Wallpaper

Rizky Brawijaya
Chapter #15

When Life Gives You Lemons

Ayahnya Rossa tergeletak koma setelah beberapa jam penanganan dokter. Fadlan dan Rossa harus berbohong pada Raisa soal ini dengan dalih lembur kerja. Malam yang terang langit di taman rumah sakit mencoba membantu menenangkan hati Rossa selain perilaku peduli sang suami. Di samping itu mereka duduk diskusikan perihal rahasia yang sudah terbongkar sebelum waktunya akibat ulah mamanya sendiri.


"Ayah jadi tahu Raisa bukan anak kamu," ucap Rossa lemas kemudian menyerahkan surat anak anjing itu ke Fadlan.


Ia membuka isi amplop tersebut sekadar nostalgia tentang semua yang terjadi tujuh tahun lalu. Ada selembar surat tertulis tangan, satu foto USG bayi Raisa, satu foto Rossa sedang menangis masih mengenakan seragam sekolah melihat kamera persis seperti foto wallpaper di ponsel Fadlan serta, sebuah testpack usang yang sudah dipakai.


"Kamu mau baca lagi surat dari anak anjing itu?" tanya Rossa kesal.


"Dia gitu-gitu sepupu kamu juga. Namanya Zid-" Fadlan berusaha meluruskan tapi dibantah paksa Rossa sambil meninggikan badan. "SEPUPU ANJING, BANGSAT, SIALAN, MONYET!!! AKU MAUNYA DIA DIPANGGIL ANJING!! WALAUPUN MASIH LINGKARAN KELUARGA BESARKU."


Fadlan menghela nafas. "Kamu terakhir ngomong kasar di depan aku tujuh tahun lalu. Sayang, nanti cantiknya hilang."


"EMANG KENAPA? ORANG CANTIK KATA KAMU BARUSAN GAK BOLEH NGOMONG KASAR!! Dia yang perkosa aku saat aku sebelumnya dibikin mabok sampai pingsan saat pesta perpisahan sekolah di rumahnya. Kamu kemana? Malah dugem sama temen-temen lain bukannya jagain aku," jelas Rossa


"Aku pikir dia selama ini baik. Dia temanku juga," terang Fadlan tak mau disalahkan. Ia juga kembali berusaha menenangkannya supaya tidak menjadi pusat perhatian orang termasuk sekuriti. Ternyata langit tak mampu menenangkan dia.


"TEMEN? Pas udah ketahuan aku hamil, dia malah sembunyi tiga minggu. Terus, sekalinya muncul ngasih surat permohonan maaf sekaligus ngemis ke kamu biar nikahi aku pake nangis menye-menye menyesal sampai  ESOK SIANGNYA, PAS ISTIRAHAT SEKOLAH, DIA LOMPAT BUNUH DIRI DI DEPAN KAMU! BIKIN MALU AKU, KELUARGA AKU, ORANG-ORANG SEKOLAH SAMPAI KETAKUTAN. TAHUKAN HABIS ITU AKU LARI KEMANA? KE ROOFTOP SEKOLAH. TERIAK-TERIAK, MENJERIT SAMBIL MELEMPAR KURSI-KURSI YANG RUSAK SAMPAI JARI-JARI KU LUKA BERSIMPUH DARAH. Untungnya, kamu datang sayangku. Kalo tidak, kamu gak bakal melihat aku dan Raisa lagi seperti sekarang," hardik Rossa emosional, nafasnya tersengal.


"Ros." Fadlan menginggatkan


"Seandainya bajingan bangsat itu gak ikut-ikutan aku pindah sekolah di sekolah kita karena embel-embel bisa masuk sekolah tentara seperti opanya yang punya sifat militeristik sampai ayahku takut, aku masih bisa main, pacaran, tunangan sama kamu, merencanakan pesta pernikahan yang benar-benar mewah atau cuma sederhana dan Raisa sah datang dari sperma kamu. Sekarang begini, opaku aja gak tahu kalo ada Raisa di keluarga kita karena udah jadi mayat di makam pahlawan Kalibata sebelum kejadian kelam kita terjadi. Udah! sini aja suratnya biar aku bakar di rumah," lanjutnya masih kecewa, mengambil paksa suratnya kembali dengan genggaman kasar.


"Ros, ingat kandungan kamu. Kamu lagi hamil," kata Fadlan nada bicara tenang.


"Hamil? Oh iya, aku baru ingat ada anak kita di perutku. Bagus sekali yah cerita hidup kita. Raisa lahir setelah opanya meninggal, anak kita lahir setelah Ayah koma apalagi kalau sampai meninggal, ini bakal indah banget kisah Rossa dan Fadlan.


Fadlan terus menenangkan. "Positif aja. Ayah pasti sembuh."


"Amin!!" Rossa langsung berhenti bicara kemudian duduk menenangkan diri. Fadlan mengelus-elus rambut belakang lalu membantu menyandarkan kepalanya di dadanya yang bidang.



Gara-gara sibuk dengan permasalahan keluarga, Rossa jadi tidak fokus melanjutkan pekerjaannya. Naskah yang selama dia pegang tidak benar-benar diperbaiki dengan maksimal padahal masih beberapa BAB lagi menuju akhir cerita. Dinda sebagai sahabat yang baik datang membawakan brownies kukus buatannya. "Makan Beb, entar lapar, gak fokus nyunting naskah."


Ia menutup jendela aplikasinya, meladeni Dinda dengan situasi pikiran yang jenuh. "Pusing banget gue Mbak. Rumah belum dapet, bokap masuk rumah sakit, naskah masih panjang. Entar gue diomelin Bos kelamaan kerjainnya."


"Sekarang lo banyak berdoa sama keterbukaan sama laki lo aja Ros. Siapa tahu dengan kejadian begini, endingnya baik. Capek tahu masalah ditanggung sendiri yah walaupun dibantu suami, itu gak sekejap langsung hilang tapi seenggaknyan meringankan pelan-pelan sampai lama-lama terselesaikan. Ngomong-ngomong anak lo tahu gak kakeknya koma?"


Rossa menggeleng pelan sambil mengunyah pelan brownies. "Paling kalo mati baru gue kasih tahu."


"Lo emang udah yakin bokap lo gak lama hidupnya?" tanya Dinda penasaran.


"Gue bukan utusan Tuhan. Tapi dari rekam jejak penyakitnya, bokap gue udah 1PJK parah banget. Ibarat kanker udah stadium paling akhir-akhir. Makanya dia gak bisa kena syok dikit. Kemaren buktinya. Ribut sama nyokap akhirnya kena. Gue coba belajar mengikhlaskan kalo semisalnya ajalnya udah di depan mata dia walaupun masih ada harapan buat sembuh. Seenggaknya bertahan sampai gue lahiran nanti," keluh Rossa menabahkan diri.




Rossa menjenguk ayahnya ditemani Fadlan. Sudah kedua kalinya mereka bohongi Raisa dengan alasan yang sama. Ayahnya Rossa masih belum menunjukkan tanda-tanda siuman. Rossa hanya membuang nafas panjang tanpa berkata-kata di hadapan mamanya sampai ia pulang dan tidak bisa tidur kemudian mengajak Fadlan mandi bersama sambil berpelukan di bawah guyuran shower yang mendinginkan badan. "Anggap saja kita sedang melawan dinginnya air ditengah malam dengan kehangatan satu sama lain," ucap Rossa sedikit gemetar.


Alhasil, paginya Fadlan terserang flu di gudang. Bersin berkepanjangan dan memerah matang hidungnya seperti badut Dufan ditambah situasi yang tidak tepat karena kedatangan bos utama untuk memonitor perkembangan bisnisnya.


Tiba-tiba terjadi kegaduhan di ruangan Hasan. Suara bos utama terdengar marah-marah besar sampai menganggu aktivitas gudang. Fadlan merasa pasrah dengan lingkungan kerja yang mulai kurang nyaman setelah kedatangan Hasan.


Kemarin, Jajang yang dibawa orang keluar gudang dan sekarang giliran Hasan dengan tas punggungnya dibawa paksa Bos keluar gudang seperti menyeret gembel masuk Mal. Semua mata tertuju pada kejadian itu sebab takut ada kasus pembunuhan lagi, tapi ternyata salah. Bos mengungkapkan bahwa Hasan berbohong soal menghilangnya Jajang beberapa hari di gudang setelah dapat informasi dari seseorang yang tidak diberi tahu identitasnya. Posisi kepala gudang untuk sementara kosong sampai dapatkan kembali maksimal dua hari. Alhasil, Fadlan dan kawan-kawan hanya bisa menyelesaikan sisa tugas untuk dibawa ke pelanggan hari ini.


Malam hari, Fadlan minta tolong Rossa kerik punggungnya yang masuk angin sedangkan Raisa memijat kedua tangannya. Fadlan mendongeng tentang ketertarikan akan sebuah rumah yang didapat melalui media sosial Facebook. "Bagus gak? Dua tingkat, LT 300, LB 180. Ada kolam renang," katanya sambil menunjuk foto depan rumah di layar ponselnya.


Lihat selengkapnya