⚠️ Part ini mengandung adegan yang tidak pantas untuk diperlihatkan kepada anak dibawah umur dan masalah dengan kesehatan mental. Terima kasih.
Dua kontainer besar datang lagi pagi-pagi ke gudang, bertepatan dengan hujan turun deras sehingga Fadlan dan beberapa kawannya harus bekerja lebih keras lagi mengeluarkan ratusan kotak piringan rem mobil secara manual ke dalam gudang belakang yang masih kosong dikarenakan forklift yang biasa digunakan operasional mengalami rusak mesin. Barang semua terbuat dari besi cor ( logam cair ) yang padat dan berat serta mudah karat jika terkena basah dan suhu lembab.
Salah satu teman Fadlan mengalami kecelakaan kerja di dalam kontainer. Suara gemuruh besar timbul akibat tumpukan tinggi piringan rem yang menimpa tubuh rekannya hingga terkubur. Fadlan yang sedang izin buang air kecil bergegas keluar, membantu mereka menyingkirkan benda-benda tersebut dan korban keluar dari dalam kontainer.
Kepala Gudang yang punya tanggung jawab atas semua kegiatan gudang stres mendadak. Ia harus melaporkan kepada bos utama di kantor pusat mengenai insiden yang memakan korban. Fadlan mendapat perintah dari Kepala Gudang membawa korban tak sadarkan diri akibat luka berat dibagian kepala ke rumah sakit menggunakan mobil boks dibantu dua temannya. Tapi disayangkan, nyawanya tidak bisa terselamatkan.
"Pak. Juhaidy meninggal. Kata dokter pendarahan banyak. Kata dokter juga udah meninggal sebelum masuk IGD." Fadlan melaporkan pada Kepala Gudang.
Kepala Gudang semakin terpukul. Suaranya yang lemas bisa ditandakan ia bersalah akibat lalai dalam menjaga karyawannya. "Astaghfirullah Ya Tuhan." Hening sejenak. "Ok, gue kasih tau atasan. Terima kasih."
Kabar menyebar cepat ke beberapa blok komplek gudang lainnya bahkan sampai ke kantor properti yang bekerja sama dalam menyewakan gudang ke perusahaan tempat Fadlan bekerja. Setelah istirahat makan, bos utama dan pemilik properti mengadakan rapat dadakan didampingi salah satu keluarga korban, saksi dan tentunya Kepala Gudang.
Pekerjaan terbengkalai sampai menjelang sore. Fadlan dan yang lainnya hanya bisa berduka sampai akhirnya bos utama dan Kepala Gudang memanggil para karyawan berkumpul untuk menyampaikan informasi penting.
"Perihal kejadian yang menimpa saudara kita tadi pagi. Pekerjaan untuk besok ditiadakan dulu demi keselamatan pekerja lainnya dan kami menyelesaikan masalah ini secepat mungkin. Nanti lusa, gudang beroperasi seperti biasa. Sekarang kalian bisa pulang lebih cepat dari biasanya. Terima kasih. Selamat sore," ucap bos utama sedangkan Kepala Gudang hanya diam menyimak. Fadlan tahu kondisi raut wajah yang dipikirnya sedang terancam. Ia turut prihatin karena sudah kenal lama bahkan sebelum pulang, dirinya sempat menemui dengan tujuan menyemangati mentalnya. "Sabar Pak. Ini juga kelalaian dia juga gak bisa safety. Bapak gak sepenuhnya salah."
"Iya Dlan, makasih. Gue pamit dulu," kata Kepala Gudang melajukan motornya meninggalkan Fadlan seorang diri.
*****
Cuaca malam sangat dingin pasca hujan besar yang turun sejak pagi. Kumpul-kumpul keluarga pun jadi lebih hangat sambil bercerita tentang apa yang terjadi seharian tadi. Kipas angin dinding harus berhenti berputar sekaligus hemat listrik ditambah menu makan malam lebih mewah karena Rossa juga sudah gajian. Ia sempat meminta suami tercinta menemani ke KFC dekat tempat kerjanya—membeli ayam goreng paket ember yang harganya lumayan demi membuat putri tercinta terkejut bahagia.
Ia lahap penuh semangat bahkan dua paha bawah sudah dijaga-jaga di pinggir piring padahal jumlah ayam di ember masih cukup banyak. Dia sangat menjaga apik makanan kesukaannya itu supaya tidak diambil orang lain. Rossa dan Fadlan pun hanya tersenyum melihat tingkah anaknya yang berhasil menghibur.
"Makan yang banyak Nak supaya Ica banyak gizinya dan pintar kayak Mama," tutur halus Fadlan disela makan.
Jempolnya yang berminyak dia tunjukkan sambil mengunyah nyaman tanpa bicara.
"Aku izin libur aja kali yah besok. Di tahun ini aku belum ada izin libur loh. Ini sudah november. Lagian kantor lagi gak ada kesibukan yang membludak banget. Masih dikategori santai," jabar Rossa menyepelekan.
"Bener juga. Sayang tahu jatah cuti kamu. Kamu terlalu rajin kerja. Sekali-kali jadi karyawan malas kayak Mbak Dinda. Gajinya sama-sama juga toh rajin dan gak rajin. Bonus gede paling pas THR doang," hasut Fadlan yang membuat Rossa tergiur rayuannya.
"Oke. Aku libur."
"Kalo aku Ma, Ayah?" sambar Raisa.