Wallpaper

Rizky Brawijaya
Chapter #2

Tumbal Para Babu

Dua kontainer besar lagi datang pagi-pagi hujan deras ke gudang tempat Fadlan kerja sehingga dia dan beberapa kawannya harus berkerja lebih keras lagi mengeluarkan ratusan kotak piringan rem mobil secara manual ke dalam gudang belakang yang kosong dikarenakan forklift yang biasa digunakan operasional mengalami rusak mesin. Barang semua terbuat dari besi berat yang mudah terkena karat jika terkena basah dan lembab.


Salah satu teman Fadlan mengalami kecelakaan kerja di dalam kontainer. Suara gemuruh yang menggema timbul yang disangka orang suara petir namun ternyata itu suara diakibatkan tumpukan tinggi piringan rem yang menimpa tubuh rekannya hingga terkubur. Sontak pekerjaan ditunda. Fadlan yang izin buang air kecil bergegas keluar membantu mereka menyingkirkan benda-benda tersebut dan korban keluar kontainer.


Kepala gudang yang punya tanggung jawab atas semua kegiatan gudang stres mendadak. Ia harus melaporkan kepada pimpinan utama di kantor pusat mengenai insiden yang memakan korban. Fadlan mendapat perintah dari Kepala Gudang membawa korban tak sadarkan diri juga luka berat dibagian kepala ke rumah sakit menggunakan mobil boks dibantu dua temannya. Tapi disayangkan nyawanya tidak bisa diselamatkan setelah tiba di rumah sakit akibat pendarahan hebat.


"Bos. Juhaidy meninggal. Kata dokter pendarahan banyak. Dia meninggal di IGD." Fadlan melaporkan pada Kepala Gudang.


Kepala Gudang semakin terpukul. Suaranya yang lemas bisa ditandakan ia bersalah akibat lalai dalam menjaga karyawannya. "Astaghfirullah Ya Tuhan." Hening sejenak. "Ok, saya akan laporkan ke atasan. Terima kasih."


Kabar menyebar cepat ke beberapa blok komplek gudang lainnya bahkan sampai ke kantor properti yang bekerja sama dalam menyewakan gudang ke perusahaan tempat Fadlan bekerja. Setelah istirahat makan, pimpinan utama dan pemilik properti mengadakan rapat dadakan didampingi salah satu keluarga korban, saksi dan tentunya Kepala Gudang. Akhirnya pekerjaan terbengkalai sampai menjelang sore. Fadlan dan yang lainnya hanya bisa berduka. Akhirnya bos utama dan Kepala Gudang memanggil para karyawan berkumpul untuk menyampaikan informasi penting.


"Perihal kejadian yang menimpa saudara kita tadi pagi. Pekerjaan untuk besok ditiadakan dulu demi keselamatan pekerja lainnya dan kami menyelesaikan masalah ini secepat mungkin. Nanti lusa, gudang beroperasi seperti biasa. Sekarang kalian bisa pulang lebih cepat dari biasanya. Terima kasih. Selamat sore," ucap bos utama sedangkan Kepala Gudang hanya diam menyimak. Fadlan tahu kondisi raut wajah yang dipikirnya sedang terancam.


*****


Cuaca malam sangat dingin pasca hujan besar dari pagi. Kumpul-kumpul keluarga pun jadi lebih hangat sambil bercerita tentang apa yang terjadi seharian tadi. Kipas angin dinding harus berhenti berputar sekaligus hemat listrik. Menu makan malam lebih mewah karena Rossa juga sudah gajian. Sepulang kerja tadi Fadlan menemani Rossa mampir ke KFC, membeli ayam goreng paket ember yang harganya lumayan. Ia sengaja mengeluarkan uang lebih demi membuat Raisa terkejut.



Raisa makan dengan semangat. Dua paha bawah sudah ia jaga-jaga di pinggir piring padahal jumlah ayam masih banyak. Dia sangat menjaga apik makanan kesukaannya supaya tidak diambil orang lain. Rossa dan Fadlan hanya tersenyum melihat tingkah anaknya yang menghibur.


"Makan yang banyak Nak supaya Ica banyak gizinya dan pintar kayak Mama," tutur halus Fadlan disela makan.


Raisa mengacungkan jempolnya yang berminyak sambil mengunyah nyaman tanpa bicara.


"Aku ijin libur aja kali yah besok. Di tahun ini aku belum ada izin libur loh. Ini sudah november. Lagian kantor lagi gak ada kesibukan yang membludak. Masih dikategori santai," jabar Rossa menyepelekan.


"Bener juga. Sayang tahu jatah cuti kamu. Kamu terlalu rajin kerja. Sekali-kali jadi karyawan malas kayak Mbak Dinda. Gajinya sama-sama juga toh rajin dan gak rajin. Bonus gede paling pas THR doang," hasut Fadlan yang membuat Rossa tergiur rayuannya.


"Oke. Aku libur."


"Kalo aku Ma, Ayah?" sambar Raisa.


"Kalo kamu jangan libur kecuali hari libur, sakit dan bencana besar. Kamu aset Mama dan Ayah yang harus jadi manusia berguna. Nanti ada waktunya kamu boleh bermalas-malasan. Ok," terang Fadlan.


Raisa tersenyum singkat. "Ok."


Lihat selengkapnya