Waltz Untuk Seorang Janda

Adz
Chapter #1

1. Aroma Asing

Seorang wanita berwajah oval yang memiliki kesan lembut dan menenangkan sedang menemani seorang balita perempuan bermain lego di kamar. Sesekali dia mengambil ponselnya untuk mengirimkan pesan.

Mas, malam ini kamu pulang ke rumah kan?

Tak ada balasan. Wanita itu terus bermain dengan sang balita sambil melirik-lirik ponselnya, dia berharap pesannya segera di balas. Setelah menunggu 15 menit, akhirnya pesan balasan itu muncul.

Ya, Bun.

Hanya dua kata singkat yang muncul di layar ponselnya tapi cukup membuat hati sang wanita berbunga-bunga. "Dek, kamu puas-puasin mainnya ya, nanti jangan tidur kemalaman," ucap sang wanita lembut.

Balita itu hanya membalas ucapannya dengan senyum dan anggukkan kepala sebelum kembali fokus dengan beragam lego warna warni yang coba disusun.

Wanita itu nampak mengerjakan semua urusan rumah tangga dari mulai masak, mencuci piring, menyapu, mengepel dan mencuci baju sendirian kala sang balita tidur siang. Walau melelahkan, wanita itu mengerjakan semuanya dengan penuh semangat. Dia hanya berharap sang malam akan segera datang.

Ditengah-tengah aktivitasnya, ponselnya nampak berbunyi. Wanita itu bergegas mengambil ponsel itu berharap sang suami yang menelponnya. Namun, yang tertulis di layar ponsel adalah ibu.

"Halo, Ibu. Apa ada masalah?" tanya sang wanita dengan perasaan deg-degan.

"Halo, Azzama. Tidak ada masalah apa-apa kok. Ibu hanya kangen dengan celotehan Dhea saja. Dimana dia?" tanya sang ibu.

"Syukurlah jika tidak ada masalah apa-apa. Sayangnya, Dhea sedang tidur siang, Bu," balas Azzama dengan perasaan lega.

"Oh gitu. Ya sudah. Tak usah dibangunkan, takut dia malah rewel. Bagaimana kabarmu, Nak? Baik-baik saja kan?" ucap sang ibu.

"Ya, baik kok. Bapak ibu juga baik-baik saja kan di sana?" respon Azzama perhatian.

"Ya, kami baik-baik saja. Tapi, bapak sempat mengeluh sih kalau warung sembako kita semakin sepi karena swalayan yang menjamur" ungkap sang ibu jujur.

"Ya ampun. Maaf ya, Bu. Aku tidak bisa banyak membantu masalah ekonomi sekarang," ucap Azzama bersalah. Dalam hatinya ada penyesalan karena harus melepaskan pekerjaannya sebagai translator dan menjadi ibu rumah tangga.

Lihat selengkapnya