"Sarapan mau makan apa Yah?"
Pertanyaan dari Rossa setelah kegiatan seksnya dengan suami yang dibalas dengan kalimat lesu bahkan saat berhubungan intim saja Fadlan terlihat tidak semangat dan antusias seperti biasanya. "Kopi aja Sayang. Bikinin kornet telur buat Raisa sama kamu."
Satu kecupan kening dari bibir Rossa. "Aku kemarin lihat garis polisi di kamar mandi teman kamu ya aku pikir cuma mainan aja tapi saat tetangganya bilang garis polisinya dicabut sebelum kita datang, itu menghilangkan rasa kepingin aku buat kamu beli rumah itu."
"Aku juga gak minat lagi tapi bagaimana aku nolak halusnya setelah kita udah sampai nanya harga? Dia juga ngeliat kamu kayaknya senang banget. Takutnya ekpektasi dia ketinggian. Buktinya dia nelepon aku terus berkali-kali tapi aku biarin aja. Bingung mau bilang apa," ucap Fadlan kebingungan.
"Yah kamu bilang aja duitnya kurang banyak. Kamu kan sahabatnya. Bercanda kata-kata-an aja gak saling tersinggung. Kalo ketemu nanti obrol santai aja. Kalo dia terus tekan kamu bilang aja Ica dikit lagi buat bayar ujian semesteran." Rossa berusaha mengajari Fadlan beralasan.
"Tapi Ica sekolahnya negeri. Gak kena biaya sama sekali. Jajang punya anak bontot udah kelas enam SD, negeri juga. Dia tahu sekolah negeri di Jakarta gak bayaran," bantah Fadlan.
"Servis motor? Turun mesin gitu?" Rossa kekeh mengajari sampai suami mau menerima jawabannya.
"Motorku knalpotnya gak ngebul kan Rossa, sama gak berisik mesinnya. Motorku juga bukan 1dua-tak. Dia tahu pasti."
"Ok! Bilang aku hamil lagi. Uangnya buat persiapan persalinan dan biaya perawatan anak kedua. Bilang juga ke dia susu mahal, popok mahal. Dollar naik," balas sang istri mulai melantur.
"Emang kita belanjanya dimana?" kata Fadlan polosnya.
"Irak!" Rossa sebal karena tidak berhasil meyakinkan Fadlan. Dia berpakaian lalu keluar dari kamar mandi untuk persiapan sarapan dan sekolah Raisa.
Rasa sebal sang istri sempat tertunda saat momen sarapan bersama Raisa. Ia tidak mau menunjukkan perasaannya yang dialami karena takut tertular pada sang anak.
"Enak nasi kornet telur orak-ariknya?" kata Rossa disela makan.
"Buatan Mama selalu enak di mulut Ica. Restoran mewah langsung kalah sama masakan Mama. Tapi kenapa Ayah hanya minum kopi? Ayah gak suka kornet?" Raisa langsung menyambar pertanyaan ke ayahnya yang sedang nonton berita di layar televisi.
"Ayah gak nafsu makan. Jadi ngopi aja," sahut Fadlan seadanya.
"Ayah diet," sambung Rossa supaya terlihat akur.
Dia mengangguk paham dan melontarkan pertanyaan selanjutnya yang menyulitkan ayahnya menjawab. "Rumahnya udah dibeli belum yang kemarin. Yang ada taman bunganya di belakang. Ica suka."
Rossa dan Fadlan langsung saling lempar pandang sebagai isyarat Fadlan minta bantuan ke sang istri tapi respon bidadari kesayangannya hanya mengangkat bahu sembari menggeleng yang menandakan dua hal. Tidak tahu atau emang gak mau tahu.
Akhirnya Fadlan mencari jawaban seadanya lagi. "Yang punya rumah lagi keluar kota semalam Ca. Jadi Ayah belum bisa telpon lagi. Sabar yah." Lagi-lagi anaknya hanya mengangguk sambil mengunyah.
Rossa mogok bicara setelah selesai mengantar Raisa ke sekolah. Sikap sebalnya kumat lagi sampai Fadlan menurunkannya di depan gerbang kantor tempat kerja Rossa. Dirasa Fadlan sudah tak tahan dengan ambekkannya, ia langsung menahan tangannya setelah pamit cium tangan. "Ros! Bentar."
"Apa," kata Rossa tapi enggan melihat wajah Fadlan.
Fadlan menarik nafas sejenak sebelum melontarkan keputusan yang penting. "Aku bakal bicara sama Jajang kalo aku gak jadi beli rumahnya karna kebutuhan mendadak, atau gini aja, intinya pulang nanti Jajang gak bakal nelponin aku lagi soal rumah. Pokoknya semua selesai pas pulang nanti. Tapi jangan ngambek gitu akh. Jadi inget waktu sekolah tahu gak! Apa aku harus joget topeng monyet kayak waktu di sekolah sampai kamu ketawa? Jangan ngambek lagi. Aku bawain makanan deh. Ayam sambal hitam? Martabak Mesir? Kerak telor asin? Kwetiau Bangka? Aku beliin asal kembali cantik seperti Rapunzel? Oke?" rayu Fadlan diakhiri pasang muka aneh.
Rossa perlahan menengok, menatapnya pelan-pelan. Ia mau hanya saja gengsi untuk bilang. Ya, namanya manusia. Bukan Nabi boy!