Wallpaper

Rizky Brawijaya
Chapter #7

Surut

Mata Rossa masih terbuka pekat meski badannya sudah berbaring di sebelah Raisa yang malah tertidur pulas. Pandangan silih berganti kadang melihat Raisa kemudian melihat suaminya yang tak sengaja terbangun dan langsung membalas pandangan dengan sedikit terkejut. "Astaga!"


"Mendusin Yank?" ucap Rossa pelan sembari tersenyum.


"Kamu gak tidur?" Fadlan malah balik bertanya.


"Pikiranku lagi kacau. Gak tega aku ninggalin tidur. Jadi aku biarin pikiranku memperbaiki sampai selesai. Sampai aku bisa tidur." Rossa melantur dijam kritis.


"Kamu mikirin ayah kamu?" tanya Fadlan sudah menebak pikiran Rossa.


Rossa mengangguk. "Udah 7 tahun ayahku membenci kamu padahal aku udah jelasin semua bukan salah kamu. Mama aku aja mulai mengerti dan menerima kamu setelah aku juga kamu bantu jelasin semuanya."


Fadlan merespon dengan senyuman. "Mungkin ayah kamu masih butuh waktu. Biarin dia membenci aku tapi jangan sampai membenci kamu juga Raisa."


"Tapi sampai kapan sayangku?" Rossa sedikit meninggalkan suara sampai Raisa hampir terbangun.


"Sssst! Pelan-pelan aja marah-marahnya," tutur Fadlan berusaha menenangkan.


"Ayah juga paksa aku pindah ke bekas rumah Kakek tanpa ajak kamu," lanjut Rossa.


"Terus kamu mau?" ucap Fadlan meledek.


Rossa mengelak, "Ya enggaklah. Rumahku di sini. Rumahku itu kamu. Kalo aku pindah rumah tanpa kamu berarti itu bukan rumahku. Lagian aku juga senang kok main banjir-banjir-an. Lumayan daripada ke Ancol mending ke Ciliwung."


"Serius? Waktu awal-awal ngerasain banjir kamu histeris kayak orang ketemu dinosaurus. Liat kecoa berenang kamu langsung nginep di hotel sampai banjir selesai. Terus kemarin di tenda pengungsian aja juga mau meski Raisa gak mau."


Rossa berusaha membela diri dengan pengakuan yang cukup mengejutkan seorang Fadlan. "Aku belajar menerima apa yang aku harus terima. Mencintai kamu juga masih proses belajar karena kamu begitu banyak pengorbanan. Ngorbanin harga diri kamu yang diinjak orangtua aku meski sekali lagi kamu tidak salah sepersenpun, ngorbanin masa muda kamu yang mau kuliah harus batal sampai sekarang buat memilih nafkahi aku dan Raisa. Bagiamana seandainya dulu aku seperti ayahku yang menyalahkanmu sedangkan kamu begitu sayang sama aku. Dari hal-hal kecil yang dekat sama kamu coba aku pelajari sampai aku terbiasa sampai sekarang. Sampai aku berani menentang argumen ayahku sendiri supaya nama baik kamu tetap terjaga di hati aku," parau Rossa tulus dari hati.


Fadlan terpukau dengan cara istrinya mengungkapkan perasaan. Mereka saling pandang sejenak membiarkan keheningan membantu menenangkan pikiran Rossa yang masih cukup tegang sampai benar-benar dingin.


"Ini alasan aku lebih mempertahankan kamu daripada masa muda aku."


Wajah sebal Rossa berubah menjadi senyum manis. Lesung pipinya begitu menawan membuyarkan semua pikiran rumit di kepala luntur seketika. Ia memejamkan mata tanpa ucapan selamat malam. Fadlan tidak marah malah justru bangga karena masalah di otaknya sudah hilang malam ini.



*****


Fadlan mengecek kondisi banjir dari tangga rumahnya yang menunjukkan penurunan drastis. Warga sekitar juga merasakan hal sama sampai di hari ke sembilan banjir benar-benar surut menyisakan lumpur dan sampah-sampah yang kebanyakan limbah plastik makanan dan perabotan rumah tangga menghalangi jalan mereka. Pasutri muda ini bekerja keras lagi membersihkan area luar dan dalam rumah, lemari, sofa, meja dan kursi dari lumpur yang mengerak tebal serta terakhir membersikan mainan Raisa dengan melibatkan anaknya sendiri. Kali ini Fadlan memberi kesempatan ia berani main kotor-kotoran bersama mamanya di teras rumah.


"Kenapa sih Ayah gak dari dulu biarin Ica bantuin Mama bersihin mainan Ica. Asik tahu sebenarnya. Apa Ayah gak boleh Raisa ngerasain apa yang Ayah rasain pas beresin rumah?" cerca Raisa sebal sembari memasukkan mainan yang sudah kering ke ember plastik besar.


Rossa menambah kesebalan Raisa dengan meledeknya. "Tau gak! Ayah kamu senang banget main air. Apalagi banjir-banjir-an. Karna dengan banjir-banjir-an kamu bisa berenang dan dapat ikan seperti di pantai. Mama juga seneng waktu main banjir-banjir-an sama Ayah. Duh, udah kayak waktu kecil deh."


Raisa memanyunkan bibirnya. Matanya menatap tajam sang mama, tangannya diam kaku. "Jahil banget sih Ayah. Pantesan Ica gak pernah diajarin berenang supaya gak bisa main banjir-banjir-an. Sebel deh."


Lihat selengkapnya