Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela besar kafe bernuansa minimalis di kawasan Jakarta Selatan. Aroma biji kopi yang baru dipanggang memenuhi ruangan, memberikan sedikit ketenangan yang sangat dibutuhkan oleh Cheril. Ia duduk di pojok ruangan, jari-jarinya yang lentik mengetuk-ngetuk permukaan meja marmer dengan gelisah. Sejak kejadian di hotel tempo hari, kepalanya terasa penuh dengan teka-teki yang tidak masuk akal.
Tiga sahabatnya yaitu Zoe, Naomi, dan Ivy akhirnya datang, kemudian langsung menarik kursi untuk bergabung. Kebisingan mereka yang biasanya membuat Cheril tersenyum, kali ini terasa seperti hantaman di tengah keheningan batinnya.
“Maaf kami telat! Zoe lama sekali memilih tas di toko sebelah tadi,” seru Naomi sambil meletakkan kacamata hitamnya di atas meja. Zoe mencibir ke arah Naomi.
“Namanya juga investasi fashion, Mi! Lagian Cheril yang ngajak kumpul pagi-pagi begini pasti ada alasan darurat, kan?”
“Kamu benar, Zoe,” sahut Cheril pelan sambil menyesap latte-nya yang mulai dingin.
“Aku butuh kalian kepalaku mau pecah memikirkan apa yang terjadi belakangan ini," Ivy menatap Cheril dengan ekspresi serius, menyadari bahwa wajah sahabatnya itu tidak secerah biasanya.
“Tentang si Louis lagi? Aku lihat kalian pulang bareng setelah acara amal itu. Jadi, ceritanya kalian sudah resmi?”
“Resmi apa? Aku saja bingung dia itu siapa sebenarnya untukku,” jawab Cheril frustrasi.
“Di satu sisi, dia sangat melindungi. Dia membungkam mulut Nicole dan Safa ketika mereka mengajak debat aku kemarin, tapi di sisi lain, ucapannya benar-benar mengerikan. Seolah-olah dia sedang menunggu waktu yang tepat untuk menghancurkanku,”
“Menghancurkanmu? Cheril, jangan berlebihan,” potong Naomi dengan dahi berkerut.
“Pria setampan Louis Theodore dan sekaya itu, buat apa menghancurkan kamu? Kalau dia mau, dia tinggal menjentikkan jari dan mendapatkan wanita mana pun yang dia mau di Jakarta,”
“Tapi aku serius, Mi. Malam itu dia bilang, 'Bagaimana kalau ternyata kamu dilindungi agar aku bisa menghancurkanmu dengan tanganku sendiri?',” Cheril menirukan nada bicara Louis.
“Kalian pikir itu ucapan orang yang normal?”
Zoe yang sejak awal merupakan orang paling skeptis di grup mereka, menghela napas panjang dan melipat kedua tangannya di depan dada. Ia tampak menimbang sesuatu di kepalanya sebelum akhirnya bicara.
“Ril, kamu tahu aku selalu setuju kamu mencari pacar, tapi kalau soal Louis, aku rasa peringatan darimu itu harus didengar,” ucap Zoe tenang.
“Kemarin aku iseng bertanya pada kakakku yang bekerja di bidang keuangan tentang keluarga Theodore. Ternyata latar belakang mereka memang sangat misterius. Mereka baru kembali dari luar negeri lima tahun lalu dan langsung menyapu pasar investasi di sini. Nama Ayahnya, Robert Theodore, tidak ada yang berani menyentuhnya di kalangan pebisnis,”
“Termasuk Ayahku?” tanya Cheril penuh selidik.
“Justru itu pertanyaannya, kenapa tiba-tiba mereka begitu dekat dengan Ayahmu? Apa kalian benar-benar yakin kedekatan itu tulus? Mengingat sejarah Theodore Group yang agresif saat mengakuisisi perusahaan saingan,” lanjut Zoe. Ivy mendengus tidak setuju.
“Ayolah, Zoe! Jangan bikin Cheril tambah parno. Di dunia bisnis itu sudah biasa ada persaingan agresif. Mungkin saja Louis itu tipe pria yang dingin di luar tapi sebenarnya sangat terobsesi pada Cheril. Kamu tahu kan pria-pria protektif memang kadang bahasanya suka ekstrem?”
“Tapi ekstrem yang ini beda, Vy! Aku melihat matanya kemarin, itu bukan mata orang yang sedang jatuh cinta!” bantah Cheril.
Perbincangan mereka terhenti sejenak ketika pelayan datang mengantarkan pesanan wafel dan smoothie bowl milik teman-temannya. Untuk beberapa saat, suasana hanya diisi dengan suara dentingan garpu. Namun, ketenangan itu hancur saat suara langkah sepatu hak tinggi terdengar mendekat ke arah meja mereka.