Hujan turun mendadak sehabis magrib membuat warga yang tengah berkerumun mengambil bantuan makanan dan pakaian berhamburan mencari tempat berteduh layaknya gerombolan semut disemprot tetesan minyak. Keberadaan Fadlan sekarang sedang asik makan bubur kacang hijau di balkon rumahnya. Bubur itu merupakan pemberian Bu Chika yang kebetulan datang tadi sore ke pengungsian sekaligus ngobrol panjang perihal Rossa dan Raisa. Bu Chika mengungsi di hotel dibiayai anak angkatnya di Kalimantan.
Selesai makan, ia bergegas ke kamar, berbaring di tengah kegelapan sembari melihat iklan-iklan rumah di laman Facebook juga melihat kesenjangan sosial antara masyarakat elit dan rakyat jelata.
Tiba-tiba istrinya melakukan panggilan video. Begitu diangkat ternyata Raisa yang menampilkan wajah riang. "Ayah! Ica lagi main sama Nenek."
Senyum di bibirnya perlahan merekah melihat anak semata wayang berada jauh darinya. "Iya Ica. Jangan tidur malam-malam yah. Kasihan Mama sama Nenek nemenin kamunya kemaleman."
"Iya Ayah. Mama lagi masak spaghetti sama salmon. Ayah udah makan belum?"
"Ayah udah makan barusan. Temani Mama gih. Mama takut kerepotan nanti."
"Iya, iya nanti Ica bantuin Mama."
"Udah dulu. Ayah lagi irit baterai supaya bisa telepon terus sama Ica."
"Iya Ayah. Ica matiin yah. Jangan sampai sakit lagi. Ica sayang Ayah banyak-banyak," tuturnya polos.
Fadlan menahan nafasnya sejenak. "Iya. Ayah sayang Ica juga. Dah."
Panggilan terputus. Matanya hanya memandang lama wallpaper sang istri yang sedang menangis sampai layarnya mati. Pikirnya kembali ke masa lalu ketika masih mengenakan seragam SMP dimana ibunya memberikan nasihat yang ia harus pegang teguh seumur hidupnya di tengah sarapan singkong.
"Nak, kalo Bapak sama Ibu udah gak ada, lo jangan sampai jual rumah ini apapun keadaannya. Ini harta kenangan Bapak sama Ibu semasa muda. Kita hidup bareng di sini. Atap ini nih, saksi kita makan asam garam tiap hari sampai Bapak bisa buka usaha nasi uduk dan biayai lo sekolah. Walaupun nanti lo ilang jauh kemana gitu, jangan ilangin rumah Bapak sama Ibu. Udah, Bapak sama Ibu mah minta itu aja."
Bocah tengik yang saat itu masih menganggap remeh dan enteng ucapan mereka hanya mengangguk sembari mengangkat jempolnya sebab pikiran sudah yakin bahwa di masa depan, dia bisa jadi orang kaya juga sukses di kota metropolitan Jakarta ini setelah lulus sekolah.
Tapi nyatanya….
PRANKKKK!!!!
"Eh bencong!" Fadlan kaget begitu dengar sesuatu yang jatuh dari arah luar. Ia bangkit lalu mengecek keadaan yang ternyata seekor kucing kampung habis menjatuhkan kaleng biskuit besar kosong yang suaranya bikin satu RT ketar-ketir. Ia menutup lagi pintu luar, kembali ke kamar mencoba tinggal tidur sampai pagi.