Wanita Penjaja Daging (Hikayat Siak)

Andre Donas
Chapter #1

Wanita Penjaja Daging

WANITA PENJAJA DAGING

(Hikayat Siak tanpa Babak dan Jeda)

 

Sudah lama aku tidak percaya kepada keajaiban. Sebagai arkeolog, aku lebih percaya pada tanah yang retak, batu yang aus, dan kayu yang lapuk daripada kisah-kisah yang terlalu indah untuk dipercaya. Batu yang aus lebih jujur daripada dongeng. Kayu yang lapuk lebih dapat dipercaya daripada kisah-kisah yang diwariskan turun-temurun tanpa pernah meninggalkan bekas. Sejarah meninggalkan artefak. Keajaiban tidak. Keajaiban hanya hidup di dalam mulut manusia yang terlalu mencintai harapan atau terlalu takut menerima kenyataan. Mungkin karena itulah aku memilih menjadi arkeolog. Aku lebih senang menggali dan bekerja dengan benda mati daripada sibuk menafsirkan keyakinan orang atas keajaiban.

 

Sejarah selalu meninggalkan jejak, tetapi tidak pernah meninggalkan cerita yang lengkap. Setiap zaman hanya mewariskan bagian yang ingin dikenang, setelah membiarkan sisanya membusuk bersama waktu. Sebagai arkeolog, bertahun-tahun aku bekerja di antara pecahan gerabah, nisan-tua, fondasi candi, istana yang runtuh, dan kota-kota yang telah lama kehilangan penghuninya. Sebuah cincin tanpa jari. Sebilah keris tanpa tangan yang pernah menghunusnya. Sepasang gelang tanpa nama perempuan yang pernah memakainya. Semakin lama aku bekerja, semakin kusadari bahwa yang paling cepat hilang dari masa lalu bukanlah kayu, batu, atau logam. Melainkan kebenaran tentang manusia. Aku mempercayai itu. Setidaknya sampai suatu pagi ketika mobil yang kutumpangi memasuki Kota Siak Sri Indrapura.

 

Kedatanganku ke Kota Siak siang ini hanya untuk bekerja. Sesederhana itu. Mendokumentasikan bangunan istana dan beberapa bangunan lainnya. Mencatat semua detail bangunan. Mengukur beberapa bagian yang selama ini luput dari penelitian. Merumuskan konsep narasi istana yang akan dikenang oleh pengunjung dan cerita apa yang cocok untuk dikomunikasikan. Pekerjaan yang telah kulakukan puluhan tahun di banyak situs purbakala di negeri ini. Tidak ada yang istimewa. Yang istimewa justru perjalananku kali ini. Perjalalan menuju masa lalu bersama seorang wanita yang akan mengubah pandanganku tentang cinta.

 

Waktu seperti halnya sejarah tak pernah berbohong. Ia terus bergerak mengungkapkan rahasia-rahasia dan jawaban atas pertanyaan dan misteri tersembunyi yang tak pernah kita ketahui sebelumnya. Entah seperti apapun keadaan kita, atau sedih, atau bahagia, waktu tidak mau menunggu saat yang tepat. Waktu seperti sungai yang mengalir. Tak ada yang bisa kita lakukan selain membiarkan diri terbawa arusnya, tanpa perlawanan, hingga akhirnya kita sampai di muara yang akan memberi jawaban atas semua misteri hidup kita. Ia pelan-pelan tapi pasti menjelaskan dengan baik semua yang selama ini gelap dan tak pernah kita duga.

 

Seperti misalnya kita tidak tahu persis ketulusan hati seseorang, niat baiknya, dan tujuan-tujuan serta agenda-agenda terselubung yang disembunyikan dan dibungkus dengan kata-kata manis penuh cinta, misalnya. Misteri seperti ini tak mudah diungkap. Jika orang itu baik, waktu akan membuatnya terang; sebaliknya, jika dia hanya sekadar topeng, waktu pasti akan membuka dan membongkar semuanya. Tak ada kebohongan yang sempurna. Sebagaimana tak ada kebohongan yang bisa disembunyikan secara sempurna pula.

 

Masalahnya, saat memulai hubungan dengan seseorang yang melibatkan perasaan, tak mudah meramalkan resiko dan akhir yang bakal terjadi. Cinta dan napsu sangat membutakan mata. Semesta punya alasan menempatkan seseorang dalam hati kita. Seseorang bisa hadir sebagai berkah buat hidup kita atau sebaliknya hanya menjadi pelajaran pahit. Semesta punya alasan menghadirkan seseorang dalam hidup kita sebagaimana juga menghadirkan perpisahan yang tidak kita kehendaki terjadi begitu saja.

 

Saat semesta menyingkirkan dan membiarkan seorang pergi dari hidup kita, mungkin karena Dia mendengar semua percakapan orang itu yang tidak kita dengar. Dia melihat semua keburukan seseorang yang tidak kita lihat sebelumnya. Dan melalui waktu, Dia menguak semua kecurangan dan pengkhianatan yang dilakukan. Dia tahu yang terbaik buat kita meski hal itu menyakitkan. Perih luka atas pengkhianatan seperti itulah yang membuka kenanganku pada sebuah perjalanan yang pernah kulalui bersama seorang wanita.

 

Kuakui, semua ini berawal dari adanya rasa berbeda yang tak bisa aku jelaskan saat menjalani perjalanan ke tanah Sumatra untuk pertama kalinya bersamanya. Dia adalah sosok masa lalu yang berhasil kupancing kembali melalui jerat tipis media sosial. Dulu dia pintar, ceria, dan penuh percaya diri. Kini? Kekerasan domestik telah menguliti harga dirinya, menyisakan tatapan letih yang rapuh hingga mudah ditundukan. Hijab yang sempat dipakainya hanyalah kedok murahan untuk lari dari kenyataan. Benar saja, baru seminggu sejak pertemuan pertama kita, kain penutup kepala itu sudah dilemparnya entah ke mana.

 

“Aku tidak bisa hidup berpura-pura,” bisiknya, mencoba terdengar berani. Sebenarnya, aku benci kepura-puraan yang amatir, tapi aku menyukai watak pemberontaknya yang labil. Menunjukkan dia wanita yang lumayan punya nyali. Nyali yang dibutuhkan untuk membalaskan semua luka dan sakit hati atas kejadian yang sulit dilupakan. Wanita yang hancur dan haus pembalasan adalah sekutu paling berbahaya—sekaligus paling mudah dikendalikan jika kita tahu tombol mana yang harus ditekan untuk menggerakannya.

 

Dalam keadaan labil, penuh luka dan menyimpan dendam seperti itulah wanita itu hadir dalam hidupku. Hanya lewat perjumpaan, pembicaraan intensif, kerja arkeologi yang menyenangkan yang kami lakukan bersama, serta perasaan klop satu sama lain, kami putuskan menikah beberapa bulan kemudian. Pernikahan kami berlangsung hingga beberapa tahun. Kami habiskan dengan berbagai perjalanan arkeologi ke berbagai tempat, sebelum akhirnya sampailah kami pada perjalanan mengunjungi kota Siak Indrapura. Jadi, ini juga bisa dikatakan menjadi sebuah perjalanan kerja yang dipenuhi oleh petualangan cinta kami di usia yang tak lagi muda.

 

Perjalanan dari Pekanbaru memakan waktu hampir tiga jam. Jalan raya membelah hamparan kebun sawit yang seolah tidak pernah selesai. Pohon-pohon berdiri dalam barisan yang terlalu rapi untuk disebut hutan, tetapi terlalu sunyi untuk disebut kehidupan. Sesekali truk pengangkut tandan buah sawit segar melintas, meninggalkan debu merah yang perlahan menghilang di kaca belakang mobil. Aku duduk di kursi penumpang sambil memandang keluar. Wanita itu duduk di sampingku. Kami tidak banyak berbicara. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing.

 

Hubungan kami memang aneh. Kami bisa menghabiskan berjam-jam bekerja bersama tanpa merasa canggung. Kadang kami bisa ngobrol begitu banyak hal bermalam-malam. Tetapi sering kali kehabisan kata-kata ketika tidak ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Keheningan tidak pernah mengganggu kami. Justru keheningan itulah bahasa yang paling sering kami gunakan. Barangkali karena kami sama-sama terbiasa mendengarkan. Aku mendengarkan bangunan tua. Sedangkan dia? Entahlah. Aku tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang didengarkannya.

 

Tiba-tiba mobil mulai menanjak. Aku mengangkat kepala. Di hadapan kami membentang sebuah jembatan baja berwarna kuning keemasan. Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah. Panjang. Angkuh. Membelah Sungai Siak yang mengalir tenang di bawahnya. Bagi kebanyakan orang, jembatan itu hanyalah penghubung antara dua tepian. Tapi, bagiku itulah batas antara hidup lamaku dan hidup yang sama sekali tidak pernah kupilih. Saat itu tentu aku belum mengetahui apa-apa. Aku hanya menganggapnya sebagai jembatan. Sama seperti ribuan jembatan lain yang pernah kulewati. Betapa bodohnya manusia. Kita selalu baru memahami arti sebuah pintu, setelah menyadari bahwa kita tidak mungkin kembali melewatinya ke arah semula.

 

Mobil mulai menuruni jembatan. Di kejauhan kubah-kubah Istana Siak perlahan muncul dari balik pepohonan. Berwarna kuning pucat, memantulkan cahaya matahari pagi yang baru saja meninggalkan kabut tipis di atas Sungai Siak. Aku selalu menyukai bangunan tua. Bukan karena keindahannya. Melainkan karena setiap bangunan tua selalu menyembunyikan satu kebohongan yang berusaha tampak seperti kebenaran. Istana dibangun untuk dikenang. Reruntuhan justru mengajarkan apa yang sengaja dilupakan.

 

Entah kenapa aku menyukai bangunan tua. Demikian pula dengan istana ini. Beratus kesempatan perjalanan ke berbagai tempat tak pernah kulewatkan untuk berkunjung dan merasakan getar aneh yang menghubungkanku dengannya. Bukan fisik. Bukan keindahannya. Buatku, bangunan tua memiliki bau yang berbeda. Bukan bau besi karat. Bukan bau kayu lapuk. Bukan bau lembab jamur pada tembok. Bukan bau debu. Tetapi bau kenangan dan bau kepul asap waktu yang mogok—tak bergerak karena sesuatu yang tak pernah bisa kutinggalkan di masa lalu.

 

Semua bangunan tua menyimpan sesuatu. Ada bangunan tua yang menyimpan sejarah. Ada pula yang menyimpan dendam. Sulit membedakan keduanya, sebab waktu selalu pandai mengubah kebencian menjadi cerita, lalu cerita itu diwariskan begitu lama hingga akhirnya diterima sebagai kebenaran. Jadi, bukan karena sejarah sengaja menipu kita, melainkan karena sejarah tidak akan pernah mau menceritakan semuanya. Ya, sejarah memang selalu lebih tahu bagaimana memilih siapa yang pantas dikenang, siapa yang boleh dilupakannya.

 

Di luar pagar istana yang kokoh dan mewah, kemiskinan merayap di tanah gersang dan berawa-rawa. Istana yang menjadi potret kejayaan Kesultanan Siak di masa lalu ini, memang terlihat sangat mencolok dibanding bangunan-bangunan sekitarnya. Tak terlihat sisa-sisa kejayaan dan kemakmuran di luar istana. Seakan kemakmuran terlanjur kerasan berada di dalam kenyamanan tembok istana, mengunci diri rapat-rapat di dalam dinding marmer, dan tak tertarik berbagi dengan lingkungan yang berada di luarnya.

 

Kini istana Siak berdiri tenang di hadapanku. Seperti biasa aku tidak langsung masuk. Sudah menjadi kebiasaan kubiarkan bangunan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Setiap bangunan tua memiliki cara untuk berbicara kepada orang yang mau mendengarkan. Catnya mungkin telah beberapa kali diperbarui. Sebagian kayunya telah diganti. Namun waktu selalu lebih pintar dari manusia. Ia menyisakan bekas-bekas kecil yang tak dapat dipalsukan. Aku usap salah satu tiang kayu dengan ujung jari. Permukaannya dingin. Halus. Tapi di sela-sela seratnya masih tersimpan guratan tua yang hanya bisa dibuat oleh puluhan bahkan ratusan tahun. Aku tersenyum kecil.

 

Sebagai arkeolog, aku terbiasa memasuki bangunan tua tanpa membawa rasa hormat yang berlebihan. Aku lebih percaya ukuran batu daripada cerita mistis dan takhyul yang menyertainya. Lebih percaya bekas pahat daripada silsilah. Sebab sesungguhnya batu tidak mengenal ambisi. Manusialah yang memberi batu arti. Manusialah yang mengubah bangunan menjadi sebuah simbol. Manusialah yang menulis sejarah. Lalu manusia pula yang mengubah sejarah menjadi alat untuk membenarkan dirinya sendiri.

 

Entah mengapa, pikiran itu melintas begitu saja ketika kakiku melewati ambang pintu istana. Saat itu aku belum mengetahui bahwa berabad-abad sebelumnya, ada seseorang yang juga melangkah memasuki dunia ini dengan keyakinan yang sama besarnya. Ia percaya dirinya lebih besar dari sejarah, Ia percaya sejarah bisa ditaklukkan. Ia percaya dirinya sedang menulis masa depan. Padahal, sesungguhnya sejarah sedang menunggu untuk menelannya.

 

Istana Siak ternyata jauh lebih sunyi daripada yang selama ini aku bayangkan. Banyak orang mengira dinding-dinding bangunan tua Istana ini selalu dipenuhi bisikan sejarah. Nyatanya tidak. Tidak semua bangunan tua punya cerita yang menarik untuk dikisahkan. Istana ini punya sejarah yang justru pandai menyimpan rahasianya dalam sunyi. Menyimpan kisah tragis dan kesedihan. Kini yang terdengar hanyalah langkah-langkah kaki para pengunjung, suara pendingin ruangan yang berdengung pelan, dan sesekali derit lantai kayu yang seolah mengeluh setiap kali diinjak.

 

Langkahku terhenti tepat di ambang ruang utama. Ruangan itu jauh lebih sunyi daripada yang kubayangkan. Bukan sunyi karena tidak ada manusia. Melainkan sunyi seperti sebuah tempat yang telah terlalu lama menyimpan rahasia. Cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela tinggi, membentuk garis-garis terang yang dipenuhi debu halus. Butiran-butiran kecil itu melayang tanpa tujuan, seolah waktu sendiri enggan meninggalkan ruangan ini. Aku menghirup napas panjang. Bau kayu tua. Minyak pelitur. Beludru yang mulai lapuk. Ada sedikit aroma logam. Dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak mampu kujelaskan. Aroma yang terasa asing, tetapi anehnya sangat kukenal.

 

Aku berdiri cukup lama di depan kursi singgasana. Entah mengapa, setiap kali memasuki sebuah bangunan tua seperti istana, aku selalu merasa menjadi orang yang paling bodoh di ruangan itu. Kalah pintar oleh dinding-dinding yang telah menyaksikan begitu banyak pengkhianatan, sumpah setia, pembunuhan, cinta, dan air mata. Sementara aku datang ke sini hanya membawa sepotong rasa ingin tahu dan sebuah harapan menikmati romansa dengan teman seperjalanan. Romansa yang akan malah membawa kisah tragis tentang pengkhianatan.

 

"Akhirnya kita bertemu juga, Raja Kecik," gumamku pelan.

 

Aku tak sedang bicara kepada istana. Aku sedang bicara kepada seseorang yang bertahun-tahun hidup di kepala. Tapi, di dalam istana suasana jauh lebih sunyi dari yang kubayangkan. Beberapa wisatawan berjalan perlahan. Seorang pemandu menjelaskan silsilah kerajaan dengan materi yang diulang ribuan kali. Aku tidak terlalu memperhatikan. Aku lebih tertarik kepada benda-benda yang tak masuk buku sejarah. Bekas pijakan anak tangga. Pintu yang aus karena ribuan tangan. Retak halus di lantai kayu. Benda-benda kecil yang selalu membuatku percaya sejarah bukan kumpulan nama besar. Sejarah adalah manusia, dan manusia selalu meninggalkan bekas.

 

Lalu, aku mencium sesuatu. Bukan bau kayu. Bukan bau debu. Bukan pula bau ruangan tua yang lembap, melainkan bau gaharu. Aku berhenti melangkah. Aneh. Bau seperti itu seharusnya sudah lama menghilang dari bangunan yang kini museum. Tapi aromanya justru semakin jelas. Hangat. Lembut. Seolah baru saja dioleskan. Aku menoleh ke kanan. Tak ada siapa-siapa. Ke kiri. Kosong. Namun bau itu terus memanggilku. Tanpa kusadari aku melangkah mengikuti arah datangnya aroma itu. Semakin jauh. Semakin dalam. Semakin sunyi. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasa bukan lagi sedang mencari sejarah. Melainkan sejarah yang sedang mencariku.

 

"Masih mikirin Raja Kecik?" Suara wanita itu membuyarkan lamunanku. Pertanyaan yang sama dengan yang aku lontarkan dalam pikiranku sendiri tadi. Ternyata dia bisa menangkap apa yang aku pikirkan. Wanita itu seperti menjawab pertanyaan yang aku lempar buat diriku sendiri. Aneh.

 

Aku menoleh ke arahnya. Ia berdiri hanya beberapa langkah di belakangku. Seperti biasa dia tersenyum tipis. Hanya untuk sekadar menggodaku. Senyum tipis yang tak pernah benar-benar berhasil kutafsirkan maknanya sejak bertahun-tahun lalu. Masih tersisa senyum dari masa lalunya, tapi kini dengan mata yang lebih sayu, yang tak mampu menyembunyikan kesedihan dan luka hati. Aku ikut tersenyum seperti biasa.

 

"Kalau jadi Raja, kayaknya berat juga."

 

"Kenapa?"

 

"Kebanyakan musuh."

 

Ia terkekeh pelan. "Atau... kebanyakan cinta."

 

Aku memandang wajahnya beberapa detik lebih lama daripada seharusnya. Kalimat itu terdengar seperti gurauan. Namun ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuatku tak yakin ia sedang bercanda. Hubungan kami dulu memang selalu aneh. Terlalu dekat untuk disebut teman. Terlalu jauh untuk disebut kekasih. Kami pernah saling suka. Mungkin hanya terlalu pengecut untuk memastikan. Waktu berjalan lebih cepat daripada keberanian. Lalu hidup membawa kami ke arah masing-masing. Bertahun kemudian kami dipertemukan lagi, menikah dan pergi ke tempat yang bahkan tak pernah masuk dalam rencana: Istana Siak. Kadang sejarah memang mempertemukan kembali orang-orang yang gagal dipersatukan oleh kehidupan.

 

"Ayo," kataku sambil berusaha menggandeng tangannya, tapi luput dan terlepas pelan-pelan karena masih ada canggung yang kadang menghalang. Ia adalah wanita yang tidak kaku tapi tak bisa dikatakan romantis. Hampir tak ada sentuhan-sentuhan mesra yang bisa menggambarkan kedekatan hubungan kami. Lalu, ia menoleh ke wajahku, mengangguk dan mengikutiku aku dari belakang memasuki ruangan dalam istana.

 

"Ada sesuatu yang mau kutunjukan," kataku lagi untuk menormalisasi keadaan.

 

Saat kaki kami melangkah ke bagian dalam istana, pemandangan kursi-kursi pembantu raja yang berbaris rapi mengiringi kami masuk ke ruang tempat mereka memamerkan mahkota kerajaan, cermin kristal, hingga sepatu emas. Pameran kekayaan yang norak. Semua kemewahan ini mengingatkanku, sultan dan keluarga membentengi diri dengan benda-benda mati agar terlihat berkuasa. Mereka seperti lupa bahwa leluhur mereka dari Pagaruyung berjuang hingga berani mengacungkan keris tepat di depan hidung sultan Johor demi tegak dan berdirinya istana ini.

 

Entah kenapa aku tak tertarik pada pamer kemakmuran sejenis ini. Museum ini lebih memilih memamerkan koleksi mewah ketimbang membangun cerita yang membuat orang mengenal tokoh pendiri Kerajaan, Raja Kecik dan raja-raja sesudahnya. Apa manfaat kehadiran Kerajaan ini buat orang Siak, misalnya. Seolah-olah yang dibutuhkan dari museum ini para pengunjung bakal tercengang-cengang melihat koleksi itu dan tak peduli pada cerita dibaliknya.

 

Aku berkeliling menuju sesuatu yang ingin kuperlihatkan pada wanita itu, sambil menghabiskan waktu menikmati udara ruangan yang berpendingin untuk melawan panas menyengat yang sangat terasa di luar istana. Aku berhenti di depan kotak raksasa setinggi tiga meter yang ingin aku perlihatkan padanya. Komet. Alat musik gramofon kuno buatan Jerman tahun 1896, milik Sultan Siak XI. Penjaga istana dengan bangga bercerita hanya ada dua benda seperti ini di dunia—satu di sini, satu di negeri pembuatnya. Orang-orang menatapnya dengan takjub, menyembah kegemilangan masa lalu yang sudah mati.

 

Aku dan wanita itu berdiri mematung mengagumi benda itu. Betapa kayanya Sultan Siak pada masanya. Konon Sultan terakhir Kerajaan Siak ini termasuk raja pertama yang menyatakan diri bergabung dengan republik yang baru saja diproklamasikan, dan menyumbangkan sebagian besar kekayaannya untuk negara. Harta yang memang tidak bisa diwariskan ke siapapun karena beliau memang tidak dikarunia seorang anak sebagai penggantinya. Harta tak akan dibawa mati katanya. Daripada menjadi sumber sengketa, lebih baik digunakan untuk kepentingan yang lebih besar yaitu kepentingan bangsa dan negara.

 

Tapi sudahlah, cerita tentang sultan yang berhati emas ini tentu cuma penghangat cerita. Rasa penasaranku pada bunyi yang mungkin dikeluarkan oleh benda itu lebih menyita pikiranku. Kuperhatikan seksama, kutemukan bagian engkol pemutar yang menggerakan piringan baja itu agar mengeluarkan musik. Bayangkanku kotak besar ini mirip music box mini yang pernah kumiliki saat kanak-kanak dulu, dengan patung kecil sepasang penari sedang berdansa. Kali ini besarnya hampir dua kali lipat tinggi badan manusia, dan tak ada patung sepasang penari di sana. Ingin sekali kudengar musiknya. Tapi kotak itu dijaga dengan ketat, karena tidak boleh dimainkan sembarang waktu oleh penjaga istana.

 

Rasa penasaran yang begitu besar untuk mendengar musik dari kotak itu mendorongku mencari siasat untuk memuaskan rasa ingin tahu itu. Aku pura-pura kembali berjalan ke arah lain, sambil menunggu penjaga pergi menjauh. Aku memberi isyarat mata pada wanita di sampingku, sebuah kode bisu untuk pembagian tugas, yaitu mengalihkan perhatian penjaga. Aku berjalan memutar, berpura-pura mengagumi sudut lain ruangan sembari menghitung detik dan jarak. Mataku mengawasi punggung penjaga istana yang mulai lengah. Kesempatan tidak datang pada mereka yang meminta, melainkan kepada yang tahu kapan harus mencuri. Nasib baik, selalu berpihak pada orang yang berani berbuat culas.

 

Nasib baik berpihak padaku. Penjaga itu menghilang entah kemana lalu dengan sigap aku berbalik kembali ke kotak besar itu. Aku panggil wanita itu kembali menuju Komet. Tanpa menunggu lama, pelan-pelan kusentuh dan kuputar engkol yang terletak di samping kotak itu. Mataku tetap celingukan menoleh kiri dan kanan untuk memastikan situasi aman untuk melakukan kenakalan ini. Saat engkol itu aku lepas, tiba-tiba terdengar empat nada awal lagu Ludwig van Beethoven paling terkenal, Symphony no 5.

 

Ruangan segera dipenuhi komposisi agung itu. Anehnya tak ada reaksi penjaga dan pengunjung. Tiba-tiba aku merasa tidak berada di dimensi waktu yang sama dengan pengunjung lainnya. Aku terhanyut sihir keindahan musik yang menggema di sekeliling istana. Luar biasa indah komposisi Symphony no 5 ini. Dengan klimaks yang pelan-pelan terus menanjak, menuntun pendengar dengan perasaan bunggah menuju ruang imajinasi tanpa batas. Musik yang secara keseluruhan mengalir deras seperti rhapsody dengan cerdik mendayu, merayu pendengaran banyak orang.

 

Menggerakkan jiwa secara mendalam dan intim, yang tidak lain merupakan sejenis kerinduan tak terlukiskan. Bersifat episodik namun terpadu, mengalir secara bebas. Ekspresi dari perasaan dan antusiasme meluap-luap. Menampilkan berbagai suasana hati, warna, dan nada yang sangat kontras hingga kord terakhir—bahkan di saat-saat setelahnya—aku seperti kehilangan daya untuk bisa melangkah keluar dari alam imajinasi yang menakjubkan itu, tempat kesedihan dan kegembiraan memelukku lewat indahnya alunan orkestra.

 

Tiba-tiba aku merasakan sekelilingku berubah. Ada sesuatu yang aneh. Jam berhenti. Burung diam. Angin mati. Udara berubah. Aku dan wanita itu saling melihat. Komet kemudian seperti menyedotku, membawaku masuk ke dimensi lain yang tak aku kenal. Aku tersedot melewati lorong waktu ke dunia antah-berantah. Melayang melewati awan dan horizon yang pelan-pelan berubah, berbeda dari sebelumnya. Udara yang lebih bersih dan langit yang lebih biru dan negeri yang lebih hijau. Tubuhku melesat makin kencang hingga aku kehilangan kesadaran karena gaya anti-gravitasi. Dunia gelap dan kini hanya warna hitam legam hingga ke ujung pandangan mata.

 

Aku terbangun dan membuka mata, dengan bau minyak gaharu yang asing. Langit-langit kayu berukir bergoyang pelan di atas kepalaku. Kipas kain, bau gaharu yang makin keras, serta suara kicau burung membuatku langsung terduduk. Ketika hendak bangun, tubuhku terasa lebih berat. Apakah ini rumah sakit? Tidak. Ini bukan rumah sakit. Tak ada selang infus. Tidak ada lampu. Tidak ada jendela kaca. Yang ada hanya ukiran-ukiran Melayu memenuhi dinding.

 

"Aku masih bermimpi." Ku tampar pipiku sendiri. Sekali. Tidak sakit. Aku tersenyum kecil. "Nah... benar." Lalu aku menampar lebih keras. Plaaak! Panas. Perih. kupegang pipiku. "Kenapa mimpi bisa sesakit ini? Tanganku—bukan, ini bukan tanganku. Kulitnya lebih gelap, jarinya lebih besar, dan di pergelangan kirinya melingkar gelang emas yang tidak pernah kumiliki. Aku tersentak berdiri. Seorang lelaki bersorban segera berlutut.

 

“Paduka, apakah mimpi buruk itu datang lagi?”

 

“Paduka?”

 

Dadaku mendadak sesak. Aku mencari ponsel di saku celana. Yang kutemukan hanya kain sutra dan sebilah keris pendek. Untuk pertama kalinya aku merasa takut bercampur ngeri pada tubuh yang selama ini kutinggali. Kurasakan tulang-tulang wajah bergeser. Suaraku tiba-tiba berubah. Napasku berubah. Detak jantung berbeda. Aku bahkan tidak mengenali aroma tubuhku sendiri. Aku angkat tangan kanan perlahan. Tanganku bergerak. Tapi otakku menolak mengakui sebagai milikku. Seperti memakai sarung tangan yang terbuat dari daging orang lain. Aku mengepal. Jari-jari itu ikut mengepal. Aku membuka telapak. Ia membuka. Semua patuh pada kehendakku, namun tak satu pun terasa akrab. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku menyadari bahwa memiliki kendali tidak selalu berarti memiliki sesuatu.

 

“Ini minum ramuan obat penghilang sakit dan penghilang demam. Badan paduka panas sekali. Keringat mengucur deras di tubuh paduka sejak malam tadi.” kata laki-laki bersorban tadi.

 

Aku hanya melongo mendengar apa yang dikatakan laki-laki itu. Kusapu pandangan sekeliling ruangan, tampaknya aku sedang berada di sebuah istana yang sangat luas. Aku merasakan panik karena aku tak tahu siapa diriku sebenarnya sekarang. Aku bangun dari pembaringan. Shock. Aku seperti tidak percaya. Perutku mual. Aku mulai menangis, ketakutan. Aku kembali pingsan dan saat bangun aku telah menjadi si Bujang, calon Raja Kecik di masa Kerajaan Siak, ratusan tahun lalu. Wanita itu? Tampaknya dia terpisah denganku entah kemana.

 

Aku tak peduli lagi kemana wanita itu pergi. Aku lebih dibebani oleh urusan baru bagaimana bisa membebaskan diriku dari tubuh yang bukan tubuhku ini. Dalam panikku, aku berlari mencari cermin, dan menemukannya di ruang belakang. Aku pandangi wajahku di cermin. Aku melihat Raja Kecik di sana. Bukan diriku. Aku cemas, aku marah. “Prang…” tiba-tiba aku pukul cermin itu hingga pecah. Cermin pecah berantakan. Serpihannya berceceran di lantai.

 

Orang-orang dan pengawal kerajaan berdatangan. Mereka semua berdiri mematung tak berani melakukan apapun tanpa perintahku. Tampaknya aku berkuasa atas mereka. Mereka tak tahu bahwa yang ada di dalam tubuh Rajanya adalah aku. Tapi, tetap saja, setiap pecahan cermin tadi memantulkan wajah Raja Kecik, bukan wajahku. Aku meraung. Kekuasaanku sebagai raja bahkan tak bisa memerintahkan serpihan kaca yang menolak mengembalikan wajahku.

 

Tak mudah buatku menerima semua ini. Malam pertama. Aku sendirian. Menangis, bukan karena takut mati, tetapi karena aku menyadari tidak ada seorang pun di abad ke-21 yang tahu aku masih hidup. Ibuku dan anak-anakku pasti cemas aku pergi menghilang tanpa pamit. Mereka tahu kepergianku ke Istana Siak. Teman-temanku, wanita itu. Semua pasti akan mengira aku hilang. Sedangkan aku bahkan tidak tahu pergi kemana dan aku berada di tahun berapa sekarang.

 

Aku mengurung diri di dalam kamar istana berhari-hari, hingga akhirnya aku putuskan untuk berkompromi dengan situasiku sekarang yang pasti harus aku jalani. Aku harus menyesuaikan diriku dengan kehidupan seorang calon Raja yang dipanggil oleh para pengawalnya dengan Baginda Raja Kecik. Aku hanya harus belajar bagaimana cara aku bersikap dan berperilaku di hadapan orang-orang yang tak terlalu kukenal secara dekat. Dan yang lebih penting lagi bagaimana aku bisa menerima perubahan-perubahan ini baik secara fisik dan mental.

 

Aku kini berada di negeri Minangkabau, tepatnya di Pagaruyung empat abad lalu. Situasi yang mirip seperti yang kupelajari sebelum berangkat. Persis dengan gambaran yang cerita Hikayat terkenal itu. Aku terlempar ke tubuh tokoh Hikayat Siak bernama Bujang dari Pagaruyung. Kini aku diserbu suara-suara baru yang berbeda. Sekelilingku yang terdengar adalah suara potongan sejarah Pagaruyung, bau kayu istana. Suara ombak Selat Malaka. Suara orang mengaji. Soal Siak. Soal Takhta Melayu Johor yang semuanya bercampur. Menghadirkan ambience baru yang kini akan terus menyelimuti hari-hariku ke depan.

 

Aku terlempar lewat lorong waktu dari Istana Siak abad 21 ke Istana Pagaruyung abad 18. Aku seperti seorang Sam Beckett (Scott Bakula) yang melakukan lompatan kuantum ke tubuh orang di masa yang jauh berbeda untuk memperbaiki keadaan dan mengubah hidup orang-orang yang tubuhnya ditempati seperti dalam serial TV Quantum Leap di tahun 1990-an. Aku melompat ke tubuh seorang laki-laki Pagaruyung, dan sejak itu aku berubah menjadi si Bujang, pria tampan yang kelak menjadi Raja Kecik di Kesultanan Siak.

 

Sesungguhnya, lompatan ini membuat efek kejut yang luar biasa pada diriku. Bagaimana tidak? Tiba-tiba aku hadir di sebuah tempat dan sebuah masa yang jauh dari kehidupanku semula. Meski selanjutnya aku hanya akan memainkan peran seperti yang telah dituliskan sejarah, ini tetap situasi yang tidak mudah untukku. Untunglah, aku pernah membaca sedikit sejarah Siak berikut cerita-cerita yang aku dapatkan sebelum perjalanan ke Siak ini aku lakukan. Kini aku hidup dalam tubuh Raja Kecik berbekal pengetahuan yang aku peroleh dari buku-buku yang kupelajari dan Hikayat Siak yang pernah aku baca sebelum pergi ke Istana Siak siang tadi.

 

*****

 

Dan kini, aku adalah si Bujang yang merupakan seorang putra mahkota Kerajaan Melayu Johor yang diselundupkan demi keselamatan, lalu dititipkan pada Nakhoda Malin, seorang saudagar Minang yang cerdik. Tapi tunggu dulu. Setelah beberapa lama menjadi si Bujang dari Pagaruyung atau Raja Kecik, aku pelan-pelan memahami bahwa kisah tentang diriku sebagai putra mahkota Johor semata-mata cuma bualan. Cuma dongeng yang aku susun untuk membuat semua orang di Pagaruyung, Siak, Bengkalis hingga ke Semenanjung percaya.

 

Gilanya, orang-orang bodoh di seputaran Selat Malaka itu dengan patuh menelan dongeng yang kuciptakan. Mereka percaya begitu saja pada narasi pelarianku memudiki Batanghari hingga ke Istana Pagaruyung, tempat Putri Jamilan membesarkanku dengan kasih sayang palsu layaknya darah daging sendiri. Mereka juga begitu yakin sebagai putra mahkota aku harus dibesarkan di Pagaruyung, sebelum akhirnya aku dikawinkan dengan putri Pagaruyung berdarah Jawa untuk mengunci aliansi politik yang sesungguhnya untuk merebut takhta Johor.

 

Sejatinya, seluruh silsilah agung itu hanyalah fiksi busuk yang dengan sengaja kupelihara untuk mempermudah jalan mengangkangi kekuasaan. Dongeng tentang 'balas dendam atas kematian Sultan Johor' dan 'hak merebut mahkota' sengaja kubangun sebagai pelicin agar orang-orang Melayu yang naif itu sudi membukakan pintu istana mereka untukku. Sejatinya, tidak ada darah suci di nadiku; aku hanyalah seorang pemuda Minang yang berotak culas, haus kekuasaan, dan dipenuhi ambisi gelap untuk menguasai dunia mereka.

 

Lahir dengan otak Minang yang tajam, aku tumbuh menjadi ahli manipulasi yang ulung. Lidahku adalah senjata paling mematikan; aku bisa mengarang fiksi paling megah dari kehampaan dan dengan mudah mencekoki pikiran orang-orang bodoh, terutama bangsawan, keluarga kerajaan, termasuk para wanita yang matanya mudah dibutakan oleh pesonaku. Masa mudaku adalah rangkaian penaklukan tanpa ampun, menjelajahi separuh Pulau Perca bagian timur hingga menembus ranah Semenanjung Malaya.

 

Aku adalah monster yang gila kuasa, dengan syahwat politik dan birahi yang jauh melampaui batas manusia biasa. Sambil memimpin pasukan bayaran hilir mudik mengumpulkan sekutu, aku selalu menyempatkan diri menjajah ranjang-ranjang wanita di setiap pelabuhan persinggahan. Demi menyempurnakan ambisi ini, aku berburu segala macam ilmu dan ajian kesaktian di sepanjang rawa-rawa Batanghari, Rawas, hingga Palembang. Aku merayap mulai dari Johor, Siantan, hingga sampai ke Bangka.

 

Kutebar dongeng di sepanjang jalan bahwa aku adalah benih rahasia dari Sultan Mahmudsyah II dengan Encik Pong. Bermodalkan paras tampan yang menipu dan beberapa bukti kesaktian yang aku pamerkan, orang-orang yang mudah percaya itu bersujud tunduk di hadapanku. Mereka sangat yakin aku adalah pewaris takhta Johor yang sah, dan tak menyadari bahwa aku sedang merancang rencana licik untuk mendepak Dato Bendahara, raja Johor yang tak punya hak atas kursi singasana yang didudukinya kini.

 

Mereka percaya bahwa aku adalah buah dari kehamilan akibat air mani Sultan yang tertelan oleh Encik Pong pada suatu malam, sehari sebelum Sultan dibunuh oleh Laksamana Bentan Megat Sri Rama. Sebagai upaya mempermanis cerita cabul ini, kuceritakan bahwa Sultan memiliki firasat bakal dibunuh, sehingga buat dia, Encik Pong adalah wanita penyelamat zuriat (benih) keturunan raja besar Iskandar Zulkarnaen yang menitis melalui air maninya. Kususun fiksi tentang omongan Sultan Mahmudsyah II malam menjelang kematiannya. “Hai Pong jikalau engkau hendak berputera denganku, telanlah olehmu dan kandunglah rahasiaku, supaya ada benih Iskandar Zulkarnain di dalam Tanah Melayu ini, jangan putus nasabku.”

 

Otak Melayu di Semenanjung itu sangat rapuh dan mudah disetir. Dengan sedikit kecerdikan, aku berhasil membungkus narasi cabul Encik Pong menelan air mani itu menjadi dongeng suci penuh kebajikan yang mereka telan bulat-bulat tanpa protes dan perlawanan. Dari kebohongan kotor itulah sosok 'Raja Kecik' lahir, sebuah identitas palsu yang diagung-agungkan sebagai pewaris sah takhta suci singasana Kesultanan Johor.

 

Aku tidak peduli dengan etika atau ketersinggungan suku lain, karena sejarah mencatat sebuah fakta: sejak zaman kuno dulu hingga hari ini, orang-orang Minangkabau dari Pagaruyung dan keturunannya selalu tahu cara mengangkangi tanah Melayu. Kami tidak perlu menaklukkan mereka dengan pedang yang kasar, melainkan dengan berbekal superioritas kecerdasan dan akal bulus kami yang jauh di atas kapasitas berpikir mereka. Tak sulit menundukkan sebuah bangsa yang sering terlalu bangga dengan kebodohannya.

 

Buktinya? Lain cerita yang kukarang, lain pula respon yang mereka percaya. Cerita percabulan Sultan dan Encik Pong, sejatinya cerita yang kubuat-buat. Tapi versi yang mereka ceritakan lebih gila daripada yang bisa aku karang. Sudahlah ceritaku tidak masuk akal, mereka sambut dengan cerita yang lebih tidak masuk akal lagi. Cerita yang telah menjadi rahasia umum yang menjadi buah bibir di negeri Melayu. Kalian bahkan bakal tertawa terkekeh-kekeh mendengar cerita versi lain untuk membenarkan ceritaku itu. Petikan cerita itu sebagai berikut:

 

Tatkala baginda meninggal, zakarnya berdiri. Maka tiadalah berani orang-orang menguburkan baginda. Musawaratlah segala menterinya, karena kejadian yang sangat Ajaib itu. Kata seisi istana: Saat baginda tengah berahikan Enche’ Pong, saat itu baginda pun mangkat. Karena segala menterinya takut baginda tiada meninggalkan anak cucu yang bangsa daripadanya maka disuruh lah oleh orang-orang itu Enche’ Pong satuboh (bersetubuh) dengan baginda ketika itu. Maka apabila telah selesai baharu lah rebah zakar baginda itu. Dan Enche’ Pong itu buntinglah.

 

Lengkaplah kebohongan yang beredar dan dipercaya oleh semua orang. Cerita yang awalnya cuma sejengkal, selanjutnya menjadi sehasta, dan akhirnya menjadi sedepa. Demikianlah gosip dan cerita fiksi dengan cepat tersebar kemana-mana, dari cerita biasa menjadi hiperbola yang makin jauh dari aslinya. Bagaimana mungkin persetubuhan bisa berlangsung dengan mayat yang kemaluannya masih berdiri. Dan Encik Pong hamil melalui persetubuhan ganjil itu.

 

Aku tak mau mengatakan cerita karanganku jauh lebih masuk akal ketimbang cerita versi lainnya, karena jujur saja keduanya sama-sama tidak masuk akal. Tapi, kata orang buku sejarah yang tidak mengandung kebohongan pastilah buku yang sangat membosankan. Sangat masuk akal kenapa anak-anak kita hari ini lebih menyukai dongeng ketimbang sejarah. Barangkali beginilah cara sejarah dilahirkan. Setiap orang menulis kebohongannya masing-masing. Dan setiap orang menulis dosanya masing-masing.

 

Tapi, pergundikan Sultan dan Encik Pong memang bukan cerita bohong. Semua orang percaya pergundikan itu memang begitu adanya. Encik Pong melahirkan seorang bayi, sejatinya. Yang tak banyak diketahui orang, sesungguhnya yang lahir dari hasil pergundikan itu adalah seorang bayi perempuan, yang karena aib dan juga membahayakan penguasa baru, dibuang entah kemana. Tiada orang yang tahu kemana bayi perempuan itu dicampakkan, karena sejak itu tak satupun cerita membicarakan perihal bayi itu. Cerita tentang bayi perempuan yang dilahirkan Encik Pong tak pernah muncul dalam percakapan-percakapan umum.

 

Sejarah di tanah ini hanyalah sebuah kanvas yang kosong menganga. Dan akulah yang memegang kuasnya. Ketika mereka kehilangan jejak tentang bayi yang dibuang itu, aku pun datang mengisi kekosongan tersebut dengan dongeng versiku sendiri, mengklaim bahwa akulah anak yang hilang itu. Sungguh menggelikan melihat bagaimana seisi dunia berlutut pada sebuah tipu daya yang kurancang dari ruang gelap. Kebohongan ini begitu rapi hingga tertanam kuat di kepala mereka selama berabad-abad. Bahkan kuperkirakan ketika jasadku sudah membusuk nanti, keturunanku akan membubuhkan tinta di atas kertas, mengabadikan dusta hebat ini menjadi sebuah kitab suci sejarah yang disembah orang: Hikayat Siak.

 

Aku bergerak di antara kabut kontroversi dan ketidakpastian seputar asal-usul 'Raja Kecik'. Tidak ada catatan akurat, tidak ada saksi hidup, dan tidak ada bukti otentik tentang rahim mana yang melahirkanku. Ketiadaan bukti justru menjadi keuntungan buatku untuk memperkuat cerita dan meyakinkan mereka. Bukti bahkan justru akan menjadi jalan masuk bagi para sejarawan untuk membantah semua cerita. Kelak, para sejarawan masa depan dan pengamat amatir itu hanyalah sekumpulan orang dungu yang menyuapi diri mereka sendiri dengan remah-remah cerita lisan yang aku wariskan turun-temurun tanpa nalar.

 

Justru di dalam ruang gelap tanpa kepastian itulah celah kemenanganku berada. Subjektivitas masyarakat yang rapuh adalah mainan empuk bagi otak cerdikku untuk mendikte apa yang nyata dan apa yang fiktif. Berkat kelihaianku menyusun cerita, dongeng ini kini bermutasi menjadi kebenaran mutlak di lingkungan masyarakat Melayu yang naif. Lagipula, kebenaran sejarah pada akhirnya bukanlah tentang apa yang sesungguhnya benar-benar terjadi. Sejarah semata-mata adalah soal kuasa. Siapa yang paling kuat, paling licik, dan berkuasa, dialah yang akan memegang kendali atas apa yang harus dipercaya oleh dunia."

 

Begitu usiaku cukup matang untuk memetik kekuasaan, Putri Jamilan melepasku untuk menguji kelihaianku menyusuri Batanghari. Misi pertamaku adalah menunggangi kepentingan Sultan Lumambang dari Palembang, menyusup ke jantung Johor dengan kedok sebagai pembawa Tapak Sirih Diraja. Di sana, parasku yang sengaja kumirip-miripkan dengan wajah mendiang Sultan Mahmudsyah II langsung memicu riak. Bisik-bisik ketakutan mulai merayap di lorong-lorong gelap istana. Aku tahu desas-desus ini beracun bagi keselamatanku, karena Dato Bendahara yang paranoid pasti akan mencium aroma ancaman terhadap takhta curian yang sedang didudukinya.

 

Rakyat Johor yang bodoh—terombang-ambing antara curiga dan takjub—mencoba mendesakku ke sudut mati, yang tidak bisa kutolak. Mereka menantangku dengan sebuah ujian konyol: menyulap air asin menjadi tawar dalam sekejap mata. Sungguh permainan anak kecil. Cuma lewat trik murahan yang sudah kusiapkan bersama pembantuku di balik layar, air laut itu pun akhirnya bertukar rasa. Mereka kubuat tercengang dan makin percaya.

 

Dan sebagai pelengkap sandiwara, aku menengadahkan tangan ke langit, berucap sinis bahwa ini semua ini bisa terjadi adalah karena 'izin Tuhan'. Bagi massa yang otaknya sudah tumpul dan dibutakan oleh dogma agama, manipulasi spiritual seperti ini selalu berhasil. Dalam sekejap, mereka bersujud, bersorak histeris menyembahku sebagai Yang Dipertuan Raja Kecik, Tuanku raja Johor Yang Maha Mulia.

 

Pekik kemenangan itu mengguncang Johor, menembus pori-pori dinding istana dan membakar telinga Dato Bendahara. Sesuai kalkulasiku, sang paria itu langsung mengerahkan pasukannya untuk memburuku. Aku memilih mundur taktis. Bersama Sultan Lumambang, aku angkat kaki kembali ke Palembang, bukan karena takut menumpahkan darah, tapi karena belum saatnya bertaruh tanpa kepastian. Kunjungan singkat itu sudah lebih dari cukup; aku telah menguliti seluruh kelemahan pertahanan Johor dan membaca ketakutan terbesar Dato Bendahara. Peta kelumpuhan mereka sudah terkunci rapat di dalam kepalaku.

 

Kembali di Palembang, aku sengaja menahan diri, tinggal sejenak membantu memadamkan pemberontakan orang-orang yang ingin mengkudeta Sultan Lumambang saat kami pergi ke Johor. Perang berdarah itu kuhadapi dengan dingin, sekadar untuk mengikat utang budi yang tak mungkin bisa ia bayar, nantinya. Begitu takhtanya berhasil kukembalikan dan darah di pedangku telah mengering, aku berpamitan pulang ke Pagaruyung.

 

Sultan Palembang yang naif dan dilingkupi rasa syukur luar biasa melepas pelayaranku dengan sejuta penghormatan. Ia membekaliku dengan pakaian emas kebesaran dan keris bertuah. Sebuah legalitas visual yang kumanfaatkan untuk menyempurnakan topengku sebagai calon penguasa tunggal. Menjadi raja bukan lagi sekadar delusi liar di kepalaku, melainkan takdir yang sedang kurajut. Namun, seorang penakluk agung jelas tidak bisa selamanya menumpang di tanah orang. Aku butuh sebuah istana milikku sendiri.

 

*****

 

Dalam pelayaran kembali ke Pagaruyung, sebuah persimpangan takdir mencegat langkahku. Sebuah babak baru yang akan mematangkan instingku sebagai pemburu kekuasaan yang lapar akan takhta dan istana. Tubuhku mungkin sedikit letih setelah rangkaian intrik berdarah di Palembang. Aku memutar arah haluan melalui jalur semula, memotong arus dari Musi menuju Rawas. Namun di tengah jalan, entah hasutan iblis mana yang berbisik ke telingaku, aku sengaja membelokkan kemudi ke arah selatan, menuju Baturaja. Aku tidak terkejut, pun tidak tersesat.

 

Aku hanya membiarkan diriku hanyut oleh tarikan magnet kegelapan yang begitu kuat. Magnet apa yang aku sendiri tak tahu. Kupikir rasa letih ini membuatku tak mampu berpikir jernih dan membiarkan diriku terseret hingga ke sebuah daerah bernama Baturaja. Tapi tampaknya letih ini justru membuat naluri liarku semakin tajam, menyeretku tanpa perlawanan menuju ke sebuah tempat yang belum pernah sama sekali terjamah oleh kakiku.

 

Baturaja adalah tanah asing yang benar-benar gelap bagiku. Disana tak ada satu pun sekutu, apalagi jalinan darah. Tapi di kota inilah aku sengaja melemparkan diri untuk mendiktekan takdir baru. Persetan apakah ini skenario Tuhan atau rencana iblis, karena bagiku, keduanya bisa ditunggangi demi ambisiku. Aku merayap menjelajahi setiap sudut kota, membaca angin dengan firasat predator yang tahu ke mana mangsanya berada. Bagi lelaki dengan isi kepala sepertiku, kaki ini melangkah bukan tanpa kalkulasi.

 

Selain tumpukan harta dan mutlaknya kekuasaan, wanita adalah magnet mematikan yang tak pernah berhasil aku tolak. Aroma uang, kuasa, dan selangkangan wanita memiliki bau khas yang tak pernah gagal kukenali. Penciumanku terlalu tajam untuk melewatkan itu semua. Dan kombinasi mesum dari ketiga hal itulah yang kini sengaja kubiarkan menjebakku, bersiap untuk mengobrak-abrik kota yang awalnya tampak begitu biasa.

 

Ketajaman instingku terbukti ternyata. Di tengah pengap Pasar Baturaja, langkahku mendadak terhenti. Aku sendiri tidak tahu apa yang menghentikannya. Bukan teriakan riuh pedagang. Bukan bau anyir daging. Bukan pula keributan tawar-menawar yang sejak tadi memenuhi telinga. Mataku tiba-tiba tertumbuk pada seorang perempuan yang sedang memotong daging di sudut pasar. Tangannya bergerak pelan. Tok. Tok. Tok… Pisau di tangannya turun dengan ketepatan yang aneh. Tidak terburu-buru. Tidak pula dibuat-buat. Setiap potongan seolah telah mengetahui ke mana mata pisaunya akan berhenti bahkan sebelum lengannya bergerak.

 

Tidak ada senyum yang dibuat-buat. Tidak ada lirikan yang sengaja dilemparkan kepada para lelaki. Bahkan ia lebih sering menatap daging di hadapannya daripada wajah orang-orang yang membeli. Anehnya, justru karena itulah aku terus memandanginya. Seumur hidupku perempuan-perempuan biasanya berlomba mencuri perhatianku. Mereka merias diri, memilih kata-kata, bahkan tak jarang saling menjatuhkan demi memperoleh sedikit belas kasih dari seorang calon raja. Perempuan ini tidak. Ia bahkan belum tentu sadar bahwa sejak tadi sedang kuperhatikan. Dan untuk pertama kalinya aku merasa tidak suka diabaikan.

 

Aku tetap berdiri disana. Terpaku oleh pemandangan yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Aku kagum pada cara perempuan itu memainkan daging dengan begitu indah dengan pisaunya. Seorang pembantuku nyaris menabrakku dari belakang. Aku mengangkat tangan tanpa menoleh. Semua diam. Entah berapa lama aku memandang perempuan itu. Yang pasti, ketika akhirnya ia mengangkat wajah, aku baru sadar bahwa aku telah lupa mengapa dan untuk apa sebenarnya aku datang ke pasar itu.

 

Sejenak waktu seperti berhenti berputar. Ada semacam kemolekan ganjil yang memancar dari tubuhnya, jenis daya tarik alami yang belum pernah kutemui di sepanjang perjalananku, yang membuatku terpana. Jangan bayangkan dia sejenis putri keraton yang anggun dan berselimut cahaya suci. Jangan bayangkan ia seperti putri-putri istana yang sepanjang hidupnya diselimuti minyak kesturi dan sutra halus. Pakaiannya sederhana. Wajahnya nyaris tanpa rias. Bahkan bila ia berjalan di tengah keramaian, mungkin tak seorang pun akan menoleh dua kali. Anehnya, aku justru tak mampu menoleh sekali pun ke arah lain. Namun demikian dari kesederhanaan yang diperlihatkannya, tersimpan sebuah pesona gelap yang sulit dicerna akal.

 

Aku hendak melangkah, tetapi kedua kakiku seperti lupa caranya berjalan. Sudah beberapa detik perempuan itu berdiri di depan gerai dagingnya, namun mataku masih belum beranjak dari wajah yang bahkan belum sempat kukenal. Saat hendak melangkah ketika tanpa sadar aku berhenti sudah terlalu lama, entah mengapa napasku terasa lebih pendek daripada biasanya. Tatapanku tak mau beranjak dari perempuan yang tengah memamerkan belahan dagingnya. Aku bahkan tidak segera menyadari para hulubalang di belakangku ikut berhenti karena rajanya mendadak berdiri membeku, bak patung yang baru saja terbentuk karena sihir yang sangat kuat.

 

Tapi penampakkan wanita penjaja daging ini adalah sebuah anomali. Tempat kumuh penuh lelaki berbau keringat ini jelas bukan panggung yang layak untuk makhluk indah sepertinya. Pasar itu dipenuhi bau darah, keringat, dan ikan asin yang mulai membusuk. Anehnya, semua kekotoran itu seperti berhenti beberapa langkah sebelum mencapai perempuan tersebut. Bukan karena ia berbeda. Tetapi karena mataku tak lagi mampu melihat apa pun selain dirinya.

 

Kini, tatapanku menjeratnya tanpa ampun seperti tatapan predator melihat mangsa. Pakaiannya yang tertutup rapat, dan sangat sopan tidak mampu menghentikan hasrat kelaki-lakianku yang begitu menggebu-gebu. Pupur di wajahnya yang tipis, tanpa riasan berlebihan, tak ada gestur murahan sama sekali darinya untuk memancing puluhan pasang mata genit laki-laki, tapi tetap mengandung magnet nafsu yang begitu kuat di kepalaku.

 

Justru dari kesederhanaan itulah racun pemikatnya menguar, menembus benteng pertahananku. Baru kali ini ada wanita biasa yang mengambil perhatianku dengan cara yang sangat berbeda. Persetan apakah ini merupakan skenario Tuhan atau bahkan cuma sekadar jebakan iblis, yang jelas, kini isi kepalaku sudah terkunci oleh jeratan kemolekan targetnya. Naluri pemangsaku bangkit seketika, mendidih dalam darah dan memerintahkanku untuk segera menaklukkan wanita itu agar jatuh ke dalam pelukanku.

 

Bagiku, dia bukan lagi cuma sekadar pemandangan biasa; dia adalah target yang harus kukuasai sepenuhnya. Tapi lucunya, sepertinya aku yang justru pelan-pelan dikuasainya. Kalian pasti akan bilang, ah, ini pasti cuma karena terpikat oleh sesuatu yang bersifat sementara. Tapi rasanya kali ini sangat berbeda. Mari kita sama-sama lihat bagaimana nantinya. Tebakanku sangat jarang meleset. Sesungguhnya, bagiku dia adalah target yang harus kutaklukkan. Lucunya, sepertinya akulah yang pelan-pelan mulai ditaklukkannya.

 

Harus kuakui, sepanjang petualanganku menjajah berbagai wilayah, aku pernah menemui begitu banyak wanita yang awalnya terlihat begitu memikat, namun tak perlu waktu lama, semuanya berakhir hambar dan serupa saja di mataku. Pesona mereka mudah sekali sirna tak butuh waktu lama. Buatku, mereka semua hanya sekumpulan mangsa yang membosankan yang cuma sekadar pemuas dahaga sementara, dan setelah itu aku butuh pemuas dahaga berikutnya.

 

Aku tidak tahu di mana letak sihirnya, yang kutahu pasti hanyalah gejolak ambisi yang meluap-luap, membuat seluruh badanku didera obsesi yang begitu hebat. Dia adalah sejenis candu yang pekat. Jenis candu yang tidak hanya menantang egoku sebagai penguasa, tetapi membakar hasratku untuk memiliki dan mendominasinya tanpa kenal waktu. Aku sengaja membiarkan diriku tenggelam dan hanyut ke dalam pusaran obsesi ini. Tampaknya, komponen pertama dari rencana besar pencarianku telah kutemukan: Wanita.

 

Aku sengaja menahan langkah di Baturaja satu dua hari lebih lama. Sebuah kamar sempit dekat pasar sudah cukup bagiku untuk mengintai perempuan itu. Dari balik jendela reyot penginapan, aku menguliti setiap gerak-geriknya seperti harimau yang telah tiga hari mencium bau darah. Tidak ada yang lebih berbahaya daripada lelaki yang sedang dibakar rasa ingin tahu. Apalagi karena urusan syahwat. Tak terlalu sulit mencari informasi mengenai wanita molek itu. Cuma perlu sedikit pancingan beberapa patah kata, lewat lidah ember dari sang pemilik penginapan, akhirnya rahasia terselubung wanita itu mulai terkuak pelan-pelan hingga ke permukaan.

 

Nama wanita itu Encik Entah, kata si pemilik penginapan. Sematan gelar 'Encik' di depan namanya membuktikan satu hal: dia bukan sekadar wanita murahan kelas bawah. Itu adalah panggilan kehormatan bagi wanita terhormat Melayu. Namun, Baturaja jelas bukan tanah kelahirannya. Nama 'Entah' di belakang gelarnya adalah lelucon yang diciptakan pasar karena asal-usulnya yang gelap sebelum diseret oleh mendiang suaminya ke kota ini. Jadi, Encik Entah adalah seorang Encik yang asal-usulnya gelap buat masyarakat Baturaja.

 

'Entah' berarti tidak tahu—sebuah misteri tanpa identitas. Nyonya terhormat yang tidak diketahui dari rahim mana yang telah melahirkannya. Sungguh latar belakang yang sempurna untuk seorang calon sekutu yang bisa kubeli dengan harga murah. Sekutu yang tentunya akan membantuku memenuhi ambisiku. Tapi otakku belum mau terburu-buru masuk ke urusan politik itu. Selangkanganku terus merengek minta untuk dinomor-satukan.

 

Pemilik penginapan itu mengoceh panjang lebar tentang Encik Entah, mencoba membungkus rasa irinya dengan moralitas palsu dan kebencian yang menggelikan. Matanya yang sinis dan nada bicaranya yang busuk justru menjadi peta informasi yang berharga buatku. Dia bercerita bahwa Encik Entah adalah janda yang hancur akibat kekerasan domestik yang dilakukan oleh mantan suaminya. Encik kemudian melarikan diri menjadi penjaja daging ke berbagai kota hingga ke pedalaman Jawa. Dia rela mengekor pada lelaki mana saja yang bisa menjanjikannya makan dan pemuas syahwat, demi bisa mengubur trauma masa lalunya.

 

Salah satu lelaki itu bahkan ada yang membawanya ke sebuah kota asing di timur Jawa bernama Panaraga. Kota asing yang tak benar-benar dia kenal kecuali hanya melalui cerita-cerita orang di pasar.  Sejatinya, bajingan yang membawanya ke Panaraga itu sudah memiliki istri yang sah. Tapi Encik Entah? Dia sama sekali tidak peduli. Air mata istri sah lelaki itu dianggapnya seumpama angin lalu. Buatnya, selama pundi-pundi uang dan kebutuhan syahwatnya terpenuhi tak ada yang perlu membuatnya kuatir. Di tanah Jawa itulah, moralitas wanita ini bermutasi menjadi batu.

 

Dia tahu lelaki itu hanya menginginkan kelezatan dagingnya, dan dia dengan senang hati menukarnya dengan keperkasaan sang lelaki sebagai pemenuh kebutuhan mulut atas dan mulut bawahnya. Hubungan yang murni didasari transaksi selangkangan, tanpa ada setitik pun rasa cinta. Sialnya bagi Encik Entah, si jalang ini, akhirnya harus menerima kekalahan; dia dicampakkan begitu saja ketika lelaki Jawa itu memilih mengawini wanita lain yang jauh lebih menguntungkan buatnya secara finansial.

 

Encik pulang ke Baturaja dengan harga diri yang robek dan terluka. Tapi, para lelaki di Baturaja justru penuh sukacita menyambut kepulangannya kembali ke gerai dagangan lamanya, seolah dia adalah berhala buat lelaki pemujanya. Encik kembali menjajakan daging di pasar, namun dengan aturan main yang jauh lebih sadis dan berbeda. Dia menolak melayani sembarang lelaki; dagingnya kini hanya eksklusif untuk para lelaki yang sudah beristri. Sebuah anomali yang langsung menyulut api permusuhan dengan seluruh wanita di Baturaja,

 

Para wanita menudingnya sebagai pelacur penghancur rumah tangga. Encik tak peduli. Baginya, menaklukkan mereka yang sudah terikat adalah sebuah pencapaian luar biasa. Lebih memuaskan daripada sekadar meladeni para jomblo merana. Ada kebanggaan gelap yang bergejolak di dadanya saat dia menyadari bahwa dia mampu menggeser posisi para istri sah di dalam pikiran suami mereka. Ada sejenis sadisme dan percikan kejahatan dalam dirinya. Tapi Encik tampaknya pura-pura tak merasakan itu semua.

 

Orang-orang bodoh di pasar itu meraba-raba alasan di balik kegilaannya. Tapi aku langsung bisa membaca jalan pikirannya: wanita ini sedang mengidap penyakit dendam yang dibawa dari Panaraga. Sakit hati karena dicampakkan telah mengubahnya menjadi monster yang ingin membakar kebahagiaan setiap rumah tangga yang ditemuinya. Dia kembali ke Baturaja bukan sekadar untuk bertahan hidup, melainkan untuk menghancurkan hati setiap lelaki yang bertekuk lutut di bawah kuasa selangkangannya.

 

Encik merasa dirinya adalah pengecualian, sosok wanita yang berada di atas hukum moral yang berlaku bagi wanita lain. Dan di depan mata niagaku, wanita yang dipenuhi racun dendam seperti ini adalah instrumen paling efektif untuk menjalankan rencana licikku berikutnya. Dia adalah wanita yang akan membawa kebahagiaan dan kejayaan di masa depan. Profil yang sangat cocok untuk menjadi permaisuri dan pendamping merebut takhta.

 

Tak ada seorang istri pun yang cukup nyali untuk menghalangi langkahnya. Jika ada yang berani mendekat dengan amarah, Encik hanya perlu mengeluarkan tawa kecil yang dingin—sebuah peringatan sunyi yang cukup untuk membungkam keberanian mereka. Kabar burung yang beredar bahkan lebih mengerikan: konon, siapapun yang berani menantangnya akan kehilangan suaminya selamanya dan terjebak di dalam pelukan Encik. Benar atau tidak, ketakutan itu telah menjadi benteng yang melindungi dominasinya.

 

Daftar pelanggan setianya membentang dari berbagai kalangan. Mulai dari saudagar besar, laki-laki penjual kepala ikan di tempat makan terkenal, pedagang batu akik dan batu berharga, montir pedati dan kereta kuda, mantan petugas keamanan kota, dan banyak lagi, semuanya tunduk dalam antrean rahasia untuk mendapatkan perhatiannya. Meski banyak pilihan lain di kota itu, Encik tetap menjadi primadona yang tak tergantikan.

 

Orang-orang yang iri sering menuduhnya menggunakan kekuatan mistik atau jimat untuk menjerat para lelaki. Padahal, jika dilihat sekilas, penampilannya biasa saja. Namun, harus diakui dia memiliki karisma yang mampu memanipulasi emosi terdalam lelaki. Perpaduan antara kerentanan yang dibuat-buat dan aura otoritas yang membuat setiap lelaki merasa memiliki kewajiban untuk melindunginya, tanpa menyadari bahwa merekalah yang sedang terjerat.

 

Didorong rasa penasaran dan keinginan untuk menaklukkan, pagi ini aku berdiri di hadapannya. Dari jarak ini, aku mengamati setiap detail wajahnya. Garis-garis kehidupan yang keras terpahat di sana, namun justru itu yang memperkuat daya tariknya yang misterius. Matanya yang sayu seolah menyimpan rahasia besar yang menantang untuk diungkap. Ada kekuatan yang terpancar dari caranya bersikap, sebuah pesona yang tidak bergantung pada kecantikan fisik semata, melainkan pada bagaimana dia memposisikan dirinya sebagai teka-teki yang harus dipecahkan.

 

Sebagai seorang dengan kedudukan tinggi, aku merasakan dorongan dan tantangan kuat untuk menguasai teka-teki itu. Tapi sebuah perasaan ganjil merayap samar di pikiranku: sebuah dejavu. Aku merasa seolah pernah mengenal wajah ini dalam konteks yang berbeda, namun ingatan itu masih terkunci rapat. Aku berdiri dengan angkuh, membiarkan orang-orang biasa di belakangku maju lebih dulu karena aku tidak menginginkan pertemuan singkat. Aku ingin waktu yang cukup untuk mendominasi percakapan ini tanpa gangguan dari mereka yang aku anggap remeh.

 

Statusku sebagai pembesar memberiku rasa percaya diri yang mutlak, bahkan di tempat seperti ini. Encik segera menyadari keberadaanku. Dia sempat tertegun sejenak saat mata kami bertemu, namun dengan cepat dia menyembunyikannya di balik senyum tipis yang penuh teka-teki. Tampaknya, dia pun merasakan guncangan dan kebingungan yang sama saat menatapku. Seperti orang yang sedang mengingat-ingat dengan keras kapan dan dimana pernah jumpa.

 

Giliranku akhirnya tiba saat senja mulai melata di langit Baturaja. Ketika barisan lelaki bodoh itu sudah enyah, matahari mendingin di ufuk barat, menyisakan ruang gelap yang sempurna untuk intrikku. Aku dengan sengaja mengulur waktu, mengunci geraknya agar jalang terhormat ini tidak buru-buru mengemas lapaknya. Kami bertukar kata, dan dalam hitungan menit, frekuensi kami menyatu seolah-olah dua iblis yang sudah saling mengenal selama puluhan tahun. 'Dagingnya' memang tak ada tandingan di dunia—jauh lebih ranum, basah, dan menggairahkan untuk dikunyah dibanding daging mana pun yang pernah kucicipi sebelumnya.

 

Namun, permainan otak di antara kami berdua jauh lebih mahal daripada sekadar kepuasan berahi semata. Wanita ini memiliki otak yang sangat encer dan menyimpan rahasia kelam yang tak terduga. Berbincang dengannya seperti meminum racun yang dosisnya pas; mati tidak, hidup juga tidak. Kita seperti berada di dunia antara hidup dan mati. Menghanyutkan. Seperti orang yang mengalami kecanduan. Bahan obrolan kami begitu liar hingga sanggup membuat darahku mendidih selama tiga hari tiga malam. Sejak detik pertama, kelihaianku berwacana seperti telah menemukan cerminannya pada kecerdasan dan kelicikan wanita ini. Kami adalah sepasang penjahat yang bakal merajai semenanjung dan sekitarnya. Klop!

 

Kemarin aku baru sekadar mengincarnya, tapi sore ini, birahi dan obsesiku telah sepenuhnya dikuasai jalang cerdas ini. Aku tak mau kalah. Aku kerahkan kekuatan pesonaku yang selama ini tak pernah gagal. Awalnya kukira butuh waktu berhari-hari untuk menundukkan janda beracun ini ke bawah kakiku, ternyata pesonaku terlalu mematikan untuk ditolak. Baturaja terlalu kecil untuk menampung syahwat politik kami; aku akan segera menyeretnya bersamaku ke Istana Pagaruyung. Seperti kata pepatah Melayu yang sombong: setumbuk bagai gelang, sejodoh bagai cincin. Kami adalah kombinasi paling mutakhir untuk mengacaukan dunia.

 

Tak butuh waktu lama untuk membuat jalang ini mau bertekuk lutut dan percaya bahwa akulah jawaban dari doa-doa malamnya yang putus asa. Sementara aku? Aku tertawa dalam hati. Jelas ini bukan kebetulan suci. Bukan tarikan magnet jodoh seperti yang dipercayai orang selama ini. Bayangkan, jalur Batanghari yang membosankan sengaja kutinggalkan demi jalan memutar yang tak lazim. Bukan sekadar kehendak tuhan atau takdir romantis yang menyeretku ke Baturaja tampaknya, melainkan juga insting busukku yang selalu tahu di mana letak uang, kuasa, dan selangkangan terbaik yang bisa kutunggangi sepuasanya.

 

Singkat cerita, kuputuskan untuk mengangkangi Encik sendiri seutuhnya melalui pinangan resmi. Persetan dengan seluruh rekam jejak hitamnya di masa lalu. Bagiku, moralitas hanyalah omong kosong para pengecut. Setiap orang suci punya lembaran hitam, dan setiap pendosa punya celah untuk merajai masa depan. Aku sendiri pun bukanlah bajingan suci yang bersih dari lumuran dosa. Masa lalu seseorang bagiku seperti halnya komoditas; jika memberi keuntungan politik untuk masa depanku, akan kupakai, jika tidak, akan kubuang seperti bangkai di tempat sampah. Fokusku hanya satu: mengeksploitasi hari ini demi kejayaan hari esok.

 

Sesungguhnya, aku punya seribu cara untuk sekadar memuaskan selera dan menikmati daging Encik Entah tanpa perlu mengikat diri dalam pernikahan, sama seperti barisan lelaki hidung belang lainnya di pasar itu. Namun, aku adalah monster yang posesif. Aku tidak sudi berbagi barang jarahan dengan pejantan lain. Aku ingin memonopoli daging Encik secara eksklusif untuk diriku sendiri, memuaskan syahwatku setiap hari tanpa batas waktu. Dan yang pasti Encik terlalu bodoh dibiarkan tanpa dimanfaatkan potensinya baik bagi syahwat maupun ambisi pribadiku.

 

Tapi di atas semua kegilaan berahi, alasan paling hakiki adalah karena aku telah diperbudak oleh obsesiku sendiri diriku untuk memiliki cintanya. Selain itu aku ingin menyeret jalang ini keluar dari kubangan pasar yang menjijikkan, bukan karena lantaran aku suci, melainkan karena aku sangat tahu daging sekelas dia terlalu mewah untuk bisa dinikmati oleh para kuli dan pedagang asongan. Dia terlalu sayang dibiarkan terus berada di sebuah tempat yang tak layak padahal marwahnya terlalu berharga untuk bisa kupakai menundukan dunia.

 

Encik terlalu berharga untuk terus-menerus mengangkang di bawah selimut para lelaki beristri di lingkungan pasar yang berbau amis. Dia butuh tangan dingin sepertiku untuk mengangkatnya kembali ke singgasana nyonya terhormat. Kupastikan noda hitam masa lalunya hanyalah trik bertahan hidup dari dunianya yang brutal. Dan gayung pun bersambut; penjahat cerdas ini langsung mencaplok tawaranku dengan rakus.

 

Dengan kelicikan yang setara denganku, Encik Entah sama sekali tidak ambil pusing dengan statusku yang sudah memiliki permaisuri resmi di Pagaruyung. Tak ada sanggahan atau keberatan yang biasanya muncul pada wanita saat ada laki-laki yang sudah beristri menawarkan cintanya. Bahkan tak ada pertanyaan sama sekali tentang bagaimana dengan permaisuri yang sudah ada? Dia tahu, dia sangat paham, dan dia memilih abai atas kenyataan yang ada demi iming-iming takhta yang seperti sedang melambai-lambaikan tangan di depan matanya.

 

Kami mengunci ikatan ini di Batu Kuching dalam perjalanan kembali menuju Pagaruyung. Sebuah pernikahan kilat tanpa retorika birokrasi yang bertele-tele. Di zaman itu tidak ada hukum negara yang mengikat, yang ada hanyalah aturan adat dan agama yang masih belum bisa dibeli seperti di jaman lain. Encik memang tidak punya silsilah yang jelas, apalagi sepasang orang tua yang sah. Dia sudah terlalu liar, matang, dan mandiri untuk bisa mendikte selangkangannya sendiri. Kami dikawinkan kadi lokal yang bisa disumpal mulutnya. Malam itu juga langsung kureguk kenikmatan ranjang yang lebih liar, panas, dan berdosa ketimbang pernikahan-pernikahanku sebelumnya.

 

Berbekal rekam jejakku sebagai arsitek kebohongan, tidak sulit bagiku untuk segera menyulap latar belakang gelap wanita ini. Kuciptakan fiksi baru yang megah: Encik adalah putri bangsawan berdarah murni dari Dipati Batu Kuching. Lagi-lagi dongeng itu bekerja sempurna. Kami berbaris kembali ke Pagaruyung dengan diiringi sorak-sorai rakyat Batu Kuching yang dungu, yang mengira mereka sedang melepas seorang putri sejati mereka menuju istana.

 

Ditemani pengawal baru yang kami temukan di Batu Kuching, Gusti, keturunan bangsawan pulau Dewata, kami berangkat ke Pagaruyung. Penampilan Encik bertransformasi secara radikal dalam semalam; dari aroma amis penjaja daging pasar, kini berbalut sutra permaisuri raja. Aku, Tuan Bujang berdarah Pagaruyung, selundupan bakal raja Johor, dan Encik, jalang pasar yang kuangkat derajatnya setinggi-tingginya, kini siap bersekutu untuk merampas takhta dan menjadi penguasa absolut di Kesultanan Johor.

 

Pernikahan ini menjadi cerita penuh gelora. Encik adalah pasangan yang selama ini kudamba. Kami benar-benar cocok dalam banyak hal. Encik istri yang mampu mendukung semua tugas dan tujuanku memperoleh kekuasaan. Tiada hari tanpa kehadirannya di sisiku. Encik telah menjadi kebutuhan sehari-hariku. Separuh napasku. Aku seperti tak bisa hidup tanpa kehadiran Encik. Aku yang selama ini melihat wanita hanya mainan semata, tak pernah mencintai wanita sedalam ini. Aku tak rela kehilangannya. Aku siap memberikan hidupku untuk bersama Encik selamanya.  

 

Tentu butuh waktu dan kesabaran yang luar biasa untuk menemukan cinta di antara kami berdua. Mana ada cinta yang datang seketika? Ia tumbuh secara perlahan di antara sela-sela salah dan sabar. Ia belajar dari hari ke hari, dari waktu ke waktu. Dari jatuh yang berulang, dan luka yang memilih terus bertahan. Tiada jalan pintas. Tak ada rasa yang tinggal dipetik. Cinta sejati, tak pernah bisa dipesan atau tak bisa dipetik secara instan bagai buah ranum di tepi jalan. Apalagi bisa langsung tersaji kilat bagai kue apem di pasar. Ia harus disemai, dirawat, disiangi, dijaga dan diperjuangkan agar tumbuh subur setiap hari oleh dua murid yang mau tinggal di dalam mahligai, dan kerasan untuk terus belajar dengan kesungguhan hatinya masing-masing.

 

Sejak hari ini kami berdiri berhadap-hadapan, sebagai suami-istri. Sebagai raja dan permaisuri, yang hidup bersama sambil menggendong luka masing-masing. Awalnya aku ragu memberinya sepenuh hati, dia pun takut terluka untuk kesekian kali. Dari hati yang ragu dan takut, kita diam-diam berharap tak ada drama yang berakhir dengan prahara lagi. Mungkin bakal tetap ada luka yang tak sembuh sampai pulang nanti, tapi paling tidak kita bisa saling menjadi penyembuh hati

 

Tak semua lelah perlu dijelaskan, sebagaimana tidak semua sakit bisa dipahami. Kita juga tidak bisa menuntut dan mempertanyakan, karena kita tahu ada hal-hal yang tidak bisa dipaksakan. Ada beban yang harus terus kita pikul dalam diam, sebagaimana ada air mata yang jatuh ke tanah tanpa suara dan saksi mata. Ada perih yang menyelinap dengan lembut dalam kesunyian. Tapi biarlah semua tinggal sebagai kenangan. Kami berjanji untuk hanya menatap masa depan.

 

Cinta kami tumbuh tanpa panduan, lahir dari rasa, bukan hitung-hitungan. Ia seringkali tersesat namun tetap di dada, tapi tanpa tahu jalan pulang. Tak ada peta, tak ada buku manual yang bisa menjelaskan kapan bertahan dan kapan harus Ikhlas. Kami cuma bisa belajar dari jatuh bangun dari luka yang membekas. Sering salah tapi tetap jujur. Sering menyakitkan tapi menghanyutkan. Tak sempurna tapi terus berusaha. Jika harus berakhir gagal, paling tidak kita sama-sama tahu itu tetap bukan cinta palsu. Para pencinta seperti kami cuma seperti bayi yang baru belajar berjalan, yang tak punya guru untuk menjadi dewasa. Alangkah indahnya cinta yang kami jalani berdua.

 

Sementara itu, di luar urusan perasaan, Encik menjelma menjadi sekutu politik yang teramat mahal dan berharga. Baru kali ini dalam sejarah hidupku, aku menemukan rekan konspirasi yang begitu taktis dalam memetakan posisi kawan dan kemampuan menjagal kepala para musuh. Bertiga dengan Gusti yang akhirnya aku angkat sebagai Panglima, kami menghabiskan malam dengan membedah strategi perang; dia memiliki insting yang luar biasa tajam dalam mengendus informasi busuk, dan Gusti mampu menjadi pengelola pasukan dengan baik.

 

Pasukanku yang awalnya memandang sebelah mata pada latar belakang gelapnya, kini mulai gemetar tunduk melihat bagaimana cara kami mendikte dan mengatur komando. Encik memiliki pesona manipulatif yang sanggup mencuci otak siapa saja—sebuah keahlian yang teramat mencurigakan dan terlalu mewah untuk ukuran seorang jalang pengasong cinta di pasar Baturaja. Dan jalang itu, hari ini menjadi wanita yang paling disegani pasukanku.

 

Semua bakat iblis dan pembawaan otoriter ini semakin menebalkan keyakinanku bahwa dia tidak lahir dari rahim rakyat jelata. Gelar 'Encik' yang melekat pada namanya adalah bukti bahwa dia pernah mengecap privilese kelas atas sebelum jatuh miskin. Di balik selimut, aku berhasil menguliti dua wajah yang bertolak belakang. Sesuatu hal yang mengerikan dalam dirinya. Di satu sisi, kelembutan gestur dan retorika bicaranya mencerminkan sisa-sisa darah ningrat yang anggun. Namun di sisi lain, wataknya yang kasar, arogan, gila kuasa, dan berdarah dingin, haus hormat, dan sesekali kejam, mencuat seperti monster dari kepribadiannya yang lain.

 

Darah biru bangsawan di tubuhnya rupanya telah bermutasi menjadi racun yang pekat setelah bertahun-tahun bergaul dengan para pejantan liar di pasar tradisional. Luka, dendam kesumat, dan memori kekerasan masa lalu telah menempanya menjadi senjata pemusnah massal yang sangat eksotis. Kombinasi dualisme kepribadian yang gila itu mencapai puncaknya ketika tubuh kami menyatu di atas ranjang. Encik yang di luar tampak seperti permaisuri suci penurut, mendadak bermutasi menjadi wanita binal dengan birahi kelaparan yang tak terbendung.

 

Gerakannya yang agresif dan tak kenal ampun sukses membuat akal sehatku lumpuh. Berbagai posisi persetubuhan dari yang biasa, sedikit ekstrem dan bahkan yang tabu bagi wanita Melayu biasa, mampu dipraktikkannya dengan kelenturan seorang ahli ranjang yang sangat terlatih. Egoku sebagai seorang calon raja melambung tinggi ke langit saat jalang cerdas ini berbisik di telingaku bahwa hanya di bawah keperkasaanku dia sudi menumpahkan seluruh kegilaan mesumnya di atas ranjang. Aku tersanjung dan makin jumawa.

 

Ini adalah pembuktian penting yang selama ini kucari. Pernikahan-pernikahanku sebelumnya dengan putri bangsawan yang kaku selalu menyisakan kehampaan besar, yang membuatku kecanduan menjajahi selangkangan ratusan wanita di sepanjang Selat Malaka. Namun, petualangan berahi itu selalu berakhir hambar; bagiku semua wanita sebelumnya hanyalah lubang-lubang pemuas yang seragam dan membosankan. Baru bersama Encik, di atas genangan keringat dan gairah kami, aku baru merasa benar-benar menjelma menjadi predator jantan paling perkasa yang siap mengangkangi dunia kehidupan asmara.

 

Encik dengan sinis mengakui satu hal padaku: di hadapan para pejantan lain, dia selalu memakai topeng kesucian sebagai seorang nyonya mulia yang angkuh. Dia hanya diam menatap dingin, membiarkan para lelaki bodoh itu mandi keringat bekerja keras memuaskan egonya, tanpa sudi memperlihatkan lubang birahinya yang sesungguhnya sedalam jurang. Namun, dia sendiri heran mengapa seluruh pertahanannya bisa runtuh dan menjelma menjadi jalang yang begitu gila di bawah kuasaku. Sambil mengerang, dia berbisik bahwa hanya di dalam dekapanku lah potensi mesum yang terpendam bisa meledak, mengantarkannya meraup puncak kenikmatan berkali-kali tanpa jeda—sebuah orgasme beruntun yang tak pernah bisa disentuh oleh ribuan lelaki lain sebelumku. Akulah penakluk, yang berhasil memegang kunci dan kendali penuh atas tubuhnya.

 

Bagi dunia luar, Encik adalah simbol keanggunan yang tak tersentuh, seorang wanita mulia yang membiarkan para pria berlutut hanya untuk sekadar menyenangkannya. Dia memanipulasi persepsi mereka dengan dingin, menyembunyikan api besar yang membakar di balik topeng kesantunannya. Namun, dia mengakui dengan nada heran bahwa hanya saat bersamaku, segala topeng itu hancur. Dia terjatuh dalam kegilaan yang tak terkendali, mencapai puncak emosi dan sensasi yang belum pernah dibangkitkan oleh siapa pun sebelumnya. Dia mengklaim bahwa hanya akulah yang memegang otoritas atas sisi tersembunyinya itu. Aku tak tahu apakah semua pengakuan itu hanya untuk membuatku senang atau itu memang pengakuan jujurnya.

 

Meski kami melewati waktu yang sangat lama dalam intensitas yang menguras tenaga, Encik seolah memiliki stamina yang tak masuk akal. Dia tidak pernah menampakkan kesan lelah; sebaliknya, dia selalu menuntut lebih, seolah ada haus dan dahaga yang tak pernah tuntas di dalam dirinya. Dia memiliki energi luar biasa yang menantangku hingga ke batas kemampuanku. Namun untungnya aku bukanlah pria yang mudah ditaklukkan. Aku selalu siap meladeni setiap permintaannya yang sulit dipenuhi laki-laki lain. Kami adalah perpaduan yang sangat dominan, pasangan yang kekuatannya tak tertandingi oleh siapapun.

 

Di balik semua bakat yang dimilikinya, kemampuannya dalam menguasai ruang intim adalah keahliannya yang paling absolut. Baginya, ranjang adalah medan peperangan sekaligus jalur pacu pribadinya, tempat di mana dia mengekspresikan ambisi dan hasratnya dengan otoritas penuh, saat menghadapi musuh, tapi juga menjadi tempat dia menekan dayung sekuat-kuatnya hingga membawa perahu meluncur sekencang-kencangnya. Jika aku menemukannya lebih awal, mungkin tidak perlu aku membuang-buang waktu mencari kepuasan dari wanita lain. Hasrat besarku telah menemukan tandingannya yang sempurna pada diri Encik.

 

Aku mengerti mengapa begitu banyak pria kehilangan akal mengejarnya. Tapi, pria sepertiku tak mencari cinta; kami mencari kepemilikan mutlak. Tak kan kubiarkan pria lain menyentuh apa yang sudah menjadi milikku. Obsesi ini melahirkan rasa cemburu yang gelap dan ketajaman insting berlebihan. Selalu curiga orang lain akan merebutnya. Karena Encik, aku bertransformasi menjadi pria yang paling posesif dan waspada, siap menjaga wilayahku dari siapa pun. Hebatnya aku tak pernah mencium sedikitpun aroma pengkhianatan. Sikap posesif dan ketajaman instingku tak mampu sedikitpun mencium perselingkuhan yang mungkin disembunyikannya.

 

Ada satu hal yang perlu aku ceritakan. Hal yang tak pernah kujumpai sebelumnya. Encik memiliki satu kegilaan ekstrem yang tidak bisa dijinakkan oleh siapa pun: dia kecanduan menelan air maniku. Hampir setiap hari, jalang ini menuntut dan merengek untuk mereguk cairan kehidupan yang keluar dari kelaminku. Dia memaksakan sebuah ritual seksual menyimpang yang tabu dan tak terpikirkan oleh masyarakat zaman itu. Sebuah kegilaan yang hanya dia temukan bersamaku katanya. Seringkali aku merasa posisiku sebagai calon penguasa justru diperkosa oleh ambisinya. Tak jarang aku terbangun di tengah malam yang sunyi, mendapati tubuh bagian bawahku sudah ditelanjangi, dan Encik sudah bertengger di atas selangkanganku seperti iblis kelaparan.

 

Dia melahap kelaminku dengan kerakusan seorang predator yang mendapatkan mangsa paling lezat. Dia tidak akan melepaskan kulumannya sampai cairan pejantanku tumpah ruah di dalam mulutnya, lalu dia telan habis masuk ke dalam lambungnya tanpa ada tetes yang tersisa. Ritual itu selalu diakhiri dengan kecapan bibirnya sebagai sensasi kemenangan yang luar biasa. Aku kalah, aku pasrah. Aku serahkan nasibku pada kekuasaan mulutnya. Namun, di satu sisi, egoku sebagai orang yang terjerat perasaan jumawa yang melangit, aku merasa sangat tersanjung; ada wanita cerdas yang bertekuk lutut dan fanatik pada kejantananku, hingga rela melakukan hal sehina itu—sesuatu yang belum tentu sudi dilakukan oleh permaisuri manapun di dunia.

 

Untungnya, birahi dan syahwatku sekokoh karang, cukup besar untuk meladeni kegilaannya tanpa pernah memuntahkan penolakan. Sejak perjumpaan pertama kami di Baturaja, jalang terhormat ini memang sudah blak-blakan memamerkan keahlian mesumnya itu. Aku sempat merasa Encik sedang membual di hadapanku. Tapi akhirnya aku benar-benar terkejut dengan kelancangannya yang terlalu jujur, namun justru itu yang memicu keberanianku untuk balas membongkar seluruh petualangan ranjangku. Dan terbukti, jalang ini tidak membual. Semua kelihaian yang dia ceritakan persis dengan apa yang dia eksekusi di atas tubuhku.

 

Namun, ada satu hal pula yang membuat aku tak bisa membiarkan dia bersimaharajelala di atas ranjang sutra. Rasanya permainan ini menjadi tidak adil ketika Encik menolak setiap kali aku mencoba membalas perbuatan yang sama. Setiap kali aku berniat membenamkan wajahku di selangkangannya untuk melakukan hal yang sama, Encik selalu menolak dengan keras dengan raut panik yang tidak bisa disembunyikannya. Dia berdalih dengan nada manis yang manipulatif, mengatakan bahwa sangat tidak sopan jika seorang calon raja agung sepertiku harus melakukan perbuatan sehina dan sekotor itu pada tubuh seorang wanita sepertinya.

 

Bodoh. Aku tidak peduli dengan kehinaan politik; hasratku yang telanjur mendidih justru memicu obsesi gelap dan rasa penasaran yang mulai merusak kewarasanku. Awalnya penolakan ini aku anggap sebagai bentuk hormatnya pada seorang raja. Tapi kadang sampai harus merengek Encik terus menolak permintaan sederhana aku itu. Aku mulai lelah. Dan penolakan yang terus-menerus itu justru menghidupkan kecurigaan dan insting licikku: seperti ada rahasia busuk yang sedang dia sembunyikan di balik selangkangannya. Aku terbiasa hidup di tengah dunia tipu daya. Dan aku, sang arsitek tipu daya, tak mudah dibuat percaya dengan alasan-alasan apapun. Aku mulai menyusun muslihat untuk menjebaknya.

 

Menaklukkan dan memperkosa balik wanita ini saat dia lengah bukanlah perkara gampang. Bukan sesuatu yang sederhana. Encik adalah makhluk luar biasa yang memiliki kepekaan insting setajam srigala; goncangan sekecil apapun atau tarikan napas yang berubah saja bisa langsung menyentakkannya dari tidur. Menunggu jalang ini terlelap secara alami demi menuntaskan obsesiku adalah tindakan yang sia-sia.

 

Namun, otak licikku selalu punya jalan keluar. Selalu ada cara untuk bisa mencapai tujuan. Aku mendatangi tabib Kerajaan, menyuapnya untuk mendapatkan resep ramuan bius alami paling mematikan—sebuah cairan penidur yang sanggup membuat mangsa paling waspada pun tumbang ke dalam tidur yang menyerupai kematian. Dengan ramuan itu di tanganku, aku bersiap menguliti rahasia terbesar yang dia sembunyikan

 

Tabib kerajaan mencampurkan buah pala, daun bidara dan bahan-bahan lainnya menjadi segelas minuman hangat yang akan mengantarnya pada tidur panjangnya. Rasanya hangat dan manis, jauh dari kesan obat atau jamu, atau bahkan racun. Malam itu pelayan kerajaan memberikan minuman itu untuk Encik sebagai pengusir dingin karena cuaca hujan beberapa hari ini. Tanpa curiga Encik meminumnya dengan senang hati. Dan ternyata minuman itu bekerja seperti yang diharapkan sebelumnya. Tak butuh waktu lama Encik langsung jatuh tertidur karena kantuk yang begitu dahsyat menggelayuti kelopak matanya.

 

Setelah memastikan ramuan bius itu benar-benar menumbangkan kesadaran Encik Entah, aku pelan-pelan mulai melancarkan aksi yang sudah kurancang dengan penuh perhitungan. Aku bergerak mendekati sosok yang kini terbaring tak berdaya itu dengan kewaspadaan seorang predator. Meski minuman itu benar-benar bekerja seperti yang diharapkan, dan Encik tertidur tanpa bergerak, aku tetap tak mau gagal. Bagiku, kesalahan sekecil apa pun adalah penghinaan terhadap kecerdasanku sendiri. Perlahan, aku mulai memeriksa setiap jengkal keberadaannya untuk menyingkap apa yang selama ini ia tutup-tutupi dariku.

 

Dalam keheningan itu, aku meneliti setiap sudut, mencari bukti fisik dari rahasia yang aku yakini tersembunyi di balik identitasnya yang samar. Dan yang pasti di balik selangkangannya yang sangat misterius yang selama ini disembunyikannya. Sepintas, tak ada yang aneh. Ia tampak seperti wanita pada umumnya yang tengah terperangkap dalam lingkaran intrik yang lebih besar dari bayangannya sendiri. Namun, aku bukanlah orang yang mudah menyerah pada pandangan pertama. Aku tahu ada sesuatu yang busuk di balik ketenangan palsu ini. Ada sesuatu yang disembunyikan di balik selangkangan itu. Sebuah rahasia besar yang entah apa. Dan aku harus bisa menemukan rahasia itu.

 

Kini kain penutup tubuhnya kusingkap satu persatu, hingga semua kain penutup itu tersingkap semua. Luar biasa, aku bisa menyaksikan tubuh polos Encik tanpa sehelai benangpun di bagian bawah tubuhnya. Sepintas lalu, aku tak bisa menemukan sesuatu yang lain yang dia sembunyikan dariku. Semua tampak biasa. Sama dengan yang pernah kusaksikan saat tiap kali aku melakukan persetubuhan dengannya. Semua tampak sama, bahkan dengan tubuh polos wanita lainnya yang pernah aku saksikan selama ini. Sepintas tampak seperti tak ada rahasia yang disembunyikannya. Lalu apa yang membuatnya harus menolak dengan keras hingga membuatku curiga?

 

Aku amati secara seksama, aku teliti dari berbagai sisi. Bahkan hingga lelah aku mencari, tak ada tanda-tanda aku bakal menemukan sebuah rahasia di selangkangan Encik Entah. Lain yang dicari, lain pula yang yang datang. Menyaksikan keindahan tubuh bagian bawah Encik membuaku lupa pada rencana semula. Tak ada rahasia yang kutemukan, namun ada tubuh indah telanjang polos yang begitu menggiurkan. Persetan dengan rahasia. Nikmati saja yang ada di depan mata. Gairah yang besar membuatku mulai mendekatkan wajahku ke titik pusat gairah berasal, menikmati pemandangan indahnya, dan mulai lupa dengan rencana semula, menemukan sebuah rahasia.

 

Tentu ini pemandangan sama yang aku nikmati setiap harinya, dimana aku biasa menikmatinya dengan berbagai gaya dan cara. Tapi ada satu yang memang belum pernah benar-benar aku lakukan: menikmati selangkangannya dengan mulut dan lidahku. Sesuatu yang selalu ditolaknya berulang-ulang kali. Aku lakukan dan nikmati dengan lembut dan syahdu. Seperti mainan baru yang baru pertama kali aku lakukan. Padahal dengan wanita lain hal ini adalah sesuatu yang biasa aku lakukan. Aku tak ingin dia terbangun. Aku yakin jika sampai terbangun sekarang ini, dia bakal meloncat dan berlari menghindari apa yang akan kuperbuat. Tapi untunglah, ramuan tabib istana itu memang terbukti manjur tampaknya.

 

Berulang-ulang dan pelan-pelan kudekatkan wajahku ke arah selangkangannya. Makin dekat, makin bernafsu aku dibuatnya. Rasa penasaranku menjadi-jadi menyaksikan pemandangan yang cuma kali ini bisa kunikmati dari jarak begitu dekat. Keindahan luar biasa yang kurasakan seperti saat pertama aku melihat bagian paling rahasia dari seorang wanita. Aku mulai menikmati setiap bagian dengan lidahku. Aku sigi dan lidahku menjelajah hingga bagian-bagian yang tersembunyi. Hingga ke sudut-sudut yang belum pernah terjelajahi.

 

Sreeet… Tiba-tiba lidahku menyentuh dan menemukan sesuatu yang asing dan terasa berbeda di ujung lidah. Sebuah bagian kesat yang tak sama dengan bagian kulit mulus lembutnya. Seperti secercah titik hitam menyerupai tahi lalat di balik lipatan kulit selangkangannya. Sebuah tonjolan aneh berupa titik hitam yang awalnya kukira hanyalah tahi lalat biasa. Kuperhatikan dengan seksama. Aku sigi dengan makin mendekatkan wajahku ke bagian itu. Tampaknya bukan tahi lalat. Bentuknya terlalu sempurna, bulatan yang terlalu teratur, terlalu presisi dan bulat untuk disebut sebagai tanda lahir alami.

 

Awalnya kupikir mungkin saja tanda lahir yang dibawanya. Tanda lahir yang sempat kuhubungkan dengan kegemaran dan kegilaan Encik dalam bercinta. Seperti mitos yang diceritakan banyak laki-laki, yaitu salah satu tanda wanita yang gemar bercinta dan sangat besar syahwatnya, ditandai dengan tahi lalat di selangkangan seperti yang kutemui pada Encik ini kata mereka. Aku tak tahu persis kebenarannya. Tapi titik hitam seperti tahi lalat itu memang muncul dari lipatan kulit Encik. Apakah ini alasan kenapa Encik menjadi seorang pecandu permainan cinta?

 

Tapi, aku berani pastikan itu bukan tahi lalat biasa. Tahi lalat jarang terbentuk dengan begitu sempurna. Sementara bulatan hitam yang ada di selangkangan Encik itu seperti sesuatu yang sangat diatur bentukannya. Bentuknya bulat melingkar sempurna. Kucoba melihatnya lebih dekat lagi. Kini wujudnya benar-benar bisa terlihat lebih jelas dari sebelumnya. Ternyata, titik hitam yang menyerupai tahi lalat itu adalah seperti sebuah cap. Sebuah tera atau logo yang menandakan dan memiliki arti dan simbol tertentu. Sepertinya ada kesengajaan untuk menempatkannya disana. Di bagian yang tersembunyi milik Encik.

 

Kudekatkan pandanganku sekali lagi untuk memastikan apa yang sedang kulihat. Kini aku yakin. Ya, itu bukanlah tanda lahir atau tahi lalat, melainkan sebuah tera. Sebuah cap permanen yang menandakan kepemilikan atau afiliasi tingkat tinggi pada sebuah kekuasaan. Memoriku langsung melesat kembali ke masa saat peryama kali aku menginjakkan kaki di Istana Johor. Ya, bentuk itu sangat kukenali—itu adalah simbol kekuasaan Kerajaan Johor yang pernah kulihat di singgasana sultan. Cap atau logo Kerajaan Johor

Lihat selengkapnya