Satu jam kemudian Fadlan mengecek lagi melalui anak tangga. Ia melihat keadaan lemari mainan Raisa terendam setengah, menandakan air naik dengan cepat. Biar lebih akurat, Fadlan menghitung ulang anak tangga juga mengalami pengurangan drastis. Ia kembali ke kamar untuk mengabarkan perkembangannya ke Rossa. "Air naik Ma. Duh, Mudah-mudahan deh stop di situ."
Istrinya menggigit-gigit kecup jempol tangannya. "Kita ngungsi aja Yah. Perasaanku gak enak. Aku khawatir sama Ica," ujarnya menoleh ke Raisa yang malah asyik main ponsel.
"Ke pengungsian lapangan gereja sana? Aku takut Ica gak betah. Lagi itu aja minta pulang gara-gara berisik. Akhirnya kita balik lagi ke rumah tengah malem. Atau..., gini aja deh Ros. Kita tunggu sampai besok pagi. Kalo airnya segitu-gitu aja, kita stay. Kalo gak, terpaksa ngungsi. Oke," tuturnya. "Kamu jangan khawatir gitu dong. Aku juga kebawa khawatir nanti. Sabarin aja ya. Ini lagi musibah." Dirinya berusaha menenangkan perasaan sang istri lalu memeluk tubuh terangnya sebagai simbol perlindungan diiringi instrumen piano menenangkan dari video TikTok yang tak sengaja anaknya buka.
*****
Kepulan asap hitam menjulang tinggi yang berasal dari kampung seberang. Di balik jendela kamar, sang anak bertanya dengan polosnya. "Siapa yang bakar sampah Ma pas banjir-banjir begini?"
Rossa menanggapi biasa saja tanpa mengalihkan matanya dari pandangan tersebut. "Itu bukan sampah lagi Ca tapi rumah mereka sendiri."
Ia sontak langsung memeluk mamanya ketakutan. Matanya enggan menoleh ke luar jendela lagi dan Rossa segera menutup dengan kain gorden yang membuat kamar menjadi sedikit gelap.
Setelah itu ibu dari Rossa melakukan panggilan video yang seketika langsung diangkat dibantu Raisa yang antusias akan kerinduan suara neneknya. "Iya Mama," sapa Rossa. "Nenek!" sambar Raisa kesenangan.
"Halo Ica, cucu Nenek. Kamu gak main-main ke rumah Nenek. Nenek kangen tahu," balasnya tak kalah antusias.
"Tapi di rumah lagi banjir Nek. Ica gak bisa main. Ica juga kangen sama Nenek juga Kakek."
"Kalo Nenek sama Kakek yang main ke sana gimana?" tawar sang nenek.
"Emang Nenek bisa berenang? Kakek juga?" tanya Raisa nada bicara ragu-ragu.
"Nenek bisa berenang loh. Nenek, mantan atlet renang waktu masih muda," tolaknya tak terima.
"Oke Nek. Ica tunggu yah. Bawa jajanan yang banyak! Ica gak bisa jajan nih soalnya warungnya pada kebanjiran juga." Raisa yang konsisten mempertahankan wajah riangnya.
"Siap ratu kesayangan Nenek. Sekarang Nenek boleh bicara dengan mamamu?" pinta sang nenek terasa ada yang penting.
Rossa inisiatif mengambil ponsel suaminya yang sengaja dititipkan di meja kecil dekat kipas angin lalu membiarkan Raisa bermain beberapa permainan ringan yang sengaja diunduh Fadlan. Kedua kakinya melangkah keluar kamar sekadar mencari udara segar dekat jemuran kosong sambil menikmati angin dan langit yang kebetulan sedang cerah sembari meneruskan panggilan video mamanya.
"Fadlan di mana Ros?"
"Fadlan lagi cari makan buat Ica sekalian buat malam nanti," jawab Rossa.
"Ros, nginep di rumah Mama aja ya? Mama lihat di tv lokasi kamu kayaknya gede banget banjirnya. Gak kayak bulan-bulan lalu. Udah gitu ada kebakaran lagi dekat sana. Mama khawatir Ros. Takutnya kamu kejebak gak bisa keluar. Bawa-bawa Ica lagi yang belum bisa berenang. Ajak suamimu."
Ia menggigit-gigit daging bibirnya sambil bolak-balik kebingungan. "Aku juga maunya gitu. Soalnya aku lihat dari balkon airnya gede. Tapi Rossa nanya Fadlan dulu yah. Rossa gak enak ambil keputusan tanpa izin dia Ma."