Mata Rossa masih terbuka pekat meski badannya sudah berbaring di sebelah anaknya yang malah mendengkur pulas. Pandangan silih berganti, kadang melihat Raisa kemudian melihat suaminya yang tak sengaja terbangun dan langsung membalas pandangan dengan sedikit terkejut. "Astaga!"
"Mendusin Sayang?" ucap Rossa pelan sembari tersenyum.
"Kamu gak tidur?" Ia malah balik bertanya.
"Pikiranku lagi kacau. Gak tega aku ninggalin tidur. Jadi aku biarin pikiranku yang lain memperbaikinya sampai selesai. Sampai aku bisa tidur." Rossa melantur di jam kritis.
"Hah? Apa sih? Kamu mikirin ayah kamu?" tanya Fadlan sudah menebak pikiran istrinya.
Ia mengangguk. "Udah tujuh tahun ayahku membenci kamu, padahal aku udah jelasin bukan salah kamu. Mama aku aja mengerti dan menerima kamu setelah aku dan kamu bantu jelasin semuanya. Ya, walaupun masih ada satu hal yang aku belum berani sampaikan ke Ayah. Aku takut dia jatuh."
Fadlan merespon dengan senyuman. "Mungkin kamu masih butuh waktu. Biarin dia membenci aku tapi jangan sampai membenci kamu juga Ica. Suratnya masih dijaga mama kamu kan?"
"Masih. Ih, tapi sampai kapan sayangku! Aku belum ada waktu yang tepat buat nunjukin itu ke Ayah?" Ucapnya sedikit meninggikan suara sampai tubuh sang anak hampir terbangun.
"Sssst! Pelan-pelan aja marah-marahnya." Fadlan berusaha menenangkan.
"Ayah juga paksa aku pindah ke bekas rumah Opa tanpa ajak kamu," lanjut Rossa pasang muka bete.
"Terus kamu mau?" ucapnya meledek.
Rossa mengelak, "Ya enggak lah. Rumahku di sini. Rumahku itu kamu. Kalo aku pindah rumah tanpa kamu berarti itu bukan rumahku. Lagian aku juga senang kok main banjir-banjiran. Lumayan daripada ke Ancol mending ke Ciliwung."
"Serius? Waktu awal-awal ngerasain banjir, kamu histeris kayak orang ketemu dinosaurus. Liat kecoa berenang aja kamu langsung nginep di hotel sampai banjir selesai. Terus kemarin, di tenda pengungsian tumben-tumbenan mau meski Ica-nya yang gak mau."
Rossa berusaha membela diri dengan pengakuan yang cukup mengejutkan seorang Fadlan. "Aku belajar menerima apa yang aku harus terima termasuk mencintai kamu sebagai istri yang sampai sekarang masih proses belajar. Aku tahu pengorbanan kamu besar. Ngorbanin harga diri kamu yang diinjak orang tua aku meski sekali lagi, kamu tidak salah sepeserpun. Mengorbankan masa muda kamu yang mau kuliah tapi harus ditunda sampai sekarang karena lebih memilih menafkahi aku dan Ica. Bagaimana seandainya dulu aku seperti ayahku yang malah menyalahkan mu sedangkan kamu begitu sayang sama aku. Dari hal-hal kecil yang dekat sama kamu coba aku pelajari sampai aku terbiasa sampai sekarang. Sampai aku berani menentang argumen ayahku sendiri supaya nama baik kamu tetap terjaga di hati aku," tutur sang istri tulus dari hati.
Pemuda sawo matang itu terpukau dengan cara istrinya mengungkapkan perasaan. Mereka saling pandang sejenak membiarkan keheningan membantu meredakan pikiran Rossa yang masih cukup tegang hingga benar-benar dingin. "Ini alasan aku lebih mempertahankan kamu daripada masa muda aku."
Wajah kesal Rossa berubah menjadi senyum manis. Lesung pipinya begitu menawan. Semua pikiran rumit di kepalanya luntur seketika yang ditandakan dengan pejaman mata tanpa ucapan selamat malam. Fadlan tidak marah, justru bisa melanjutkan tidurnya yang sempat tertunda.
*****
Fadlan mengecek kondisi banjir dari tangga rumahnya yang menunjukkan penurunan drastis. Warga sekitar juga merasakan hal sama sampai di hari ke sembilan, banjir benar-benar surut menyisakan lumpur dan sampah-sampah yang kebanyakan limbah plastik makanan dan perabotan rumah tangga menghalangi jalan mereka. Pasutri muda ini bekerja keras lagi membersihkan area luar dan dalam rumah, lemari, sofa, meja dan kursi dari lumpur yang mengerak tebal serta terakhir membersihkan mainan Raisa dengan melibatkan anaknya sendiri. Kali ini Fadlan memberi kesempatan ia berani main kotor-kotoran bersama mamanya di teras rumah.
"Kenapa sih Ayah gak dari dulu biarin Ica bantuin Mama bersihin mainan Ica. Asik tahu sebenarnya. Apa Ayah gak boleh Ica ngerasain apa yang Ayah rasain pas beresin rumah?" cercanya sebal sembari memasukkan mainan yang sudah kering ke ember plastik besar.
Mamanya menambah kekesalan sang anak dengan meledeknya. "Tau gak! Ayah kamu senang banget main air. Apalagi banjir-banjiran. Karena dengan banjir-banjiran, dia bisa berenang dan dapat ikan seperti di pantai. Mama juga seneng waktu main banjir-banjiran sama Ayah. Duh, udah kayak waktu kecil deh."
Raisa memanyunkan bibirnya. Matanya menatap tajam dan tangannya seketika kaku. "Jahil banget sih Ayah. Pantesan Ica gak pernah diajarin berenang supaya gak bisa main banjir-banjiran. Sebel deh."