Warisan Abu

Nurul Adiyanti
Chapter #7

7. Penjaga yang Tersembunyi

Lorong Rumah Sakit Pondok Indah terasa begitu panjang dan mencekam di bawah cahaya lampu neon yang berkedip pelan. Bau karbol yang menyengat menusuk masuk ke dalam paru-paru Cheril, menambah sesak yang sudah bersemayam di dadanya sejak ambulans membawa Ayahnya pergi. Gadis itu duduk di kursi plastik biru yang dingin, kedua tangannya yang gemetar saling menggenggam erat, sementara matanya tak lepas dari pintu unit perawatan intensif (ICU).

“Minumlah sedikit, Cheril. Kau sudah duduk di sana selama tiga jam tanpa berkedip,” suara Louis memecah keheningan yang menyesakkan itu sembari menyodorkan sebotol air mineral yang baru saja dibelinya pada Cheril. Ia duduk di samping Cheril yang menatap botol itu tanpa minat.

“Bagaimana aku bisa minum saat Ayahku mungkin sedang berjuang antara hidup dan mati di dalam sana, Louis?”

“Menyiksa dirimu sendiri tidak akan membuat jantung Ayahmu kembali berdetak dengan normal,” sahut Louis dengan nada bicara yang datar, namun entah kenapa terdengar begitu berwibawa.

“Jika kau pingsan di sini, siapa yang akan mengurus administrasi dan keputusan medis jika kondisinya memburuk?”

“Ibu... Ibu mana? Kenapa dia belum sampai juga?” tanya Cheril sambil celingukan, mencari sosok Maya yang sejak tadi dihubunginya namun tak kunjung memberikan jawaban pasti.

“Ibumu sedang berurusan dengan pihak asuransi dan pengacara di rumah, Cheril. Sepertinya rumahmu mulai dikepung oleh para kreditor dan wartawan karena berita yang tersebar pagi tadi,” jawab Louis sambil menyesap minumannya sendiri.

“Jadi, untuk saat ini, kau hanya punya aku sebagai penanggung jawab di sini,” Cheril menundukkan wajahnya, membiarkan rambut panjangnya yang berantakan menutupi pipinya yang sembab.

“Kenapa kamu masih di sini, Louis? Setelah pengakuanmu tadi... aku seharusnya membencimu. Kamu bilang kamulah yang mengirim surat itu,” Louis sedikit mendekat, meletakkan botol air itu di lantai dan menaruh tangannya di atas pundak Cheril.

“Kebencian adalah perasaan yang melelahkan. Aku hanya memberikan apa yang seharusnya Ayahmu dapatkan yaitu sebuah kejutan dari masa lalu. Tapi di luar itu semua, aku berjanji akan melindungimu, bukan?”

“Perlindungan yang terasa seperti penghancuran,” bisik Cheril parau.

Tak lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan ICU dengan wajah lelah. Cheril langsung berdiri tegak, hampir saja ia tersandung jika Louis tidak menahan lengannya dengan sigap.

“Bagaimana kondisi Ayah saya, Dok?” tanya Cheril dengan suara yang nyaris hilang. Dokter paruh baya itu menghela napas panjang dan menatap catatan di tangannya.

“Tuan William mengalami serangan jantung masif. Beruntung pertolongan pertama segera diberikan. Namun, beliau masih dalam kondisi kritis dan butuh perawatan intensif di kamar kelas khusus dengan peralatan yang lebih memadai. Hanya saja...”

“Hanya saja apa, Dok?” sela Louis dengan tatapan mata yang tajam, langsung mengambil alih percakapan.

“Biaya perawatan di unit khusus itu sangat mahal dan butuh deposit dalam jumlah besar secara tunai karena klaim asuransi keluarga Anda saat ini sedang dalam status peninjauan ulang oleh pusat,” jelas Dokter itu dengan nada menyesal, Cheril melebarkan matanya.

Lihat selengkapnya