“Assalamu’alaikum.” Pangeran Mangkubumi datang berkunjung ke Tegalrejo. Dia berkuda ditemani dua prajurit pengawalnya.
“Wa’alaikum sallam.”
Pangeran Diponegoro mempersilahkan sang paman untuk masuk untuk kerumahnya. Dia memerintahkan pelayan untuk membuat minuman atau makanan ringan agar disiapkan di pendapa Tegalrejo.
Pangeran Diponegoro duduk di pendapa ditemani Pangeran Mangkubumi yang bertamu ke tempatnya. Dua bangsawan itu saling menatap teduh dan rendah hati.
“Bagaimana keadaanmu keponakanku?” tanya Pangeran Mangkubumi akhirnya.
“Cukup baik paman,” kata Pangeran Diponegoro mendengus. “Bagaimana dengan paman sendiri?”
“Aku tidak baik keponakanku.” Ucapan pamannya begitu menyentuh perasaan. Dia menegak minuman dengan hati-hati.
Pangeran Diponegoro terkejut. “Apa paman sedang sakit?” Tatapan Pangeran Diponegoro amat tajam dan penuh penasaran.
“Tidak.” Pangeran Mangkubumi menggeleng.
“Lalu,” ujar Pangeran Diponegoro menyeringai. “Apa yang membuat paman sakit?”
“Mataram,” sahut Pangeran Mangkubumi muram. “Mataram kini telah sakit.”
“Maksud paman,” desis Pangeran Diponegoro ragu.
“Apa kau mendengar kabar bahwa Tumenggung Kertodirjo II sudah dipecat?” tanya Pangeran Mangkubumi getir. Matanya menyorot serius ke arah Pangeran Diponegoro.
“Tumenggung Kertodirjo II,” ulang Pangeran Diponegoro. “Dia adalah bupati Kerjo. Dia adalah temanku. Kenapa dia dipecat?”
“Alasannya,” kata Pangeran Mangkubumi mendengus. “Karena dia mendukungmu untuk menduduki tahta.”
Pangeran Diponegoro memicingkan mata. “Ini pasti ulah ibu Ratu Ageng dan Patih Danurejo.”
“Ya,” kata Pangeran Mangkubumi getir. “Mereka berdua telah bersekongkol dengan Belanda agar kedudukanmu di Mataram Yogyakarta semakin lemah.”
Pangeran Diponegoro menyeringai. “Mereka telah salah, aku tidak menginginkan tahta Mataram Yogyakarta. Bapak Sultan dulu sudah memberiku mandat. Tetapi aku menolaknya. Kukira ini adalah sebuah pertanda bahwa Mataram Yogyakarta akan mengalami kehancuran.”
“Mataram sudah sakit keponakanku,” ujar Pangeran Mangkubumi. “Kehidupan di Keraton mulai berantakan yang dianggapnya sudah makin jauh dari rakyat. Apalagi menurut pengamatanku Keraton sering mengadakan upacara model Barat mulai dari minum-mimun keras atau alcohol, pergaulan bebas, dan sebagainya yang menyimpang dari Islam.”
Pangeran Diponegoro menaikkan alis matanya. Penuh kesumat namun dapat mengendalikannya. “Apa para pejabat Mataram membiarkan saja masalah itu?” Suara Pangeran Diponegoro mendesak.
“Mereka takut keponakanku,” sahut Pangeran Mangkubumi. “Mereka tidak bisa berbuat banyak untuk bisa mempertahankan Mataram Yogyakarta seperti dulu. Pemerintahan Mataram Yogyakarta sudah dikendalikan sepenuhnya oleh Belanda dengan tangan Patih Danurejo.”
Dada Pangeran Diponegoro terasa sesak. “Astaghfirulllaah,” kata Pangeran Diponegoro lugas. “Belanda adalah orang-orang kafir. Bila Mataram Yogyakarta dibiarkan dalam kebejatan dan kemaksiatan maka Mataram Yogyakarta akan hancur.”
“Apa tindakanmu keponakanku?” desak Pangeran Mangkubumi getir.
Pangeran Diponegoro mengeryitkan mata. “Aku akan mencoba menasihati ibu Ratu Ageng,” kata Pangeran Diponegoro muram. “Aku akan mengirimkan surat petisi agar posisi penghulu dikembalikan ke Kyai Rahmanudin agar Mataram Yogyakarta bisa kembali dalam jalan kebenaran islam.”
Pangeran Mangkubumi mengangguk. “Bila itu tidak berhasil apa rencanamu selanjutnya?” cetus Pangeran Mangkubumi getir lagi dingin.
Pangeran Diponegoro mengepalkan tangan kanannya. Dahinya berkerut. “Sementara ini aku belum bisa memutuskannya paman.”
Pangeran Mangkubumi tersenyum sepi. “Baiklah. Mungkin sudah cukup perbincangannya kita. Karena mata-mata Belanda pasti akan menyebar untuk menghantui setiap pembicaraan kita.”
Pangeran Diponegoro mengangguk.
Pangeran Mangkubumi bangkit dari duduk dan berlalu pergi setelah mengucapkan salam. Pangeran Diponegoro mengantar sang paman di tempat kudanya. Ketika paman sudah mulai pergi dan tak terlihat lagi, Pangeran Diponegoro terlihat muram menatap langit siang yang menjelma kala itu. Udara hangat terasa sesak didadanya. Matahari yang bersinar terang tak mungkin mampu memberikan kecerahan untuk Mataram Yogyakarta saat ini. Mataram telah terkikis dari kemaksiatan. Jurang-jurang yang mampir dalam telah mampu merobohkan pondasi-pondasi kebenaran.
Pangeran Diponegoro memerintahkan pelayan untuk menyiapkan kudanya. Kuda sudah disiapkan oleh pelayan. Pangeran Diponegoro mohon pamit kepada istrinya. Dia bergegas naik diatas pelana kuda. Salam berucap ketika sang pangeran telah menyepak kudanya.
Pangeran Diponegoro memacu kudanya meninggalkan pondok rumah. Dia sudah cukup jauh hingga istrinya sudah tak terlihat dari lirik pandangannya. Dia menyusuri jalan sepi dan hening ke arah keraton Mataram Yogyakarta. Jalan yang tidak ada sama sekali orang atau pedagang lewat bahkan seorang prajuritpun tak akan berani lewat jalan ini.
Pangeran Diponegoro terus memacu kudanya, menghela nafas, berusaha agar amarah dan kesal bisa terkendalikan. Amarah adalah hal yang berbahaya bisa tidak dapat dikendalikan. Bahkan bisa membuat dirinya sendiri terluka karena amarah dalam dirinya yang begitu membara merah padam. Terlebih syetan bisa menguasai bila amarah bergejolak tanpa kendali hati yang dingin dan sabar.