Warisan Abu

Nurul Adiyanti
Chapter #1

1. Sempurna yang Semu

Taman belakang rumah mewah milik keluarga besar William malam itu disulap menjadi sebuah lokasi pesta yang sangat megah. Ratusan lampu hias gantung berbentuk kristal menyinari setiap sudut area, menciptakan pantulan cahaya emas di atas gaun-gaun mahal para tamu undangan. Wangi bunga bakung segar yang dipesan khusus dari luar kota memenuhi udara, bercampur dengan aroma parfum pria-pria kelas atas dan dentingan gelas sampanye yang beradu.

Malam itu bukan sekadar perayaan biasa. Itu adalah hari ulang tahun pernikahan ke-25 bagi orang tua Cheril. Bagi Cheril sendiri, suasana ini adalah simbol dari kehidupan sempurnanya. Ia berdiri di sisi taman, mengenakan gaun sutra merah darah yang membalut tubuh rampingnya dengan sangat elegan. Cheril merasa hidupnya adalah sebuah garis lurus tanpa cacat, setidaknya hingga malam ini dimulai.

“Lihatlah putriku satu-satunya,” suara William terdengar membahana, penuh rasa bangga. Pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu merangkul bahu Cheril dengan hangat.

“Ayah berlebihan sekali,” sahut Cheril sambil tertawa kecil. Ia menoleh ke arah kerumunan tamu yang semuanya menatap mereka dengan tatapan kagum.

“Aku tidak berlebihan, Cheril,” balas William sambil menyalami beberapa rekan bisnisnya yang mendekat.

“Malam ini milik kita. Semua yang kamu lihat di sini, rumah ini, dan kejayaan ini adalah untukmu nantinya.”

Di sisi lain, Ibu Cheril datang mendekat dengan senyum yang dipulas sempurna.

“Cheril, sudahkah kamu menyapa keluarga Theodore? Mereka baru saja tiba dan sedang berbincang dengan Om Richard di dekat meja bar.” Alis Cheril bertaut tipis saat mendengar nama yang tidak asing itu.

“Om Richard? Dia datang juga, Bu? Aku pikir dia sudah tidak lagi bekerja dengan Ayah setelah kejadian di kantor bulan lalu.” Ibunya terdiam sejenak, memperbaiki letak perhiasan di lehernya dengan gerakan yang sedikit tegang.

“Dia masih memiliki hubungan dengan perusahaan kita. Ayahmu bilang kita harus tetap menjaga silaturahmi, apa pun yang terjadi di masa lalu.”

Cheril tidak sempat bertanya lebih lanjut karena tiba-tiba sosok pria yang mereka bicarakan muncul dari kegelapan sisi taman. Richard berjalan mendekat dengan langkah yang agak limbung. Setelan jas abu-abu yang dikenakannya terlihat jauh lebih usang jika dibandingkan dengan tamu-tamu lainnya. Matanya tampak kusam, namun saat matanya mendarat di wajah Cheril, ada kobaran api yang terasa begitu menusuk.

“Selamat malam, William,” Richard menyapa dengan nada yang berat dan getir.

“Richard! Senang kamu bisa datang!” William menyambutnya dengan tawa yang terasa dipaksakan.

“Kenalkan, ini putriku, Cheril. Dia sudah sangat dewasa sekarang, bukan?”

Richard tidak langsung menyahuti ucapan William. Ia justru mendekati Cheril hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa jengkal. Bau alkohol yang tajam menguar dari tubuh pria itu, membuat Cheril sedikit menjauhkan wajahnya karena merasa tidak nyaman.

“Begitu banyak harta yang dibangun di atas tanah yang hangus,” gumam Richard sambil menatap lurus ke arah Cheril.

“Kau tumbuh dengan sangat baik, Anak Kecil. Sayangnya, kau tumbuh di dalam istana yang terbuat dari abu orang lain,” Cheril tertegun dan mencoba mencari maksud di balik kata-kata pria itu.

“Apa maksud Om Richard? Tanah hangus apa yang Om bicarakan?”

“Richard sedang sedikit mabuk, Sayang!” potong William dengan cepat, kemudian segera memberikan isyarat kepada pelayan untuk membawa Richard menjauh.

“Ayo, kita ke tengah. Ada sesi pemotongan kue yang harus segera kita lakukan.”

Setelah Richard ditarik pergi, Cheril masih merasakan sensasi dingin di tengkuknya. Ucapan Richard tidak terdengar seperti igauan orang mabuk biasa. Sebelum ia sempat memikirkan itu lebih lama, ketiga sahabatnya, yaitu Zoe, Naomi, dan Ivy menghampirinya dengan teriakan heboh yang biasa mereka lakukan.

“Cheril! Ya ampun, gaun kamu ini benar-benar tidak manusiawi! Bagus banget!” teriak Zoe sambil meraba pinggiran sutra pada lengan baju Cheril.

“Gila, pestanya meriah banget, Ril. Aku nggak kebayang kalau nanti pernikahan kamu bakalan sekeren apa,” timpal Naomi sambil sibuk mengambil foto diri di cermin dekorasi. Ivy justru menyenggol lengan Cheril.

“Kamu kenapa sih, Ril? Kok mukanya mendung begitu? Bukannya harusnya lagi bahagia ya sekarang?”

“Om Richard tadi ngomong sesuatu yang aneh sama aku,” jawab Cheril lirih.

“Dia bilang rumah kita ini istana dari abu orang lain. Menurut kalian, itu maksudnya apa ya?” Ivy mendengus sambil mengibaskan tangannya di depan wajah.

Lihat selengkapnya