Langkah kaki Naomi terdengar tidak beraturan saat Ia berlari menaiki tangga darurat menuju lantai VIP. Napasnya memburu, paru-parunya terasa seperti terbakar karena oksigen yang masuk terlalu paksa. Di tangannya, Ia meremas ponsel dengan sangat erat, meskipun layar benda itu kini retak karena jatuh di pelataran parkir tadi. Naomi tidak peduli pada luka di lututnya yang berdarah karena tersandung, fokus utamanya hanya satu yaitu menyelamatkan Cheril dari cengkeraman pria bernama Louis Theodore.
Pintu unit VIP terbuka dengan bantingan kecil. Naomi langsung menerobos masuk ke dalam kamar nomor 801. Di sana, ia melihat Cheril sedang duduk bersimpuh di samping tempat tidur Ayahnya, memandangi wajah William yang dipasangi berbagai alat penunjang kehidupan. Suasana kamar itu sangat hening, hanya ada bunyi teratur dari mesin EKG yang memantau detak jantung William yang masih lemah.
“Cheril! Kamu harus dengarkan aku sekarang juga!” seru Naomi dengan suara yang hampir pecah karena sisa ketakutannya. Cheril menoleh dengan perlahan, matanya yang sembab menatap Naomi dengan keheranan.
“Mi? Kamu kenapa? Kenapa napasmu sampai sesak begitu dan... itu lututmu berdarah?” Naomi mengabaikan pertanyaan itu dan segera duduk di samping Cheril. Ia memegang kedua bahu sahabatnya dengan tangan yang bergetar hebat.
“Ril, Louis... Louis bukan orang yang kamu kira selama ini. Baru saja, aku tidak sengaja melihatnya di tempat parkiran,” Alis Cheril bertaut.
“Louis? Dia kan sedang menelepon urusan bisnis tadi di luar. Apa masalahnya?”
“Masalahnya dia sedang memberikan uang kepada pria itu! Pria berbaju kulit yang tadi mencoba menyerangmu di lobi!” teriak Naomi.
“Aku melihat mereka tertawa-tawa bersama, Cheril! Leon itu bukan musuh Louis, dia orang suruhan Louis! Seluruh kejadian tadi hanyalah sandiwara agar kamu merasa dia adalah satu-satunya penyelamatmu!” Cheril terdiam sejenak. Keheningan itu terasa begitu berat. Ia menatap Naomi dalam diam sebelum akhirnya menggeleng perlahan dengan senyum yang dipaksakan.
“Mi, kamu pasti salah lihat. Kamu tadi panik kan? Mungkin orang yang kamu lihat itu bukan Louis,”
“Aku yakin itu dia, Cheril! Suaranya sangat jelas, dia bilang kalau dia mau kamu merasa dunia di luarnya sudah berakhir! Dia sengaja membuatmu ketakutan!” desak Naomi lagi, suaranya kini mulai emosional.
“Cukup, Naomi! Kamu sedang berhalusinasi atau apa?” Cheril berdiri, mencoba melepaskan diri dari pegangan sahabatnya.
“Louis baru saja membayar ratusan juta untuk deposit kamar rumah sakit ini ketika asuransi Ayah ditolak. Kalau dia berniat jahat, buat apa dia membantuku sampai sejauh ini?”
“Karena itu umpan untuk menjeratmu lebih dalam, Ril! Kenapa kamu jadi sebodoh ini setelah kenal dia?” bentak Naomi frustrasi.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka perlahan. Louis masuk ke dalam ruangan dengan ekspresi yang sangat tenang, seolah tidak terjadi apa pun di bawah sana beberapa menit yang lalu. Ia membawakan sebuah nampan berisi roti dan jus untuk Cheril. Saat matanya melihat keberadaan Naomi, ada kilatan kepuasan yang tersembunyi di balik ketenangan wajahnya.
“Oh, Naomi sudah kembali? Kenapa kamu terlihat berantakan begitu?” tanya Louis dengan nada bicara yang sopan namun sangat mengintimidasi. Naomi berdiri dan menunjuk wajah Louis dengan jarinya yang gemetar.
“Jangan berpura-pura lagi, Louis! Aku tahu segalanya! Kamu menyuap Leon di parkiran tadi, aku melihat semuanya!” Louis menatap Naomi selama beberapa detik, lalu ia mengalihkan pandangannya kepada Cheril dengan sorot mata yang terlihat penuh luka dan kecewa. Ia meletakkan nampan makanan itu di meja kecil samping tempat tidur.
“Uang suap untuk Leon?” Louis mendesah pelan, Ia mengeluarkan ponselnya dan menggeser layar sebelum menunjukkannya kepada Cheril.
“Maaf, Cheril. Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini sekarang karena kondisimu sedang tidak stabil. Tapi sepertinya temanmu ini memiliki agenda lain,”