Wallpaper

Rizky Brawijaya
Chapter #14

Surat Anak Anjing

Seminggu diawal tahun yang baru, keluarga Fadlan sudah mendapatkan ujian di tengah kebahagiaan. Orangtua Rossa datang berkunjung ke rumah secara mendadak yang membuat Rossa cukup gelagapan. Bagaimana tidak kaget, sebab ini pertama kalinya ayahnya Rossa menginjakkan kaki ke rumah Fadlan sebagai ayah yang sangat benci menantu lelaki.


"Mama, Ayah? Ayo masuk. Kok gak bilang Rossa dulu mau main. Rossa bisa siapin minum sama makanan." Rossa seorang diri menyambut mereka dan mempersilahkan duduk di ruang tamu.


"Gak usah Ros. Mama sama Ayah memang sengaja ingin main ke sini. Mau ketemu Ica. Di mana dia?" balas Mama ceria sedangkan suaminya membantah dengan nada tidak suka. "Mama aja, Ayah dipaksa. Ngapain ke rumah yang temboknya dekil. Mending rumah opa kamu."


Rossa hanya tersenyum tipis. Telinganya terasa tertusuk meski pernyataan dari ayahnya sendiri. "Maafin ayah kamu yah, Ros," relai mamanya.


Rossa segera memanggil Fadlan yang sudah selesai berpakaian dan Raisa yang main ponsel di kamarnya. "Ica, Ayah. Ada Kakek sama Nenek nih mau main sama Ica. Turun yuk!" teriak Rossa dari ujung tangga bawah.


Mereka bergegas turun. Raisa hendak berlari dari anak tangga dan menyambut bahagia neneknya yang sudah menunggu. "NENEK! KAKEK!"


"ICA! CUCU KESAYANGAN NENEK!" mereka berpelukan saling melepaskan rindu. Sang kakek hanya mencubit pipi kanan Raisa sesekali tersenyum.


Raisa mencium pipi neneknya lalu mengeluarkan semua uneg-uneg soal kejadian kemarin termasuk hamilnya Rossa. "Nenek, Ica mau punya adik loh. Ica bakalan jadi Kakak terus adik Ica itu perempuan."


Rossa yang sedang di dapur, membuatkan teh dan kopi hanya menggeleng kepala menyayangkan padahal kabar itu mau Rossa yang ucapkan sendiri namun Raisa tidak bisa diajak kerjasama. Ketika mamanya bertanya dari kejauhan tentang usia kehamilannya, ia hanya bisa menjawab sejujur-jujurnya. "Rossa baru trisemester pertama Ma."


Giliran Fadlan bergegas turun dan langsung ke dapur, membantu Rossa membawakan kopi ke ruang tamu. Sebelum itu Rossa sempat memberitahu satu hal penting. "Ada Ayah, kamu jangan takut. Aku dampingi."


Fadlan hanya mengangguk lalu mengekori Rossa yang juga membawa secangkir teh dan sepiring kue lapis yang diambilnya dari kulkas. Mereka duduk di sofa yang saling berhadapan. Rossa dengan mamanya sedangkan Fadlan dengan ayahnya Rossa. Situasi masih terasa menyenangkan sebab Raisa yang aktif mencairkan suasana. "Nenek sama Kakek sering main ke sini. Main sama Ica mumpung hari minggu. Oh, iya emang Nenek jago berenang?"


Nenek menanggapi dengan santai. "Doain Nenek sama Kakek sehat terus supaya bisa main kemari dan ajari berenang. Tahu gak? Nenek itu atlet perenang waktu seumuran mamamu."


Bola matanya menyipit, keningnya dikerutkan, bertanda ia sedang bingung. "Atlet itu apa?"


Neneknya berpikir sejenak. "Atlet itu yang jago olahraga. Yang ikut-ikutan lomba kayak di Tv. Kayak lomba lari, renang, sama sepak bola."


Untungnya Raisa langsung paham, jadi neneknya tidak perlu mengulang atau mencari jawaban yang lebih sederhana. "Yang suka dapet medali emas kan? Yang digigit-gigit kayak coklat."


Neneknya mengacungkan jempol. "Betul."


"Kalo atlet penulis ada gak yah Nek? Aku pengen jadi penulis yang dapet medali juga kayak atlet." Raisa semakin penasaran dengan topik pembicaraan antara cucu dan Nenek sedangkan, yang lain hanya menyimak saja sembari senyum-senyum monyet.


Lihat selengkapnya