Fadlan sudah seperti bintang sepak bola dunia begitu disambut beberapa senior, teman sebaya, junior-juniornya di gudang sampai salah satu dari mereka memeluk erat membuat Fadlan cukup terharu. Dia namanya Jajang, walaupun beda 15 tahun tapi Jajang mau Fadlan menganggap teman yang seumuran. Sebelum masuk mereka ngobrol dari yang ringan-ringan hingga yang cukup serius. "Weh, abang-abangan gue nih. Bagi ransumnya dong Bos! Hahahaha."
"Ransumnya udah jadi tai! Makanya, rasain kebanjiran biar tahu bentuk sandiwara pejabat kayak gimana," ucap Fadlan sarkas.
Jajang tertawa ringan. "Kalo gitu gue buang aja ya truk tronton ke Ciliwung. Biar banjir lagi."
"Kurang gede. Lu bangun tembok Cina biar permanen banjirnya." Fadlan tak mau kalah. "Ngomong-ngomong kemarin gimana kerjaan di gudang. Rame atau ada yang mati lagi," lanjutnya asal.
Giliran Jajang geleng-geleng kepala. "Stres lo. Kalo dua hari terakhir gue gak masuk. Tapi kalo kemarin-kemarinnya lagi, rame banget orderan. Barang yang biasanya jarang habis ini dalam beberapa hari langsung kosong. Rejeki bos kita emang lagi bagus."
Fadlan mengerutkan keningnya. "Emang kemana dua hari kemaren? Kebanjiran juga jangan-jangan?"
"Enggak! Ada urusan keluarga-lah. Eh, gue boleh nawarin sesuatu nih. Lo kan lagi butuh rumah baru yah. Mau bayarin rumah orangtua gue gak. Gue gak bisa ngurusnya. Ribet sama anak bini gue." Jajang tiba-tiba tawari barang.
"Lah, orangtua lu kemana Pak?" tanya Fadlan agak curiga.
"Meninggal. Sakit jantung. Dua-duanya."
"Kapan? Terakhir gue ketemu sehat-sehat aja. Lagi ngejar angsa peliharaannya." Fadlan terus menekan.
"Pas lo hari pertama kena banjir kemaren. Udah lama juga," jawab Jajang.
"Oh, kalo gitu kirimin aja fotonya sama spesifikasi rumah. Tar gue kabarin bini gue. Kali dia tertarik."
"Ok!"
Di tempat lain Rossa juga mendapat sambutan positif dari rekan sesama editor yang paling antusias ialah Dinda. Dia datang dan langsung memeluk sahabatnya yang sudah cukup lama tidak bertemu. Selain itu di mejanya banyak sekali makanan ringan berbagi macam model dan rasa sumbangsih sebagai bentuk dukungan sesama rekan kerja.
Rossa sampai kewalahan merapikan makanan-makanan tersebut ke dalam kantong makanan sampai menyisakan layar komputer, tetikus dan papan ketik wireless sebagai alat tempurnya setiap hari. Setelah rapi Dinda datang kedua kalinya sekadar nawarin tempat makan siang nanti. "Mau makan di mana nih. Gue kangen makan siang sama lo Ca."
"Lo bantuin makan makanan dari temen-temen kantor aja. Gue gak habis lah. Paling separo gue bawa buat Ica. Sekalian ngirit duit Mbak," saran Rossa cukup efektif.
"Laki lo gak doyan makan-makanan anak gen Z begini. Corn dog, coklat Belgia, mochi karakter sama roti gembong mozzarella," sindir Dinda.
"Walaupun laki gue Gen Z sama kayak gue tapi dia malah mau cemilan-cemilan begini. Lagi itu gue tawarin Crepes pas CFD malah dia bilang begini, 'Mending bikin seblak makaroni di rumah aja Sayang. 25 ribu sepenggorengan. Lah itu, udah lumayan mahal bentuknya gak keliatan dari atas Monas'. Gue cuma dia aja sambil atur pola nafas."
Dinda tertawa cukup kencang. "Ya iyalah. Seblak sepenggorengan juga gak keliatan dari atas Monas. Lucu juga laki lo. Tukeran sama laki gue. Spermanya bagus. Buktinya tuyul-tuyulnya udah pada sekolah."
"Anjir! Udah kayak kucing pake barter. Laki gue langka. Gak bisa dituker apapun. Pernah, makan indomie goreng pake kuah giliran yang kari ayam nyemek kayak mie goreng," ucap Rossa bongkar aib suami.
"Oke deh. Ngakak gue dengernya. Gue balik ke meja dulu yah. Nanti sambung lagi."
Saat kesibukan Fadlan menyusun ulang piringan rem ke tempat yang lebih kosong, dirinya dihampiri kepala gudang baru. Ini pertemuan pertama mereka meski dia sudah menjabat semingguan lebih. Dengan ramah dan sopan ia memperkenalkan diri sebagai karyawan baru kepada Fadlan walaupun jabatannya berbeda. "Selamat pagi Pak Fadlan. Waduh, saya sudah nantikan kedatangan Bapak tapi bencana banjir bikin Bapak libur cukup lama. Perkenalkan, saya Hasanuddin, kepala gudang baru. Jadi keadaan di rumah sudah aman Pak?"