WAR GAME

Hermawan
Chapter #2

Jalan

Pangeran Diponegoro sangat menyenangi masjid atau musala. Karena disana dia bisa melakukan tawajuh untuk menghadap Tuhan dengan lebih leluasa dan bebas. Alloh adalah Tuhan Semesta Alam.

Laa illaaha ilallooh, muhammadar rosulullooh. Tiada Tuhan selain Alloh. Muhammad utusan Alloh. Dimana tempat Alloh selalu ada dalam setiap pergerakan manusia atau ciptaan-Nya. Semua makluk hidup atau mati di Alam Semesta berada dalam pengawasan Alloh SWT.

Allah Tuhan Yang Maha Esa dan setiap muslim hanya bertawajjuh kepada-Nya sahaja dengan hati yang teguh dan yakin. Hati Pangeran Diponegoro bulat kepada Allah tanpa dikelirukan oleh berbagai-bagai kepercayaan yang lain. Dia tidak diburu oleh berbagai-bagai tuhan di sana sini seperti di dalam kepercayaan-kepercayaan paganisme dan jahiliyah. Dia hanya bertuhan kepada Allah Yang Maha Esa sahaja dan hanya kepada Allah, Pangeran Diponegoro membulatkan hatinya dengan penuh keyakinan, ketenteraman, terang dan jelas.

Allah Maha Kuat, Maha Kuasa, Maha Perkasa dan Maha Gagah. Pangeran Diponegoro yang bertawajjuh kepada Allah berarti dia bertawajjuh kepada kekuatan dan kuasa yang haqiqi dan tunggal di alam al-wujud ini. Dia tidak lagi takut kepada segala kekuatan dan kuasa lain yang palsu. Dia benar-benar merasa tenteram dan senang hati. Dia tidak lagi takut kepada sesiapa dan kepada sesuatu apa kerana ia menyembah Allah yang Maha Kuasa, Maha Perkasa dan Maha Gagah. Dia tidak lagi bimbang kehilangan sesuatu dan tidak mengharapkan sesuatu pada yang lain dari Allah yang berkuasa menahan dan memberi.

Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana. Kekuatan dan kudrat kuasa-Nya menghindarkannya dan kezaliman, dan hawa nafsu dan penganiayaan. Allah tidak sama dengan tuhan-tuhan di dalam kepercayaan-kepercayaan paganisme dan jahiliyah yang mempunyai berbagai-bagai keinginan dan kehendak hawa nafsu. Pangeran Diponegoro yang berlindung pada Allah berarti ida telah berlindung pada satu kuasa Yang Maha Kuat, di mana dia boleh meni’mati keadilan, pembelaan dan keamanan.

Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Pemberi dan Pengurnia segala ni’mat, Pengampun dosa dan Penerima taubat. Dialah yang menyambut do’a orang yang berada di dalam kesusahan dan menghapuskan kesusahan itu apabila ia memohon kepadaNya. Oleh karena itu Pangeran Diponegoro yang berada di bawah naungan-Nya merasa aman, tenteram, selamat dan beruntung. Ia diberi rahmat apabila lemah dan diberi keampunan apabila bertaubat. Demikianlah tanggapan Pangeran Diponegoro terhadap sifat-sifat Allah yang telah diajarkan oleh Islam kepadanya. Dia dapati dalam setiap sifat Allah itu hakikat-hakikat yang mententeramkan hatinya, menenangkan jiwanya dan menjalin perlindungan, rahmat kasihan belas, kekuatan dan keteguhan, kemantapan dan kedamaian.

Pangeran Diponegoro mengetahui bahwa matlamat kewujudan manusia ialah beribadat kepada Allah, iaitu dia diciptakan untuk mengabdikan dirinya kepada Allah, maka kesedaran yang seperti ini tidak syak lagi dapat mengangkatkannya ke puncak yang gemilang, yaitu dia meningkatkan perasaan dan hati nuraninya, meningkatkan kegiatan dan pekèrjaannya, membersihkan cara cara dan alat-alat pekerjaannya, kerana dia mahu berbakti kepada Allah dengan kegiatan dan pekerjaannya. Dia wajib beribadat kepada Allah.

Pangeran Diponegoro merasa bahawa dia berjalan dengan takdir Allah dan hidup dengan dengan keta’atan kepada Allah untuk melaksanakan iradat Allah, maka perasaan ini akan mencurahkan rasa ketenteraman, kedamaian dan kemantapan di dalam jiwanya. Dia dapat meneruskan perjalanannya tanpa digugatkan oleh rasa keseksaan dan keluh-kesah, rasa bosan dan marah apabila menghadapi halangan-halangan dan kesulitan, rasa putus harapan dari mendapat pertolongan, rasa takut kesesatan jalan atau rasa takut dari kehilangan balasan dan ganjaran. Oleh sebab itulah dia merasa begitu damai dan aman dalam jiwanya sehingga di saat-saat dia memerangi musuh-musuh Allah dan musuh musuhnya, kerana dia berperang kerana Allah, kerana sabilillah dan kerana meninggikan agama Allah. Dia bukannya berperang kerana mengejar kedudukan dan keuntungan atau kerana memuaskan keinginan atau kerana harta kekayaan dan kesenangan hidup dunia.

“Assalamu’alaikum Kakang,” panggil istrinya lembut dan halus.

“Wa’alaikum sallam.” Pangeran Diponegoro mengangkat kepala, berpaling dan memandangnya. “Diajeng Madubrongto,” Pangeran Diponegoro berkata suaranya terdengar hangat dan formal. “Dimana anak-anak?”

Pangeran Diponegoro selalu menanyakan hal itu pada istrinya. “Mereka sedang bermain dengan teman-temannya ditaman alun-alun,” Raden Ayu Retno Madubrongto berdiri di depan pintu masjid. Kedua tangannya saling berpegangan anggun. Tubuhnya yang tinggi sedang seperti pedang memancarkan citra wanita jawa yang mengenal budaya dan tata krama istana. “Mereka sedang berkuda dengan beberapa prajurit.”

Pangeran Diponegoro tersenyum. “Apakah diajeng rukun dengan maduku yang lain?”

Raden Ayu Madubrongto mengerutkan dahi. “Sejujurnya aku tidak suka kakang memaduku. Namun aku tahu bahwa kakang pangeran melakukan karena alasan yang tak bisa dicerna.”

“Terima kasih diajeng Madubrongto,” Pangeran Diponegoro berkata. Matanya menatap penuh kasih sayang. “Kenapa diajeng mendatangiku ke masjid ini? Apakah ada masalah penting yang terjadi?”

“Kakang dipanggil kanjeng Sultan,” kata Raden Ayu Madubrongto. “Sepertinya ada masalah yang ingin dibicarakan kanjeng Sultan dengan kakang pangeran.”

Bapak Sultan memanggilku, batin Pangeran Diponegero. Ada masalah apa adikku Sultan memanggilku?

“Begitu,” Pangeran Diponegoro menghela nafas. “Katakan aku akan segera menghadap.”

Raden Ayu Madubrongto mengangguk.

Apa aku harus bilang tentang kedatangan paman Pangeran Mangkubumi? batin Raden Ayu Madubrongto. Matanya mengerjap. Namun dengan sekuat hatinya. Akhirnya sang dewi berkata.

“Tetapi ada paman Pangeran Mangkubumi yang berkunjung ke Tegalrejo,” ujar Raden Ayu Madubrongto. “Dia ingin membicarakan hal penting dengan kakang pangeran.”

Pangeran Diponegoro terkejut. Paman Pangeran Mangkubumi, batin sang pangeran.

“Masalah apa?” tanya Pangeran Mangkubumi. “Tak biasanya paman Pangeran Mangkubumi berkunjung ke tempatku.”

“Aku tidak tahu kakang,” kata Raden Ayu Madubrongto. “Paman tidak bilang. Dia hanya berkata untuk memanggilkan kakang pangeran.”

Paman Pangeran Mangkumi tak biasa dia berkunjung ke Tegalrejo, Pangeran Diponegero membatin. Pasti masalah penting.

“Katakan pada paman Pangeran Mangkubumi aku akan segera menemuinya.”

“Baik kakang,” sahut Raden Ayu Madubrongto.

Lihat selengkapnya