Warisan Abu

Nurul Adiyanti
Chapter #6

6. Bayangan Masa Lalu

Seminggu telah berlalu sejak malam di vila perbukitan itu, Cheril kembali ke rumah besarnya dengan perasaan yang tidak lagi sama. Setiap kali Ia melewati koridor marmer atau menatap lukisan minyak leluhurnya di dinding, Ia merasa seolah-olah fondasi rumah itu perlahan-lahan sedang goyang di bawah kakinya. Louis masih menjadi satu-satunya tempatnya bersandar, namun benih kecurigaan yang ditanamkan oleh Safa dan pesan anonim tempo hari belum sepenuhnya mati.

Pagi itu, saat Ayahnya sedang berada di kantor dan Ibunya pergi ke acara penggalangan dana sosial, Cheril memutuskan untuk melakukan hal yang belum sempat ia tuntaskan, menyelidiki gudang penyimpanan arsip tua di lantai basemen rumah. Ia membawa sebuah senter kecil dan kunci duplikat yang dicurinya dari laci pengurus rumah tangga. Udara di basemen terasa lembap dan pengap, bau kertas tua yang menguning dan debu tebal segera menyapa indra penciumannya. Cheril melangkah melewati deretan lemari besi yang berkarat, mencari kotak-kotak bertuliskan "Arsip 1990-2005".

“Di mana mereka menyembunyikan dokumen-dokumen itu?” gumam Cheril pelan, suaranya menggema di ruangan yang sunyi.

Setelah mencari hampir selama satu jam, Ia menemukan sebuah kotak kayu jati berukir yang letaknya sengaja disembunyikan di balik tumpukan kursi tua. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Cheril membukanya. Di dalamnya terdapat tumpukan surat kontrak yang sudah sangat rapuh dan beberapa sertifikat tanah asli. Cheril mengambil salah satu sertifikat dan membacanya di bawah cahaya senter.

“Sengketa Tanah Kawasan Industri Cikupa… Pemegang Hak Utama dengan nama Robert Theodore.”

Jantung Cheril seakan berhenti berdetak ketika membalik halaman demi halaman kontrak tersebut. Di sana tertera jelas sebuah klausul pengambilalihan paksa yang ditandatangani oleh Ayahnya, William, dengan saksi mata dari perwakilan perusahaan asuransi. Ada catatan kecil di pinggir kertas yang tertulis dengan tinta hitam pekat yaitu 'Robert menolak kompensasi, lakukan cara yang lebih efektif untuk pengosongan lahan.'

“Cara yang lebih efektif?” bisik Cheril dengan suara tercekat.

“Apa yang mereka lakukan padamu, Louis?”

Belum sempat Ia membaca lebih lanjut, sebuah suara langkah kaki dari atas membuatnya panik dan segera mengembalikan dokumen itu ke dalam kotak, menguncinya kembali, kemudian keluar dari gudang dengan tergesa-gesa. Ia harus pergi ke kampus, hari ini ada ujian tengah semester yang tidak bisa dilewatkan, meskipun konsentrasinya kini sudah hancur lebur.

Sesampainya di kampus, atmosfer yang ia rasakan jauh berbeda. Beberapa mahasiswi yang biasanya menyapa Cheril dengan ramah kini justru berbisik-bisik saat ia lewat. Safa dan Nicole berdiri di dekat mading utama, menyebarkan lembaran brosur digital dari ponsel mereka.

“Lihat siapa yang datang! Putri dari pembakar asuransi sudah sampai di kampus!” seru Alyssa, mahasiswi pesaing sosial Cheril yang juga berada di kelompok Safa. Cheril menghentikan langkahnya dan menatap Alyssa dengan tajam.

“Apa yang sedang kamu bicarakan, Alyssa? Jangan menyebarkan hoaks murahan di tempat umum,” Alyssa justru tertawa dan melangkah mendekati Cheril.

“Hoaks? Seluruh kampus sudah tahu kalau keluargamu terlibat skandal pencucian uang dari kebakaran gedung dua puluh tahun lalu. Beritanya sudah masuk ke blog rumor bisnis ternama pagi ini!”

“Kamu pasti sudah disuap oleh Safa untuk bicara omong kosong begini, kan?” tuduh Cheril, berusaha tetap tenang meski tangannya sudah bergetar hebat. Safa melangkah maju dengan gaya angkuhnya.

“Kami tidak butuh menyuap siapa pun, Cheril. Foto Ayahmu yang sedang bertengkar dengan Om Richard di depan gerbang rumah kalian sudah tersebar di media sosial. Orang-orang mulai bertanya, kenapa pahlawan ekonomi kita punya teman sekelas kriminal?”

Lihat selengkapnya