WAR GAME

Hermawan
Chapter #3

Kesal

Tepat tahun 1822 Sultan Hamengku Buwono III meninggal dunia. Tahta diberikan kepada anaknya Pangeran Adipati Anom. Pangeran Diponegoro sebagai wakilnya karena keponakan masih belum cukup untuk memerintah Mataram Yogyakarta. Banyak orang Belanda yang tak suka dengan Pangeran Diponegoro. Pangeran Diponegoro sangat anti Belanda. Dia menolak Belanda untuk turut campur dalam pemerintah kerajaan Mataram Yogyakarta. Bahkan dia tak segan-segan mengacungkan senjata bila ada orang Belanda mencampuri urusan kerajaan Mataram Yogyakarta.

Dalam paseban agung atau kenegaraan Mataram Yogyakarta ketika diadakan. Pangeran Diponegoro duduk disamping keponakannya. Dia tegas dan lugas terus mendesak Belanda agar tidak menaikan pajak rakyat. Rakyat juga menderita akibat kekejaman Belanda menaikkan pajak yang tinggi. Bahkan pajak yang tidak sesuai kerajaan Mataram Yogyakarta. Belanda juga harus memberi kebebasan wilayah Mataram Yogyakarta dalam pengaturan pemerintah. Belanda tidak boleh ikut campur. Belanda harus berada dalam luar jalur pemerintahan.

Dalam urusan keluarga kerajaan Mataram Yogyakarta, Belanda tidak boleh ikut campur pula. Belanda semakin terdesak oleh pola tingkah Pangeran Diponegoro. Belanda mulai marah namun mereka tak bisa berbuat banyak. Karena banyak pejabat kerajaan yang serentak mengikuti arah dan pandangan politiknya. Pangeran Diponegoro terus membuat aturan agar Belanda mulai meninggalkan Mataram Yogyakarta.

Pagi itu udara cukup dingin dan sejuk, Pangeran Diponegoro bersama pamannya Pangeran Mangkubumi dan adiknya Pangeran Adinegoro menjelejah kota hingga desa-desa disekitar keraton Mataram Yogyakarta. Mereka berkuda dengan mengenakan pakaian sederhana. Pangeran Diponegoro mengenakan sorban putih dengan jubah putih dan keris tersandang dipinggangnya. Kuda putih yang gagah berani menjadi tunggangannya.

Pamannya Pangeran Mangkubumi mengenakan pakaian sama hal seperti dirinya sorban putih dengan jubah putih dan keris tersandang dipinggangnya. Adiknya Pangeran Adinegoro sama hal seperti kakaknya. Tubuhnya tinggi dan kurus terlihat dari pakaian jubahnya agak longgar ketika dia mengenakannya.

Kuda-kuda mereka mendesertir tanah-tanah kotaraja. Mereka pertama kali memasuki kotagede untuk menyaksikan keramaian pasar kotaraja. Mereka berkuda menyusuri jalan kota yang cukup lunak ketika tapal-tapal kuda mendesertirnya. Mereka berkuda hening, ketiga bangsawan itu menikmati udara pagi yang menyejukkan paru-paru.

Jalan kota yang terang akibat sinar matahari yang terbit hangat menyemburkan cahaya pagi indah. Perlahan-lahan mereka menyusuri jalan kota hingga memasuki gerbang pasar Kotagede.

Pangeran Diponegoro memperlambat laju kudanya. “Paman,” ujar Pangeran Diponegoro berpaling dingin dan serius. “Paman pernah berkata bahwa Belanda harus angkat kaki dari tanah Mataram Yogyakarta ini bukan.”

Pangeran Mangkubumi mengangguk. Dia menempatkan kuda miliki disamping keponakannya. “Tentu,” kata Pangeran Mangkubumi serius.

Pangeran Adinegoro mendekati disamping kiri kakaknya. “Aku setuju dengan keputusan paman Pangeran Mangkubumi dan kakang Pangeran Diponegoro,” seru Pangeran Adinegoro lugas. “Aku siap membantu perang sampai terjadi.”

Pangeran Diponegoro tertawa. “Masalah perang bisa terjadi. Namun bila perjanjian damai lebih aman mungkin itu lebih baik.”

“Mereka licik kakang pangeran,” renggut Pangeran Adinegoro mengerutkan dahi. “Mereka akan melakukan upaya agar bisa menang dengan jalan curang ataupun sangat licik.”

“Aku tahu itu adikku,” kata Pangeran Diponegoro lirih. “Belanda memang sangat licik. Bahkan lebih licik dari seekor raja ular sekalipun. Tetapi bila perang kemungkinan korban akan banyak berjatuhan. Di pihak kita ataupun Belanda pasti akan cukup banyak korban terluka atau mati.”

“Alloohu Akbaru,” Pangeran Adinegoro menarik keris dari sarungnya. Suara tipis melengking ketika keris itu ditariknya terdengar merintih di telinga. “Aku tidak takut mati kakang pangeran. Aku rela mati demi tanah airku bahkan agamaku kakang pangeran. Alloohu Akbaru.”

Pangeran Mangkubumi memicingkan mata. “Aku setuju dengan Adinegoro,” Pangeran Mangkubumi menyemangati. “Kita berperang untuk kebenaran islam keponakanku. Belanda adalah orang-orang kafir yang terus merusak tanah pertiwi kita keponakanku. Islam sangat menjunjung kebenaran. Bila kita menegakkan kebenaran Alloh pasti memberi ridho. Laa illaaha ilallooh.”

 “Paman,” kata Pangeran Diponegoro rendah hati. “Perang adalah sebuah konspirasi. Bila itu memang harus terjadi itu memang sudah kehendak Tuhan. Alloohu Akbaru.”

Kehendak Tuhan memang tidak bisa dicegah,” kata Pangerang Mangkubumi dingin. “Dan kehendak Tuhan perang memang akan terjadi tanah Jawa ini. Kau adalah pemimpin perang itu keponakanku.”

Pangeran Diponegoro tersenyum. “Kita lihat nanti paman.”

Pangeran Diponegoro menyepak kudanya agar maju. Kedua bangsawan itu turut mencongklang disamping Pangeran Diponegoro. Mereka mulai memasuki pasar Kotagede. Pangeran Diponegoro memperlambat laju kudanya. Dia mengamati setiap orang ataupun pedagang yang menjajakkan dagangan disekitar pasar. Setiap orang atau rakyat pribumi memberi hormat padanya dengan sopan lagi rendah hati. Pangeran Diponegoro menyambut senyum hangat untuk menyapa mereka.

Semua mata tertuju padanya saat ketiga bangsawan itu tiba, lalu kerumunan orang banyak menyingkir dengan segan, memberinya jalan. Ketiga bangsawan itu berkuda dengan tegap dan terhormat.

Pangeran Diponegoro menyaksikan keramaian pasar dengan senang dan ceria. Karena tidak ada kerusuhan atau penjahat yang melakukan kejahatan disekitar pasar. Bahkan judi telah diharamkan untuk dilakukan di pasar. Kerajaan telah mengatur hukum yang sah untuk ditegakkan. Judi dan minuman keras sangat dilarang oleh kerajaan. Ada prajurit yang menjaga pasar dari kejahatan judi dan minuman keras begitu ada yang melakukannya, mereka akan ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Hukum judi dan minuman keras sangat tegas dan jelas.

Pangeran Diponegoro mengerutkan dahi. Matanya tertuju pada pedagang Belanda yang cukup banyak menguasi pasar Kotagede.

Pangeran Diponegoro berpaling menatap sang paman dingin dan serius. Seperkian detik dia mengedikkan bahu. “Berapa banyak orang Belanda yang berdagang disini?”

“Cukup banyak keponakanku,” ujar Pangeran Mangkubumi. “Mereka telah mendirikan loji dagang di pasar ini. Kemungkinan satu kompi pasukan orang Belanda telah melakukan transaksi disini.”

“Apakah mereka sering cari masalah dengan rakyat pribumi?” tanya Pangeran Diponegoro lugas.

“Mereka memaksa harga rendah untuk membeli hasil bumi para petani,” sahut Pangeran Mangkubumi. “Bila rakyat menolak mereka melakukan kekejaman yang brutal hingga membuat kematian terjadi.”

“Biadab orang-orang Belanda,” Pangeran Diponegoro berkata dingin. “Semakin lama mereka tidak mengubah sikap malah membuat orang-orang pribumi makin menderita. Dan aku tidak suka bila kejadian it uterus terjadi paman.”

Lihat selengkapnya