Pertengahan 2014
Suasana kelas 11 A sempat ricuh karena gosip kedatangan murid pindahan ke kelas mereka. Saat itu Fadlan terlihat tak peduli karena tidak begitu tertarik. Ia terkenal di kelas sebagai pemuda yang senangnya di pojokan kelas sembari mendengarkan lagu-lagu kesukaan yang telah diunduhnya dari aplikasi YouTube. Bukan berarti Fadlan tak punya teman. Teman dia banyak namun mereka paham dan memberikan kesempatan laki-laki itu meluangkan waktunya sendirian sebelum berkumpul juga bercanda ngalor ngidul kembali.
Tak lama datang seorang perempuan cantik dari depan pintu kelas. Dengan sopannya ia mengucap salam di tengah keriuhan kelas yang seketika berubah fokus pandangan ke anak baru tersebut. Ia dipersilahkan masuk oleh si ketua kelas yang juga perempuan dan menggiringnya ke depan kelas.
"GUYS, KELAS KITA KEDATANGAN KAWAN BARU!" ucap lantang si ketua kelas.
Semua mata masih tertuju ke hadapan mereka berdua kecuali Fadlan yang dari tadi menghadap pemandangan gedung-gedung dari jendela di sampingnya. Sontak Ketua Kelas yang melihat langsung meneriaki berulang kali sampai spontan melempar penghapus papan tulis karena kesal tak direspon sebab kedua telinga Fadlan yang disumpal earphone
"Duh," rintih Fadlan memegang keningnya akibat lemparannya.
"EH!! BISA DIBERHENTIIN DULU GAK LAGU-LAGU ALAY LO ITU. ADA ORANG BARU NIH DI DEPAN!" hardik si ketua kelas tensi tinggi.
Fadlan tak menggubris perkataan Ketua Kelas karena pandangannya terkunci dengan pesona wajah anak baru. Mereka saling melempar pandangan dan perempuan itu tersenyum singkat.
"FADLAN PEA!" hentak Ketua Kelas membuyarkan momen indah tersebut.
"IYE! BERISIK LO MAK EROT!" Fadlan membalas dengan ledekan kemudian mengusap keningnya lagi.
Anak baru itu namanya Rossa. Dari situlah fenomena pandangan pertama mereka terjadi.
Ia duduk di posisi tengah, di samping bangku yang hanya terdapat tas ransel berwarna hijau toska yang mencuri perhatian kedua matanya. Orang-orang di sebelahnya bergantian mengajak berkenalan yang kebanyakan cowok-cowok mencari perhatian. Gadis itu berusaha meladeni dengan ramah padahal dalam hatinya sedikit jengkel.