Wallpaper

Rizky Brawijaya
Chapter #3

Trauma Elit Si Kuli Kasar


Dinda dan Rossa memanfaatkan waktu makan siang di restoran khas Iran yang baru buka tepat di belakang gedung tempat mereka bekerja sekaligus memanfaatkan diskon 30% pada menu utama mereka. Meski lagi banyak uang di dompet masing-masing tapi perempuan mana yang tidak tergiur perihal promo. Hanya orang gila dan tajir yang tidak butuh itu. Mereka yang masih kategori kuli ( bahasa kasar dari karyawan) tetap butuh namanya voucher promo.


Dua piring nasi biryani dan empat potong sate kubide saus pedas serta dua gelas saparila sudah berada di hadapan mereka. Dinda yang sudah lapar, gerak cepat mengambil sendok dan mencoba suapan pertama. Ekspresinya berubah senang seperti bocah dapat balon Mc Donald's. "Enak banget Ros. Lo buruan coba. Mumpung masih hangat."


Rossa sebentar melihat ekspresi riang Dinda. Ia pun penasaran apa yang disuruh teman sekantornya itu. "Enak. Enak banget," serunya sambil mengunyah. "Ini senang bukan soal promo kan?


Ia berusaha menahan tawa di tengah kesibukannya mengunyah. "Eng...gak! Ros. Ini beneran enak." Tiba-tiba ia juga memajukan wajahnya sedikit lalu berbisik pelan di depan Rossa. "Itu juga karena promo sih. Heheh. Udah makan yuk. Habisin."



Ponsel perempuan berponi jarang itu mendadak berdering kencang di tengah jamuan yang membuat makan enaknya tertunda sejenak. Ia langsung menyambut suara suaminya yang gemetar gelisah yang seketika menggemparkan perasaan Rossa. "Kamu kenapa Sayang? Suaranya kayak habis lari-larian. Video call, aku penasaran."


Sang suami langsung mengalihkan ke panggilan video. Wajahnya terlihat ketakutan seperti melihat iblis disiang bolong. Latar belakang padatnya kendaraan di jalan raya, menambah kecurigaan istrinya. "Tuh kamu pake helm mau kemana? Makan di luar?"


"Aku pulang. Kantor suruh pulang semua karyawan di gudang." Fadlan masih gemetar menjawab pertanyaan Rossa.


Kulit kening Rossa mengerut heran. "Kok pulang terus? Ada masalah lagi? Ada apa sih?"


Fadlan menarik nafas dalam-dalam, berusaha tenangkan diri dari kepanikan yang perlahan menjegal. "Ada yang mati lagi. Gini aja, nanti aku ceritain pas kamu udah pulang. Aku mau cepat sampai rumah."


"Hati-hati Ayah. Jangan ngebut-ngebut." Panggilan selesai tapi rasa menghantui masih berenang-renang dipikiran Rossa. Ia melamun menatap makanan yang sudah hilang rasa nikmatnya. Dinda yang dari tadi menyimak berusaha menyadarkan. "Ros? Ada apa sama laki lo? Ros, jangan bengong!"


"Astaga. Sorry Mbak." Rossa terperanjat.


"Laki lo kenapa? Sampai lo ikutan gelisah gitu?"


"Kantornya ada masalah lagi. Jadi suruh pada pulang karyawan-karyawannya," ungkap Rossa lemas.

Lihat selengkapnya