⚠️ Part ini mengandung sedikit kata-kata mutiara ( kasar) . Mohon maaf gengs jika ada yang terganggu karena itu bagian dari plot. Terimakasih.💚💚
Ayahnya Rossa tergeletak koma setelah beberapa jam penanganan dokter. Fadlan dan Rossa harus berbohong pada Raisa soal ini dengan dalih lembur kerja. Malam yang terang langit di taman rumah sakit mencoba membantu menenangkan hati Rossa selain perilaku peduli sang suami. Di samping itu mereka duduk beristirahat sekaligus diskusikan perihal rahasia yang sudah terbongkar sebelum waktu yang tepat akibat ulah mamanya sendiri.
"Ayah jadi tahu Ica bukan anak kamu," ucap Rossa lemas kemudian menyerahkan surat anak anjing itu ke tangan suami.
Ia membuka isi amplop tersebut sekadar nostalgia tentang semua yang terjadi tujuh tahun lalu. Ada selembar surat tertulis tangan, satu foto USG bayi Raisa, satu foto Rossa sedang menangis masih mengenakan seragam sekolah melihat kamera persis seperti foto wallpaper di ponsel Fadlan serta sebuah testpack usang yang sudah dipakai.
"Kamu mau baca lagi surat dari anak anjing itu?" tanya Rossa tatapan kesal. Wajahnya mulai memerah ketika bayang-bayang masa lalu suramnya mulai menghantui kembali.
"Dia gitu-gitu sepupu kamu juga. Namanya Zid-" Fadlan berusaha meluruskan tapi dibantah paksa Rossa sambil meninggikan badan dan amarahnya langsung meledak. "SEPUPU ANJING!!! AKU MAUNYA DIA DIPANGGIL ANJING!! WALAUPUN MASIH LINGKARAN KELUARGA BESARKU."
Fadlan menghela nafas. "Kamu terakhir ngomong kasar begini di depan aku tujuh tahun lalu. Sayang, jangan keras-keras nanti cantiknya hilang."
"EMANG KENAPA? ORANG CANTIK KATA KAMU BARUSAN GAK BOLEH NGOMONG KASAR!! Dia yang perkosa aku saat aku sebelumnya dibikin mabok sampai pingsan saat pesta di rumah Opa. Kamu kemana? Malah ngumpul sama yang lain, bukannya jagain aku. Dia tuh enak. Sudah diangkat sama Opa dari tong sampah terminal, bukannya terima kasih malah semena-mena di rumahnya," jelasnya perlahan menurunkan tempo nada bicara tanpa menghilangkan kemarahan di wajah cantiknya sedikitpun.
"Aku pikir dia selama ini baik. Dia temanku juga," terang Fadlan tak mau disalahkan. Ia juga kembali berusaha menenangkan Rossa yang di luar kendali dirinya supaya tidak menjadi pusat perhatian orang termasuk sekuriti. Ternyata langit juga tak mampu menenangkan dia.
"TEMEN? Pas udah ketahuan aku hamil, dia malah sembunyi tiga minggu. Terus, sekalinya muncul ngasih surat permohonan maaf sekaligus ngajarin aku ngemis ke kamu biar nikahi aku pake nangis menye-menye menyesal, SAMPAI ESOK SIANGNYA, PAS ISTIRAHAT SEKOLAH, DIA MALAH LOMPAT BUNUH DIRI DI DEPAN KAMU!!! DIA JUGA BIKIN MALU AKU, KELUARGA AKU, ORANG-ORANG SATU SEKOLAH SAMPAI KETAKUTAN. TAHUKAN HABIS ITU AKU LARI KEMANA? KE ROOFTOP SEKOLAH!! TERIAK-TERIAK, MENJERIT SAMBIL MELEMPAR KURSI-KURSI YANG RUSAK SAMPAI JARI-JARI KU LUKA BERSIMBAH DARAH. Untungnya sayang, ketua kelas kita datang nyelamatin aku. Kalau nggak, kamu gak bakal melihat aku dan Ica lagi seperti sekarang," hardik Rossa semakin emosional, nafasnya tersengal-sengal bagai kerasukan malaikat penjaga neraka yang sedang menyiksa musuh Tuhannya.
"Ros!" Fadlan terus mengingatkan.
Ia mengatur ritme nafasnya, "Seandainya bajingan itu gak ikut-ikutan aku pindah sekolah di sekolah kita karena embel-embel bisa masuk sekolah tentara seperti opanya yang punya sifat militeristik seperti ayahku, aku masih bisa main terus pacaran, tunangan sama kamu habis itu merencanakan pesta pernikahan yang benar-benar mewah atau cuma sederhana dan hal yang paling penting, Ica bukan anak yang lahir ke dunia akibat sebuah kecelakaan. Sekarang gini, opaku aja gak tahu kalo ada Ica di keluarga kita. Dia udah jadi mayat di makam pahlawan Kalibata sebelum kejadian kelam itu terjadi. Sekarang sini aja suratnya deh. Biar aku yang pegang kalo perlu dibakar pas sampai rumah nanti," lanjutnya kecewa lalu mengambil paksa suratnya kembali dengan genggaman kasar.
"Ros, ingat kandungan kamu. Kamu lagi hamil," kata Fadlan konsisten bicara dengan tenang.
"Hamil? Oh iya, aku baru ingat ada anak kita di perutku. Bagus sekali yah cerita hidup kita yah Sayang. Ica lahir setelah opanya meninggal atau jangan-jangan, anak kita lahir setelah Ayah koma apalagi kalau sampai meninggal. Ini bakal jadi kisah yang indah banget tentang rumah tangga Rossa dan Fadlan. Hahahahaha." Suara tawa sarkas menggetarkan rahangnya setelah cukup lama marah-marah. Fadlan mencoba pelan-pelan tersenyum meski dirinya tahu maksud dari tawanya itu. Ia juga merasa kondisi istrinya perlahan kembali stabil dan sudah puas meluapkan emosinya. "Positif aja, ayah kamu pasti sembuh."
"Amin!!" Rossa langsung berhenti bicara kemudian kembali duduk menenangkan diri. Fadlan mengelus-elus rambut belakang lalu membantu menyandarkan kepalanya di dadanya yang bidang. "Kadang yang dinamakan waktu yang tepat justru datang diwaktu yang tidak tepat."
*****
Gara-gara sibuk dengan permasalahan keluarga, Rossa jadi tidak fokus melanjutkan pekerjaannya. Naskah yang selama dia pegang tidak benar-benar diperbaiki dengan maksimal padahal masih beberapa bab lagi menuju akhir cerita. Dinda sebagai sahabat yang baik datang membawakan brownies kukus buatannya. "Makan Beb, entar lapar, gak fokus nyunting naskah."
Ia menutup jendela aplikasinya, meladeni Dinda dengan situasi pikiran yang jenuh. "Pusing banget gue Mbak. Rumah belum dapet, bokap masuk rumah sakit, naskah masih panjang. Entar gue diomelin Bos kelamaan kerjainnya."
"Sekarang lo banyak berdoa sama keterbukaan sama laki lo aja Ros. Siapa tahu dengan kejadian begini, endingnya baik. Capek tahu masalah ditanggung sendiri yah walaupun dibantu suami, itu gak sekejap langsung hilang tapi seenggaknya meringankan pelan-pelan sampai lama-lama terselesaikan. Ngomong-ngomong anak lo tahu gak kakeknya koma?"
Ia menggeleng pelan sambil mengunyah pelan brownies. "Paling kalo mati baru gue kasih tahu."
"Lo emang udah yakin bokap lo gak lama hidupnya?" tanya Dinda penasaran.
"Gue bukan utusan Tuhan. Tapi dari rekam jejak penyakitnya, bokap gue udah ¹PJK parah banget. Ibarat kanker udah stadium paling akhir-akhir. Makanya dia gak bisa kena syok dikit. Yah kemaren buktinya. Ribut sama nyokap akhirnya kena. Gue coba belajar mengikhlaskan kalo semisalnya ajalnya sudah di depan mata dia walaupun, gue berharap masih ada kesempatan buat sembuh. Yah, seenggaknya bertahan sampai gue lahiran nanti," keluh Rossa menabahkan diri.
*****
Mereka menjenguk ayahnya kembali dan sudah kedua kalinya juga bohongi Raisa dengan alasan yang sama. Dirinya masih belum menunjukkan tanda-tanda siuman sampai putri semata wayangnya hanya mampu membuang nafas panjang tanpa berkata-kata di hadapan sang mama dan Fadlan bahkan sampai ia pulang dalam keadaan kepala panas dan tidak bisa tidur tenang.
Ia pun nekat mengajak suaminya mandi bersama sambil berpelukan di bawah guyuran shower yang semakin lama tubuh mereka menggigil kedinginan. "Anggap saja kita sedang melawan guyuran masalah dengan saling menghangatkan satu sama lain," ucap Rossa sedikit gemetar.