Warisan Abu

Nurul Adiyanti
Chapter #4

4. Retakan Pertama

Cheril mencengkeram tas tangannya dengan sangat erat di dalam mobil Mercedes-Benz milik Louis yang melaju membelah jalanan Jakarta. Suasana di dalam mobil itu begitu dingin, jauh lebih dingin daripada suhu pendingin udara yang berembus pelan. Louis fokus menyetir dengan tatapan lurus ke depan, wajahnya tampak seperti patung pahatan yang tidak tersentuh oleh emosi apa pun.


“Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku, Louis? Siapa yang menyuruhmu membuntutiku sampai ke kafe itu?” suara Cheril memecah keheningan dengan nada yang gemetar karena marah.


Louis tidak langsung menoleh. Ia hanya sedikit memperlambat laju mobilnya saat mendekati gerbang kompleks perumahan elit tempat tinggal keluarga William.


“Aku tidak membuntutimu, Cheril. Aku hanya menjaga apa yang menjadi aset penting bagi ayahmu, dan bagi kepentinganku juga.”


“Aset penting? Jadi bagimu aku hanyalah benda atau alat bisnis?” tanya Cheril sinis, air mata kemarahan mulai mengenang di pelupuk matanya.


Louis memutar setir masuk ke pelataran rumah mewah Cheril. Setelah mematikan mesin, barulah ia menoleh dan menatap Cheril dengan intensitas yang sanggup membuat siapa pun merasa kecil.


“Kadang benda yang paling berharga justru yang paling sering dirusak oleh pemiliknya sendiri karena kelalaian. Aku di sini untuk memastikan hal itu tidak terjadi padamu.”


“Aku tidak butuh perlindunganmu kalau itu artinya aku harus kehilangan privasi!” Cheril membuka pintu mobil dan keluar tanpa menunggu Louis merespons. Ia setengah berlari menuju pintu utama rumahnya, ingin segera mengunci diri di kamar dan menangis sepuasnya.


Namun, begitu Cheril melangkah masuk ke dalam rumah, suasana hangat yang biasanya menyambutnya kini telah hilang. Tidak ada wangi masakan bibi dapur atau suara televisi yang menyala pelan di ruang tengah. Yang ada hanyalah kesunyian yang mencekam, seolah-olah tembok marmer itu sedang menahan beban rahasia yang terlalu berat.


Baru saja kakinya menginjak anak tangga pertama, suara bentakan keras terdengar dari arah ruang baca di lantai atas. Itu suara Ayahnya, William, yang biasanya sangat tenang dan berwibawa.


“Apa kau sudah gila, Maya! Mengapa kau memberikan dokumen itu kepada orang kepercayaan Robert Theodore!” teriak William dengan nada penuh kemarahan.


Cheril terdiam di anak tangga. Jantungnya berpacu lebih kencang dari sebelumnya. Ia melepaskan sepatu hak tingginya dan melangkah tanpa suara, mendekat ke arah pintu ruang baca yang sedikit terbuka—titik yang sama di mana ia mendengar pertengkaran beberapa hari lalu.


“Aku harus melakukannya, William! Robert mengancam akan membongkar seluruh data penggelapan dana asuransi tahun sembilan puluhan itu jika kita tidak memberikan apa yang dia minta!” suara Ibunya Cheril, Maya, terdengar gemetar dan terisak.


“Kita sudah tersudut! Robert Theodore itu iblis, dia tahu segalanya tentang kebakaran gedung itu!”


“Itulah sebabnya aku melarangmu berurusan dengannya sejak awal! Theodore Group itu bukan sekadar rekan bisnis, Maya. Mereka adalah parasit yang ingin mengisap habis dinasti yang sudah aku bangun dengan darah dan keringat!” suara William terdengar membanting sesuatu ke lantai, kemungkinan vas bunga atau gelas.


Maya membalas dengan teriakan yang tidak kalah keras.


“Darah dan keringat? Katakan dengan jujur, itu darah siapa, William? Darah Richard yang bangkrut dan hampir gila, atau darah para korban yang terjebak di dalam api yang kau sulut sendiri?!”


Cheril menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Seluruh tubuhnya lemas, ia hampir terjatuh ke lantai jika tidak berpegangan pada pinggiran kayu jati di dinding koridor. Jadi, apa yang dikatakan Richard dan apa yang tertera di kliping koran itu semuanya benar. Ayahnya adalah seorang kriminal. Seorang pembakar. Dan yang lebih mengejutkan lagi, keluarga Louis Theodore ternyata sudah memegang 'leher' keluarganya sejak lama.


“Hentikan, Maya! Cukup!” bentak William.

Lihat selengkapnya