Pada akhir abad 18 dan awal abad 19 Wilayah Mataram menjadi sempit. Tinggallah seorang bangsawan muda dari kerajaan Mataram. Dia sangat kuat dan supernatural. Dia terkenal sebagai ksatria yang pilih tanding dalam menghadapi Belanda di tanah Jawa.
Kisahnya tertulis dalam sejarah panjang tentang perang Jawa melegenda. Sebagai tokoh paradoks yang terkenal karena keberanian melawan penjajah dimasa kekejaman Belanda melanda tanah Jawa.
Nama Pangeran Diponegara terkenal dalam sejarah panjang tanah Jawa. Banyak buku-buku sudah menulis keperkasaan Pangeran Diponegera. Tapi tidak menuntut seorang agar memberikan inspirasi dan motivasi sebagai bentuk membangun karakter bangsa.
Pada zaman itu Mataram menjadi boneka Belanda yang menurut dan patuh. Sistem kerajaan dikendalikan sepenuhnya oleh pemerintahan Belanda. Raja hanya sebagai bunga ibarat dia tidak bertindak atas hukum yang sudah diwariskan dalam lelehur mereka.
Mataram mengalami pertentangan diantara para bangsawan Mataram. Tanah mereka seolah-olah mengalami kesempitan karena keserakahan Belanda semakin mendesak untuk memberikan padanya dengan biaya pajak yang murah.
Pada zaman itu VOC atau Belanda semakin kejam dan bengis menduduki tanah Jawa. Mataram sebagai kerajaan besar mengalami kemunduran dalam pemerintahan. Setelah Sultan Agung meninggal raja yang memimpin Mataram semakin lemah. Mereka terlalu patuh dan tunduk pada sistem pemerintahan Belanda. Wilayah Mataram yang dulunya luas malah semakin sempit. Bahkan Belanda tak segan-segan memberikan biaya murah untuk beberapa barang komoditas penting dari Mataram. Hasil bumi yang berlimpah hanya sebagai pasokan untuk VOC. VOC memiliki pengaruh penting dalam mengintervensi pemerintahan kerajaan Mataram.
Memasuki abad ke 19, keadaan di Jawa khususnya Surakarta dan Yogyakarta semakin memprihatikan intervensi pemerintah colonial terhadap pemerintah local tidak jarang mempertajam konflik yang sudah ada dan atau dapat melahirlan konflik baru di lingkungan kerajaan. Hal ini juga terjadi di Surakarta dan Yogyakarta. Campur tangan colonial itu juga membawa pengeseran adat dan budaya keraton yang sudah lama ada di keraton bahkan melahirkan budaya Barat yang tidak sesuai dengan budaya Nusantara, seperti minum-minum keras. Dominasi pemerintahan kolonial juga telah menempatkan rakyat sebagai objek pemerasan, sehingga semakin menderita.
Pada waktu itu pemerintah kerajaan mengizinkan perusahan asing menyewa tanah sawah untuk kepentingan perusahaan. Pada umumnya tanah itu disewa dengan penduduknya sekaligus. Akibatnya para petani tidak dapat mengembangkan hidup dengan pertaniannya, tetapi justru menjadi tenaga kerja paksa. Rakyat hidup menderita.
Perubahan pada masa Van der Capellen juga menimbulkan kekecewaan. Beban penderitaan rakyat itu semakin berat, kerena diwajibkan membayar berbagai macam pajak, seperti: pajak tanah, pajak halaman kekurangan, pajak jumlah pintu, pajak ternak, pajak pindah nama, pajak menyewa tanah atau menerima jabatan. Disamping berbagai pajak itu masih ada pajak yang ditarik di tempat pabean atau tol. Semua lalu lintas pengangkut barang juga dikenai pajak. Bahkan seorang ibu yang menggendong anak di jalan umum juga harus membayar pajak.
Sementara dalam kehidupan social kemasyarakatan terdapat jurang pemisah antara rakyat dengan punggawa kerajaan dan perbedaan status social antara rakyat pribumi dengan kaum kolonial. Adanya jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, antara rakyat dan kaum colonial, sering menimbulkan kelompok-kelompok yang tidak puas sehingga banyak menimbulkan kekacauan.
Kekejaman dan kebengisan Belanda membuat rakyat pribumi semakin menderita. Jogjakarta sebagai pusat kerajaan Mataram tak luput dari kejam pola tingkah Belanda terhadap masyarakatnya. Sejak Sultan Agung telah mangkat dari Mataram, rakyat Jogjakarta semakin mendera derita akibat ulah Belanda yang mempekerjakan pribumi dengan gaji sangat rendah bahkan tidak dibayar. Mereka bahkan didera hutang yang tak kunjung lunas karena Belanda mematok bunga yang terlalu tinggi. Sisi kelam kejam Belanda di bumi nusantara semakin gila dan tak berperikemanusiaan. Mereka melupakan sisi manusia dari seorang manusia.
Dalam keadaan kejam dan bengisnya pemerintahan VOC lahirnya seorang anak bangsawan dari kalangan raja. Putra Sultan Hamengkubuwono III yang bernama Raden Mas Ontowiryo. Dia lahir pada tanggal 11 November 1785. Kelahiran disambut musim hujan yang subur paling dinanti oleh para petani untuk menanam padi. Suburnya sampai menumbuhkan batu dan memunculkan tunas-tunas baru yang kalau dipandang seperti hamparan permadani hijau mempesona.
Raden Mas Ontowiryo memiliki tubuhnya yang bagus, cepat dan tangkas. Dengan tinggi badan dan posturnya yang sedang, rambutnya yang hitam legam, wajah yang bercukur, rahang lebar, tulang pipi yang panjang dan menonjol, serta mata hitam yang lebar. Bila mata menatap seperti singa yang menunggu mangsa.
Ontowiryo menyusuri jalan pasar di sekitar kota Jogjakarta yang tak jauh wilayah keraton Mataram. Dia melangkah sendiri tanpa ditemani seorang prajurit. Dia mengenakan pakaian sederhana layak rakyat jelata. Dia sering keluar keraton untuk berbaur dengan rakyat karena dia memang tak mempedulikan status dirinya sebagai bangsawan untuk bergaul dengan masyarakat pada umumnya.
Ontowiryo bukan seorang anak muda yang suka duduk dan nyaman menikmati hidup sebagai anak raja. Terlebih dia seorang muslim yang taat terhadap agama yang dianutnya islam. Sungguh tak adil bila kenikmatan bangsawan hanya untuk dirinya sendiri. Lagipula hidup harus bisa berguna untuk orang lain. Saling menjaga, menghormati dan menghargai agar kehidupan terasa aman dan damai.
Ontowiryo menyusuri jalan setapak diantara sesak pasar. Matanya memandang penuh kedamaian dan keteguhan. Sikap sang pangeran memang sangat menarik banyak orang-orang pasar yang mengenal dirinya. Sosok yang selalu melihat ke bawah demi memperhatikan kehidupan rakyat biasa.
Salam dan sapaan memenuhi suasana sang pangeran melangkahkan kakinya. Di ujung jalan di melihat seorang pedagang tua yang menjajak dagangan untuk diperjual belikan. Terlihat orang itu belum laku dalam perniagaan. Sang pangeran mendekat dan menghampiri pedagang tua itu.
“Silakan den mas!” ucap pedagang tua itu rendah hati.
Ontowiryo tersenyum simpul. Dia mendekati pedagang itu. Dia mengamati barang-barang pedagang itu serius dan teguh. Kemudian dia membeli salah satu barang yang cocok. Dia membeli dengan harga yang pantas. Bahkan sedikit dilebihkan. Dan dia menolak uang kembalian dari harga jual barang itu. Dia memberikan kembalian itu sebagai sedekahnya.
Pedagang itu sangat berterima kasih dengan sang pangeran muda. Ontowiryo kemudian melanjutkan langkah untuk mengamati pedagang-pedagang lainnya. Udara pagi yang cukup hangat karena cuaca sangat bagus. Karena sekarang ini memang sedang musim kemarau, namun masih ada sedikit hujan yang kadangkala turun. Pohon-pohon yang tumbuh tidak terlalu banyak, gemersak daun-daun yang menimbulkan suasana sejuk. Angin barat begitu sejuk membantai alam yang dia rasakan.
“Alhamdulillaah.”