Setelah berjuang lima hari, pukul empat sore sang ayah meninggal dunia akibat tidak bisa melawan penyakitnya. Ia pergi dalam tidur panjang tanpa mengucapkan selamat tinggal baik-baik pada istri dan anak, tentunya menantu idaman. Tak ada lagi tangis sesak di benak Rossa selama proses pemakaman berlangsung sebab batinnya sudah berlatih tuk mengikhlaskan atau memang, mata bulatnya letih basah-basahan sampai bengkak.
Tuhan punya jalan baik untuk ayahnya Rossa. Sang maha kuasa tidak tega melihat ciptaannya hidup di usia senja dengan menyimpan ego dan kebencian. Rossa meminta izin pada suaminya membawa Raisa menginap beberapa hari di rumah Mama demi menjaga mentalnya yang berduka. Dengan penuh rasa prihatin, Fadlan langsung mengizinkan asal satu syarat, yaitu jaga kesehatan dirinya dan Raisa yang pasti ikut terpukul.
Terus bagaimana kelanjutannya? Perdamaian antara menantu lelaki dan mertua lelaki tidak mencapai titik tengah penyelesaian. Hal itu terus ada dipikiran Fadlan juga tentunya menyeret Rossa sepanjang hari sampai mereka tidak fokus bekerja. Fadlan sempatkan mampir menemui Raisa yang sibuk bermain sendiri tanpa ekspresi sebahagia biasanya.
"Ca. Kamu main apa?" basa-basi Fadlan duduk menghampiri, mengelus-elus rambut belakang sang anak pelan.
Raisa menoleh kemudian menyambut sang ayah dengan senyuman manis yang sedang ia usahakan. "Main Lego. Ayah udah pulang?"
Fadlan mengangguk. "Udah. Ayah bawa coklat buat kamu."
Raisa meraih dua batang coklat dari tangan Fadlan tanpa ekspresi ceria seperti waktu mendapatkan nilai 98 di sekolah. "Aku lagi gak dapet nilai bagus kan Yah. Kenapa dikasih coklat."
"Karena Ica sudah jadi anak Ayah dan Mama yang baik. Terus jadi kebanggaan Ayah dan Mama yah Ca. Ayah janji bakal bawa kamu ke masa depan yang baik, yang menjanjikan." Fadlan menyemangati kemudian memeluk sang anak. Ia begitu rindu setelah kemarin di kamar tanpa dirinya.
"Ica janji jadi orang baik dan gak nakal." Raisa memegang erat lengan sang ayah yang masih mengenakan pakaian kerja.
Dibalik adegan tersebut, ada sosok perempuan dengan secangkir susu jahe madu hangat di tangan kanannya dari kejauhan diam menyaksikan pemandangan indah antara anak dan ayah. Sontak Rossa langsung meneteskan air mata lalu memutar balik arah karena tak baik mengganggu keharmonisan orang lain walaupun orang-orang tersayangnya itu sendiri.
Mamanya Rossa keluar dari kamar dan pindah ke meja makan sekadar melamun. Rossa yang masih membawa secangkir jahe hangat memilih menemaninya sambil mengajak bicara. Apa saja, yang penting komunikasi demi mengurangi tekanan batin setelah kehilangan teman hidupnya yang selalu bersama lebih dari dua puluh tahun.
"Ma. Aku tadi belajar bikin jahe hangat madu yang Mama ajarin waktu Rossa belum menikah. Mau cobain gak?" kata Rossa lalu menggeser cangkir ke hadapan Mama.
Kepalanya hanya mengangguk lemas lalu menyeruput pelan sambil kulit di tepi matanya yang mulai tumbuh keriput menua bergerak merem-melek. Rossa bertanya perihal rasa minuman buatan tangannya sendiri. "Gimana Ma?"
"Persis buatan Mama. Kamu memang anak yang cerdas Ros. Mama sama Ayah berusaha mendidik kamu dengan pendidikan yang berkualitas walaupun cara ayahmu masih banyak salahnya juga. Dia terlalu keras mengikuti gaya Opa yang berasal dari pendidikan militer,” katanya mulai menggenggam erat tangan anak semata wayangnya penuh perhatian. "Ayah kamu hanya mau yang terbaik buat kamu karena kamu perempuan yang rawan akan kejahatan seksual di jaman sekarang. Ayah mau kamu jadi perempuan kuat dan tidak gampang dibodohi orang lain. Tapi ketika musibah menimpa kamu, itu jadi pukulan telak Ayah sama Mama dan tanpa kamu tahu, begitu kamu ketahuan hamil, dia nangis di kamar sejadi-jadinya. Dia merasa gagal jadi orangtua karena apa? Ayah sama Mama saja menikah di usia sama-sama 29 sedangkan kamu sudah merasakan pernikahan dan melahirkan di usia yang sangat jauh dari kata matang," ungkap mamanya sambil menahan tangisnya berbeda dengan Rossa yang akhirnya perlahan terisak-isak.