Dinda dan Rossa memanfaatkan waktu makan siang di restoran khas Iran yang baru buka tepat di belakang gedung sekaligus memanfaatkan diskon 30% pada menu utama mereka. Meski lagi banyak uang di dompet masing-masing tapi wanita mana yang tidak tergiur perihal promo. Hanya orang gila dan tajir yang tidak butuh itu. Mereka yang masih kategori kuli tetap butuh namanya voucher promo.
Dua piring nasi biryani dan empat potong sate kubide saus pedas serta dua gelas sarparila sudah berada di hadapan mereka. Dinda yang sudah lapar gerak cepat mengambil sendok dan mencoba suapan pertama. Ekspresinya berubah senang seperti bocah dapat balon Mc Donald's. "Enak banget Ros. Lo buruan coba. Mumpung masih hangat."
Rossa sebentar melihat ekspresi riang Dinda. Ia penasaran apa yang disuruh teman sekantornya itu. "Enak. Enak banget," seru Rossa sambil mengunyah. "Ini senang bukan soal promo kan?
Dinda berusaha menahan tawa ditengah kesibukannya mengunyah. "Eng...gak! Ini beneran enak." Tiba-tiba ia memajukan wajahnya sedikit lalu berbisik pelan di depan Rossa. "Itu juga karena promo sih. Heheh. Udah makan yuk. Habisin."
Fadlan menelepon Rossa di tengah jamuan. Ia menunda makannya dan langsung menyambut suara suami yang gemetar gelisah seketika menggemparkan perasaan Rossa. "Kamu kenapa Yank? Suaranya kayak habis lari-larian. Video call, aku penasaran."
Fadlan langsung mengalihkan ke panggilan video. Wajahnya terlihat ketakutan seperti melihat iblis disiang bolong. Latar belakang jalan raya menambah kecurigaan Rossa. "Tuh kamu pake helm mau kemana? Makan diluar?"
"Aku pulang. Kantor suruh pulang semua karyawan di gudang." Fadlan masih gemetar menjawab pertanyaan Rossa.
Kulit kening Rossa mengkerut. "Kok pulang terus? Ada masalah lagi? Ada apa sih?"
Fadlan menarik nafas dalam-dalam. Ia berusaha tenangkan dirinya dan Rossa. "Ada yang mati lagi. Gini aja, nanti aku ceritain pas kamu udah pulang. Aku mau cepat sampai rumah."
"Hati-hati Ayah. Jangan ngebut-ngebut." Panggilan selesai tapi rasa menghantui masih berenang-renang di pikiran Rossa. Ia melamun menatap makanan yang sudah hilang rasa nikmatnya. Dinda yang daritadi menyimak berusaha menyadarkan. "Ros? Ada apa sama laki lo? Ros, jangan bengong!"
"Astaga. Sorry Mbak." Rossa terperanjat.
"Laki lo kenapa? Sampai lo ikutan gelisah gitu Mbak?"
"Kantornya ada masalah lagi. Jadi suruh pada pulang karyawan-karyawannya," ungkap Rossa lemas.