Wallpaper

Rizky Brawijaya
Chapter #6

Perihal Kesenjangan Antara Dua Laki-laki.

Hujan turun mendadak sehabis magrib membuat warga yang tengah berkerumun mengambil bantuan makanan dan pakaian berhamburan mencari tempat berteduh layaknya gerombolan semut disemprot tetesan minyak. Keberadaan Fadlan sekarang sedang asik makan bubur kacang di balkon rumahnya. Bubur itu merupakan pemberian Bu Chika yang kebetulan datang tadi sore ke pengungsian sekaligus ngobrol panjang perihal Rossa dan Ica.

Bu Chika mengungsi di hotel dibiayai anak angkatnya di Kalimantan. Selesai makan, ia bergegas ke kamar, berbaring di tengah kegelapan sembari melihat iklan-iklan rumah di marketplace Facebook juga melihat kesenjangan sosial antara masyarakat elit dan rakyat jelata.


Tiba-tiba Rossa melakukan panggilan video. Begitu diangkat ternyata Raisa yang menampilkan wajah riangnya. "Ayah! Ica lagi main sama Nenek."


Senyum Fadlan perlahan merekah melihat anak semata wayangnya berada jauh darinya. "Iya Ica. Jangan tidur malam-malam yah. Kasihan Mama sama Nenek nemenin kamunya kemaleman."


"Iya Ayah. Mama lagi masak spaghetti sama salmon. Ayah udah makan belum?"


"Ayah udah makan barusan. Temani Mama gih. Mama takut kerepotan nanti."


"Iya, iya nanti Ica bantuin Mama."


"Udah dulu. Ayah lagi irit baterai supaya bisa telepon terus sama Ica."


"Iya Ayah. Ica matiin yah. Jangan sampai sakit lagi. Ica sayang Ayah banyak-banyak," tutur Raisa polos.

Fadlan menahan nafasnya sejenak. "Iya. Ayah sayang Ica juga. Dah."

Panggilan terputus. Sisanya mata Fadlan hanya memandang lama wallpaper istrinya yang sedang menangis sampai layarnya mati. Pikirnya kembali ke masa lalu ketika masih mengenakan seragam SMP, ibunya memberikan nasihat yang ia harus pegang teguh seumur hidupnya ditengah sarapan singkong.

"Nak, kalo Bapak sama Ibu Lo udah gak ada. Lo jangan sampai jual rumah ini apapun keadaannye. Ini harta kenangan Bapak sama Ibu semasa muda. Kita hidup bareng di sini. Atap ini nih saksi kita makan asam garam setiap hari sampai Bapak bisa buka usaha nasi uduk dan biayai lo sekolah. Walaupun nanti lo ilangin jauh kemana gitu, jangan hilangkan rumah Bapak sama Ibu. Udah, Bapak sama Ibu minta itu saja."


Fadlan yang saat itu masih menganggap remeh dan enteng ucapan mereka hanya mengangguk sembari mengangkat jempolnya sebab pikiran sudah yakin bahwa dirinya bisa jadi orang kaya di kota metropolitan Jakarta ini saat lulus sekolah dan nyatanya...


PRANKKKK!!!!


"Ya Tuhan." Fadlan kaget begitu dengar sesuatu yang jatuh dari arah luar. Ia bangkit lalu mengecek keadaan yang ternyata seekor kucing habis menjatuhkan kaleng biskuit kosong yang suaranya bikin satu RT ketar-ketir. Fadlan menutup pintu luar, kembali ke kamar mencoba tinggal tidur sampai pagi.



Rossa menjamu sarapan bersama kedua orangtuanya dan Raisa. Beragam masakan mewah seperti ayam bakar kampung, sayur sup daging dan dadar telur omega hasil buatan pembantu yang sudah lama bekerja untuk di rumah. Saat yang lain hendak makan dengan lapar hanya Raisa yang sibuk memutar-mutar sendok sambil memikirkan ayahnya.


"Kamu gak makan nak? Nanti keburu dingin kurang enak loh," tegur Rossa lembut.


"Makan Nak. Biar tumbuh besar dan pintar kayak mamamu ini," lanjut kakeknya.


Lihat selengkapnya