Dunia di sekitar Cheril seakan berhenti berputar begitu kalimat terakhir Louis menghunjam batinnya. Cahaya lampu neon di ruang kerja Ayahnya terasa semakin menyilaukan, membuat kepalanya berdenyut hebat. Kotak kayu di tangannya terasa begitu berat.
“Ibuku? Apa hubungannya Ibuku dengan semua ini, Louis? Jangan coba-coba memfitnahnya hanya untuk menghancurkanku!” suara Cheril meninggi, meskipun nada bicaranya pecah oleh isak tangis yang tertahan.
Louis tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru meraih tangan Cheril dan menariknya dengan paksa namun terkendali untuk keluar dari ruangan itu. Langkah kakinya lebar dan tegas, membuat Cheril kesulitan untuk menyamakan langkah tanpa tersandung gaun tidurnya sendiri.
“Lepaskan aku, Louis! Aku mau ke kamar! Aku mau keluar dari sini!” teriak Cheril sambil meronta, namun cengkeraman tangan Louis semakin mengerat. Mereka menuruni tangga utama dengan sangat cepat. Di ruang tengah, para penjaga rumah hanya berdiri mematung dengan pandangan lurus ke depan.
“Diam dan masuk ke mobil kalau kamu masih punya sisa akal sehat, Cheril,” perintah Louis saat mereka sampai di depan pintu mobilnya. Cheril terengah-engah, matanya menyapu sekeliling rumah mewahnya yang kini terasa asing dan menakutkan.
“Kenapa? Kenapa kamu membawaku pergi?”
“Karena rumah ini akan menjadi neraka dalam beberapa jam lagi, dan aku tidak ingin kamu hangus di dalamnya sebelum tugasku selesai.” Sahut Louis sambil menutup pintu mobil setelah Cheril masuk ke dalam.
Mobil itu melaju kencang meninggalkan halaman rumah keluarga William, melesat menembus kegelapan jalanan Jakarta yang mulai sepi. Louis mengemudikan kendaraan itu menuju arah luar kota, melewati tol yang membawa mereka ke sebuah kawasan terpencil di perbukitan yang sunyi. Cheril hanya bisa bersandar di pintu mobil, menatap keluar jendela dengan tatapan kosong, merasa seolah hidupnya yang dulu telah tertinggal jauh di belakang. Satu jam kemudian, mobil itu berhenti tepat di depan sebuah vila minimalis berdinding kaca yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon pinus. Suasana di sana sangat sepi, hanya terdengar suara gesekan daun yang tertiup angin malam dan deru mesin mobil yang baru saja dimatikan.
“Turunlah. Kamu butuh tempat untuk bernapas tanpa ada suara pertengkaran orang tuamu,” ujar Louis sambil membukakan pintu untuk Cheril.
Cheril melangkah keluar dengan ragu. Udara pegunungan yang sangat dingin langsung merasuk ke tulang-tulangnya melalui piyama tipis yang ia kenakan. Ia memeluk tubuhnya sendiri, mencoba mencari kehangatan yang telah lama hilang.
“Masuklah, di dalam ada pemanas ruangan,” ajak Louis, kali ini nadanya terdengar sedikit lebih lembut.
Begitu masuk ke dalam vila, Cheril segera duduk di sofa panjang yang menghadap ke pemandangan lembah di bawah sana. Lampu-lampu kota yang jauh terlihat seperti butiran debu emas yang tidak berarti. Louis datang membawakannya sebuah selimut tebal dan secangkir teh hangat, lalu duduk di hadapannya dengan ekspresi yang sangat sulit dibaca.
“Beri tahu aku sekarang, Louis. Jangan biarkan aku menerka-nerka lagi,” pinta Cheril sambil memegang cangkir tehnya dengan tangan yang masih bergetar.
“Tadi kamu bilang tentang masa lalu Ibuku. Apa hubungannya dengan kebakaran dua puluh tahun lalu itu?” Louis menyandarkan tubuhnya, matanya menatap api di perapian yang mulai menyala pelan.
“Banyak orang berpikir bahwa Ibumu adalah korban dari sifat dingin Ayahmu. Tapi kenyataannya, Ibumulah yang memberikan rencana awal pembakaran asuransi itu kepada keluargaku sebagai jaminan kesetiaan antara keluarga William dan Theodore,” Cheril terperangah, napasnya seakan terhenti di tenggorokan.
“Ibu? Ibu yang merencanakannya?”