu. Dengan atribut lengkap, mereka meninggalkan dan membiarkan rumah dengan ukuran 10 X 10 hampir tiap hari kosong di tengah padatnya perkampungan kota. Jarak ke sekolah sekitar 1,5 KM. Jadi butuh perkiraan sepuluh menit buat Raisa tiba di gerbang sekolah dalam kondisi jalan yang lancar.
"Ayah, nanti bawain Ica coklat kalo dapat 100 PR-nya. Ayah kan gajian sekarang. Janji?" ucap Raisa setelah turun dari motornya.
"Iya. Tahu aja Ayah entar gajian. Tapi kalo PR-nya 100. Kalo kurang satu aja, gak jadi cokelatnya," kata Fadlan membuka kaca helm.
Dia bukan kebanyakan anak-anak lain yang ditantang balik malah cemberut. Anak itu justru berani hadapi dengan penuh rasa percaya diri. "Oke! Aku masuk dulu. Semangat kerjanya Ayah, Mama supaya bisa beli rumah baru yang keren dan bagus."
Mereka berdua kompak mengaminkan doa sang anak. "AMIN."
"Udah, masuk. Ayah sama Mama berangkat," ucap lelaki kurus bertinggi 174 cm. Lebih tinggi 10 cm dari istrinya.
"Jaga diri yah Nak. Nanti Bu Chika jemput kamu siang. Jangan lupa ganti pakaian sepulang sekolah," sambung Rossa sempatkan mengelus-elus rambut pendek sebahu milik putri kesayangannya.
"Siap. Bye Ayah, Mama." Raisa masuk ke dalam sekolah kemudian Fadlan melanjutkan mengantar istrinya ke tempat kerja. Di tengah perjalanan tiba-tiba ban depan motor mengalami bocor halus sehingga terpaksa berhenti ke tempat tambal ban terdekat.
Rossa sempatkan minta jajan kue pancong tak jauh dari mereka duduk menunggu ban motornya selesai diperbaiki. Fadlan membelikan satu cup plastik seharga Rp.10.000 lalu makan berdua, suap-suapan seperti remaja sekolah pacaran. Mereka sendiri menikah di usia tujuh belas dan delapan belas atau tepatnya setelah lulus SMA. Selang beberapa hari Fadlan langsung diajak teman dekatnya bekerja di gudang sparepart mobil-mobil pabrikan Asia sampai sekarang.
Sayangnya, temannya malah pindah keluar kota setelah tiga tahun bersama demi mengikuti istri yang pindah tempat dinas, sedangkan Rossa melanjutkan kuliah sastra Bahasa Indonesia di kampus swasta ternama setelah melahirkan anak pertama demi bisa kerja di tempat bagus walaupun ujung-ujungnya sang ayah yang merekomendasikan masuk di perusahaan penerbit buku bekas tempatnya sebagai direksi selama beberapa puluh tahun.
"Tahun ini goals kita dua loh Sayang. Rumah baru sama aku mau anak kedua. Secara, tabungan kamu dari tahun pertama kerja tinggal dikit lagi nyampe target. Aku juga bantuin setengahnya dari tabungan aku kok. Masalahnya, ini udah mau masuk musim hujan lagi. Dua hari aja hujan deras gak berhenti-henti, habis kebanjiran kayak waktu-waktu lalu. Naik-naikin barang ke atas, Ica sekolahnya jadi keganggu. Kita kerjanya pun keganggu juga yang pada akhirnya potong gaji. Kamu tahu kan bos aku dan kamu hitung-hitungannya mateng banget sama duit. Kalo bukan karena Ayah, aku udah pindah kerja ke penerbit lain tapi begitu kamu suka cerita nyari kerja susah, yah gak jadi," gerutu Rossa.
"Sabarin aja. Nanti ayah kamu kecewa. Lagian mau ada pengalaman berapa puluh tahun, kamu gak bisa plok langsung dapet kerja. Makanya aku awet dari setelah kita nikah sampai sekarang di gudang walaupun jabatanku gak naik-naik. Gini Sayang, aku bakal maksimalin bisa mewujudkan keduanya. Kalo gak nyampe, paling salah satunya. Aku berusaha gak mau buat kamu kecewa dan sebisa mungkin, aku bakal bangun keluarga ini bahagia pelan-pelan. Percaya yah." Tangan sang istri dia genggam erat sambil pupil hitamnya memandang penuh perasaan.
Rossa malah menunduk seakan malu menerima pernyataan dan janji suaminya. "Harusnya aku gak buat kamu kecewa di awal. Gak ngerepotin kamu juga. Tapi, apapun yang kamu kerjakan untuk keluarga mungil ini, aku percaya sepenuhnya. Jangan takut cintaku." Tak butuh lama buat ia kembali menunjukkan senyum menawannya.