(Masih)Pertengahan 2014
Setelah kejadian di parkiran, Fadlan jadi tahu kalo Rossa orang berada sebab hanya dia di sekolah ini yang antar jemput pakai mobil mahal dimana yang lain kebanyakan pakai motor dan kendaraan umum. Fadlan jadi takut lewat parkiran. Dia harus memutar ke taman supaya tidak terlihat orangtua Rossa yang menurutnya seram.
Tiga hari berlalu ada rasa rindu juga tidak berinteraksi langsung dengan anak baru itu padahal mereka sempat diskusi saat pelajaran kelompok kewirausahaan walau sebatas tugas. Gak lebih.
Setelah sebentar bermain sepakbola bersama teman sekelasnya, Fadlan mengistirahatkan diri di kantin dan saat itu juga dia berpikir bagaimana dirinya bisa kenal baik dan dekat dengan Rossa. Setelah bergulat dengan pikirannya, ia menemukan satu ide cemerlang.
Fadlan menghampiri satu persatu penjual kantin yang semuanya kenal dekat Fadlan. Ia menyuruh semua penjual menggratiskan dan membayarkan jajanan dengan pembeli atas nama Rossa lengkap bersama foto paparazi yang sengaja ia ambil saat sedang menyendiri di pojokan lalu ditunjukkan ke mereka.
Para pedagang mengangguk paham. Ia kembali ke tempat semula sembari memantau situasi. Beberapa menit kemudian Rossa yang pertama kalinya ke kantin datang seorang diri. Ia berkeliling melihat jajanan seperti bakso, aneka kue dan gorengan, nasi goreng, ketoprak juga es buah. Setelah lama berkeliling, ia berhenti di tukang kue dan gorengan untuk membeli tiga roti coklat dan air mineral dingin.
"Jadi berapa Bu?" tanya Rossa sopan dan penuh senyum sembari mengeluarkan uang dari saku bajunya
Ibu yang melayani Rossa langsung menolak uang yang ditodongkan Rossa. "Ini gratis. Buat atas nama Rossa kelas 11 A."
"Gratis? Kenapa Bu? Dan Ibu tahu nama dan kelas saya dari siapa? Saya murid baru di sini."
"Maaf Neng, saya gak boleh kasih tahu namanya siapa?" ucapnya sedikit ketakutan.
Perlahan Rossa mendekatkan wajahnya ke wajah si ibu penjual. Ia berbisik sembar mengancam. "Gini, saya kasih 300 ribu sekarang tapi Ibu harus kasih tahu siapa yang bikin ide ini?"
Ibu penjual sempat berpikir sampai akhirnya tergiur dengan tawaran Rossa dan mengaku setelah ia memberikan uangnya secara tunai nan diam-diam. "Namanya Fadlan. Tapi Neng jangan bilang ke dia yah. Dia pelanggan saya di sini. Tar dia gak mau jajan lagi. Ok," ucapnya pelan.
Rossa hanya mengangguk lalu kembali ke kelas. Ia menghampiri si ketua kelas yang sedang mengerjakan tugas kemudian memberikan titipannya. Rossa yang sudah kenal dengan ketua kelas menawarkan diri untuk jadi jasa menitipkan jajanan sekalian ingin merasakan jajanan kantin. "Makasih Ros. Lah, jajanan lo mana?" kata si ketua kelas.
"Enggak deh. Gue tiba-tiba males jajan." Rossa berkelak.
"Yah, jangan gitu dong. Gue takutnya budakkin anak baru. Nih ambil satu. Ucapan terima kasih sekaligus tester makanan kantin. Lo baru mau nyobain kan?" Si ketua kelas tak enak perasaan.