Wallpaper

Rizky Brawijaya
Chapter #10

Sarapan Kemarin


Fadlan sudah seperti bintang sepak bola dunia begitu disambut beberapa senior, teman sebaya, junior-juniornya di gudang sampai salah satu dari mereka memeluk erat yang membuat Fadlan cukup terharu. Namanya Jajang, walaupun beda 15 tahun tapi Jajang mau Fadlan menganggap teman yang seumuran. Sebelum masuk mereka ngobrol dari bahasan yang ringan-ringan sampai ke ranah serius. "Weh, abang-abangan gue nih. Bagi ransumnya dong Bos! Hahahaha."

"Ransumnya udah jadi tai! Makanya, rasain kebanjiran biar tahu bentuk sandiwara pejabat kayak gimana," ucap Fadlan sarkas.

Jajang tertawa ringan. "Kalo gitu gue buang aja ya truk tronton ke Ciliwung. Biar banjir lagi."

"Kurang gede. Lu bangun tembok Cina biar permanen banjirnya." Fadlan tak mau kalah. "Ngomong-ngomong kemarin gimana kerjaan di gudang? Rame atau ada yang mati lagi," lanjutnya asal.

Giliran Jajang geleng-geleng kepala. "Stres lo. Kalo dua hari terakhir gue gak masuk. Tapi kalo kemarin-kemarinnya lagi, rame banget orderan. Barang yang biasanya jarang habis, dalam beberapa hari langsung kosong. Rejeki bos kita emang lagi bagus."

Fadlan mengerutkan keningnya. "Emang kemana dua hari kemaren? Kebanjiran juga jangan-jangan?"

"Enggak! Ada urusan keluarga-lah. Eh, gue boleh nawarin sesuatu nih. Lo kan lagi butuh rumah baru yah. Mau bayarin rumah orangtua gue gak. Gue gak bisa ngurusnya. Ribet sama anak-bini gue." Jajang tiba-tiba menawarkan barang yang Fadlan sedang cari-cari.

"Lah, orangtua lu kemana Pak?" tanyanya agak curiga.

"Meninggal. Sakit TBC. Dua-duanya."

"Kapan? Terakhir gue ketemu sehat-sehat aja. Lagi ngejar angsa peliharaannya." Fadlan terus menekan.

"Pas lo hari pertama kena banjir kemaren. Udah lama juga," jawab Jajang.

"Oh, kalo gitu kirimin aja fotonya sama spesifikasi rumah. Tar gue kabarin bini gue. Kali dia tertarik."

"Ok!"



*****


Di tempat lain, Rossa juga mendapat sambutan positif dari rekan sesama editor dan yang paling antusias ialah Dinda. Dia datang dan langsung memeluk dirinya erat-erat. Selain itu, di meja kerja Rossa juga banyak sekali makanan ringan berbagai macam model dan rasa sebagai bentuk dukungan.

Rossa sampai kewalahan merapikan makanan-makanan tersebut ke dalam kantong makanan sampai menyisakan layar komputer, tetikus dan papan ketik wireless sebagai alat tempurnya setiap hari. Setelah keadaan meja sudah rapi, Dinda datang kedua kalinya sekadar nawarin tempat makan siang nanti. "Mau makan di mana nih. Gue kangen makan siang sama lo Ros."

"Lo bantuin makan makanan dari temen-temen kantor aja. Gue gak habis lah. Paling separoh gue bawa buat Ica. Hitung-hitung ngirit duit Mbak," saran Rossa cukup efektif.

"Laki lo gak doyan makan-makanan anak Gen Z begini. Corn dog, coklat Belgia, mochi karakter sama roti gembong mozzarella," sindir Dinda penasaran.

"Walaupun laki gue Gen Z sama kayak gue, tapi dia malah mau cemilan-cemilan begini. Lagi itu gue pernah tawarin crepes pas CFD Sudirman tapi malah dia bilang begini, 'Mending bikin seblak makaroni di rumah aja Sayang. Dua puluh lima ribu sepenggorengan. Lah itu, udah lumayan mahal bentuknya gak keliatan dari atas Monas.' Ya... gue cuma diam aja sembari atur nafas." Dia tertawa sebal dan memutar dua bola matanya.

Sahabatnya pun ikut tertawa cukup kencang. "Ya iyalah. Seblak sepenggorengan juga gak keliatan dari atas Monas. Lucu juga laki lo. Tukeran sama laki gue. Spermanya bagus. Buktinya tuyul-tuyulnya udah pada sekolah."

"Anjir! Udah kayak barang pake barter. Laki gue langka. Gak bisa dituker apapun. Pernah, makan Indomie goreng pake kuah giliran yang rasa kari ayam nyemek kayak mie goreng," ucap Rossa bongkar aib suami.

"Oke deh. Ngakak gue dengernya. Gue balik ke meja dulu yah. Nanti sambung lagi."


*****

Lihat selengkapnya