Wallpaper

Rizky Brawijaya
Chapter #4

Berusaha Jadi Suami Siaga

Rossa menganggap Fadlan belum sehat sepenuhnya. Sehabis tidur yang biasanya aktif beraktivitas kali ini kebanyak melamun lama sambil menatap foto pernikahan yang tertera di dinding kamar. Mau tak mau Rossa menyadarkannya. Ia inisitif menghibur suami dengan mengajak jalan-jalan dihari sabtu ke sebuah taman bersama Raisa yang libur sekolah.


Raisa sungguh menikmati fasilitas permainan yang tersedia seperti ayunan dan seluncuran sendirian, membiarkan kedua orangtuanya menikmati romantika di bawah teduhnya pohon beringin yang daun serta bebatangannya bergoyang disentuh angin pagi cerah. Dimomen itulah sang istri melakukan terapi psikologi dengan rayuan romantis ala anak sastra bahasa. Dia sandarkan kepalanya di pundak Fadlan dan genggam erat tangan kirinya yang terselimut sarung tangan kain.


"Ada gadis malang yang kasihnya bersabung dalam hati. Di pojok ruang dunia, menanti sosok anak adam yang dulu menanam janji di akar perasaan yang sekian hari tumbuh menjalar ke seluruh tulang dan nadi. Air matanya keruh, awan-awan baik yang menyaksikan mulai bersedih dan matahari takut bersembunyi di balik mendung. Bintang berpamitan, tak sudi hati menoleh berganti hujan yang menyerang tak tahu malu dari segala arah dan petir saling menghasut. Air matanya turun deras diiringi senyuman. Pangeran tak melihat dari ujung kejauhan sebab hujan bertindak jahat menyamarkan kesedihannya. Matanya hanya melihat sangka kebahagiaan dari lekuk bibir. Gadis itu kemudian berteriak keras namun petir sama jahatnya. Gelegar gelombang suara menyamarkan aduan menderita, seakan semua terlihat baik di mata pujangga. Dia hampir mati pasrah, mata birunya perlahan memadam dan jantungnya perlahan lemah digerogoti janji yang tak akan sampai. Namun, pelukan tiba-tiba menerobos dari belakang. Seluruh tubuh gadis seketika hangat. Petir dan hujan kabur mengembalikan awan baik dan bintang-bintang yang sudi menoleh. Air mata mengering, senyum semakin mekar saat suara gagah pujangga meminta maaf dan menepati janji yang hampir membunuh. Dia kembali. Walau matanya tertipu namun hati tak bisa ditipu. Cintanya mendorong untuk segera kembali sampai akhirnya mereka kembali penuh cinta. Selesai. Kamu cepet membaik dong. Gak tega lihat Raisa main sendirian."


Fadlan membalas dengan pelukan hangat tak peduli di ruang publik, disaksikan beberapa orang berseliweran. "Nanti aku juga sembuh," kata Fadlan. "Aku cinta kamu Ros," sambungnya membuat Rossa menoleh sejenak ke raut wajah Fadlan yang masih mampu tersenyum manis.


"Aku juga cinta kamu Fadlan," balas Rossa.


Tiba-tiba saja Raisa mengacaukan keharmonisan mereka dengan hal remeh. Bocah itu berteriak dari ayunan. "Mama, Ica mau berak."


Siang harinya turun hujan lebat. Ratu kesayangannya asik tidur nyaman di kamar tak terdistraksi siapa pun. Rossa segera mengangkat pakaian kerja Fadlan dan bra Rossa ke ranjang plastik kemudian langsung menyetrika di ruang tamu sekaligus menemani Fadlan terbaring di sofa sambil menonton sinetron.


Aksi jahilnya berhasil mengusik fokus Rossa. Jari-jari tangan membelai kepala belakang sang istri yang duduk memunggungi. Kepala Rossa sontak berkutik tak bisa diam karena rasa menggelitik. Itu kelemahan kecil Rossa yang suaminya tahu.


"Ayah, setrikaan panas. Entar tanganku kepeleset," tegur Rossa berusaha berontak manja.


"Gimana proyek kita Ros?" tanya Fadlan jarinya tetap membandel.


"Proyek bangunan. Emang aku mandor," cakap Rossa tetap menahan rasa geli sambil menggosok baju suami.


"Ikh..., Proyek tahun ini Ros. Masa kamu lupa." Fadlan menegaskan.


Rossa meledek sejenak. "Rumah? Kan masih proses nabung. Emang udah mau beli besok? Udah siap uangnya?"


"Kalo itu belum siap buat besok. Yang satunya lagi. Kalo itu aku siap sekarang bahkan dari kemarin-kemarin," cecar Fadlan terus berusaha keras mengingatkan istrinya.


Rossa mengumpatkan senyumnya. Ia akhirnya tahu maksud jorok sang suami. "Oh itu. Emang udah sembuh? Aku, kalo udah kerangsang, mainnya gak berhenti loh. Apalagi pas aku yang nguasain. Kalo kamu masih lemas nanti makin drop. Kalo pingsan gimana? Aku lagi yang repot gotong-gotong ke kamar. Kamu kasihan kan sama aku?" tolak Rossa sejenak menampilkan pemandangan indah dua bola matanya yang berbinar-binar. Fadlan langsung terhipnotis dengan kecantikannya dan memilih menyerah. "Fine! Aku kalah. Kamu terlalu cantik untuk ditaklukkan."


"Sabar yah Sayang. Nanti ada waktunya aku menjadikan kamu suami perkasa." Rossa mengelus-elus rambut Fadlan sedikit berantakan.

Lihat selengkapnya