Warisan Abu

Nurul Adiyanti
Chapter #2

2.Kehadiran Louis

Suasana di ballroom Hotel Grand Hyatt malam itu tidak kalah megah dari pesta di rumah keluarga William beberapa hari yang lalu. Langit-langit ruangan yang tinggi dihiasi lukisan mural bergaya Renaissance, sementara panggung utama dipenuhi dengan rangkaian bunga lili putih yang melambangkan kemurnian. Ini adalah acara amal tahunan yang dihadiri oleh elit Jakarta, sebuah panggung bagi para konglomerat untuk menunjukkan kemurahan hati mereka di hadapan media.

Cheril berdiri di sudut ruangan dengan segelas sampanye yang hanya ia putar-putar, tanpa niat untuk meminumnya sedikit pun. Pikirannya masih tertinggal di ruang kerja ayahnya malam itu. Kliping koran tua dan bisikan dingin Louis Theodore terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak yang enggan berhenti. Ia merasa seperti sedang mengenakan topeng yang sangat berat.

“Cheril, kau terlihat pucat. Apa AC di sini terlalu dingin untukmu?” Tanya Ibu Cheril yaitu Maya, sambil mendekat dan memegang lengan putrinya. Cheril memaksakan senyum tipis yang terasa kaku.

“Hanya sedikit kurang tidur, Bu. Mungkin karena tugas kuliah yang mulai menumpuk.”

Maya menatap Cheril dengan sorot mata menyelidik, namun senyum indahnya tidak memudar.

“Jangan terlalu memaksakan diri. Malam ini kita harus terlihat sempurna di depan pers. Kamu tahu sendiri kan, kabar miring tentang Om Richard yang mengamuk di pesta kita kemarin sempat beredar?”

“Jadi berita itu benar-benar tersebar, Bu?” Tanya Cheril dengan nada cemas yang sulit disembunyikan. Ibunya mengangguk pelan sambil merapikan kalung berliannya.

“Hanya gosip kecil di kalangan terbatas, Ayahmu sudah mengurus semuanya. Jadi, tolong jangan berikan alasan bagi mereka untuk bicara lebih jauh, berdirilah dengan tegak.”

Setelah Ibunya pergi menyapa tamu lain, Cheril menarik napas panjang. Tegak? Bagaimana Ia bisa berdiri tegak jika merasa fondasi yang diinjak ternyata hanyalah tumpukan kebohongan berdarah? Tiba-tiba, sebuah suara yang sangat melengking menghentikan lamunan Cheril. Itu adalah suara Nicole, bagian dari geng Safa yang selalu punya cara untuk merusak suasana hati seseorang.

“Wah, lihat siapa yang datang dengan wajah layu!” Nicole mendekat bersama Safa dan dua pengikut setianya.

“Aku dengar rumah keluarga William kemarin habis disatroni orang gila ya? Apa jangan-jangan penagih utang lama?” Cheril memutar bola matanya dan berusaha tetap tenang.

“Nicole, kalau kau ingin mengumbar sampah, sebaiknya cari tempat pembuangan akhir, di sini bukan tempatnya,”

Safa tertawa mengejek, matanya menatap Cheril dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Cukup berani juga ya bicaranya. Padahal aku dengar Om Richard, mitra bisnis Ayahmu yang bangkrut itu, mulai sering berkeliaran di dekat kantormu. Apa benar keluargamu sedang menutupi skandal keuangan besar?”

“Tutup mulutmu, Safa!” Desis Cheril, matanya kini menatap tajam ke arah rivalnya itu.

Nicole semakin menjadi-jadi. Ia mendekati telinga Cheril dan berbisik cukup keras agar orang di sekitarnya mendengar.

“Kasihan ya, pura-pura jadi tuan putri di istana megah, padahal isinya hanya bangkai dari masa lalu. Berapa banyak sih orang yang harus menderita supaya kamu bisa pakai tas desainer itu, Cheril?”

Cheril merasa dadanya sesak. Ucapan Nicole seolah mengonfirmasi ketakutan terdalamnya. Ia hendak membalas, namun lidahnya terasa kelu. Di saat Cheril merasa sudut-sudut ballroom itu mulai menyempit, sebuah tangan kekar tiba-tiba melingkar di pinggangnya dengan posesif.

“Sepertinya kalian punya banyak waktu luang untuk membicarakan kesalahan orang lain, ya?”

Suara bariton itu seketika membungkam tawa Nicole dan Safa. Louis Theodore berdiri di samping Cheril. Pria itu tampak sangat tampan dengan tuxedo hitam custom yang pas di tubuh tegapnya. Sorot matanya yang biasanya dingin kini tampak mematikan saat menatap ke arah kelompok Nicole.

“Kak Louis?” Nicole langsung berubah haluan. Suaranya menjadi manja dan tubuhnya menegang.

“Kami hanya sedang menyapa Cheril, kok,”

Lihat selengkapnya