Cahaya matahari pagi menembus tirai tipis di apartemen milik Louis, menyinari lantai marmer abu-abu yang mengkilap sempurna. Cheril duduk di meja makan yang terbuat dari kayu eboni hitam, menyesap secangkir teh camomile hangat untuk menenangkan sarafnya yang tegang. Sudah tiga hari ia tinggal di sini, dan perlahan-lahan dirinya merasa seperti boneka porselen yang dipajang di dalam kotak kaca yang kedap suara.
Suara langkah kaki yang teratur terdengar mendekat. Louis muncul dengan setelan jas lengkap, sudah siap untuk pergi ke kantor Theodore Group. Pria itu terlihat sangat rapi, wangi, dan penuh kendali.
“Kamu sudah bangun, Sayang?” tanya Louis sambil mendekati Cheril dan mendaratkan ciuman ringan di keningnya. Cheril memaksakan sebuah senyuman kecil.
“Tidurku tidak terlalu nyenyak, apartemen ini sangat sunyi di malam hari,” Louis menarik kursi di samping Cheril dan meletakkan tablet digitalnya di atas meja.
“Itulah harganya untuk sebuah keamanan, Cheril. Di luar sana sedang kacau. Kamu tidak ingin mendengar suara teriakan wartawan atau telepon dari pengacara Ayahmu yang menagih janji, kan?”
“Aku tahu, tapi rasanya aneh tidak melakukan apa pun. Bisakah aku keluar sebentar hari ini? Hanya ke perpustakaan kampus atau ke taman?” pinta Cheril dengan nada memohon yang halus. Louis terdiam sejenak, matanya menatap tajam ke dalam manik mata Cheril seperti mengetes tingkat kesetiaan gadis itu.
“Belum saatnya, orang-orang suruhan Om Richard masih memantaumu. Selain itu, aku baru saja menerima kabar kalau pihak kampus menangguhkan status mahasiswamu karena skandal keluarga William yang terus memanas,” Gelas di tangan Cheril sedikit berguncang.
“Ditangguhkan? Mereka tidak bisa melakukannya begitu saja! Aku tidak bersalah atas apa pun yang dilakukan Ayah!”
“Tentu saja mereka bisa. Nama baik institusi jauh lebih penting bagi mereka daripada satu mahasiswi berprestasi yang sedang bermasalah,” sahut Louis tenang, kemudian merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kecil berwarna beludru merah.
“Gantilah kesedihanmu dengan ini. Aku membelikannya untukmu kemarin sore,”
Louis membuka kotak itu dan memperlihatkan kalung emas putih dengan liontin berlian berbentuk tetesan air. Ia memasangkannya ke leher Cheril, lalu menyentuh pundaknya dengan lembut, namun terasa seperti bentuk kendali.
“Terima kasih, Louis. Ini indah, tapi aku benar-benar butuh kebebasan lebih dari sekadar perhiasan,” ucap Cheril pelan.
“Kebebasan adalah tanggung jawab yang berat, Cheril. Untuk saat ini, biarkan aku yang menanggungnya untukmu,” ujar Louis sambil bangkit berdiri.
“Aku harus pergi. Jangan mencoba keluar dari apartemen ini tanpa pendampingan dari penjaga di depan pintu, ini untuk kebaikanmu.”
Begitu pintu apartemen tertutup rapat dengan suara klik elektronik yang otomatis, Cheril menyandarkan kepalanya di meja. Rasa aman yang ditawarkan Louis kini mulai terasa seperti sebuah isolasi yang terencana. Ia meraih ponsel lamanya yang layarnya sudah mulai sering hangus, namun tiba-tiba ia teringat satu hal, yaitu Louis memberikan ponsel baru yang sudah dilengkapi dengan pelacak GPS tersembunyi.
Cheril meletakkan ponsel pemberian Louis di sofa, lalu ia mulai berkeliling apartemen mewah itu. Memperhatikan setiap sudut ruangan, mencari hal-hal yang sebelumnya tidak ia sadari. Saat ia berdiri di dekat cermin besar di ruang tamu, ia melihat sebuah titik kecil kemerahan yang berkedip sangat tipis di balik sela-sela figura cermin.
“Kamera?” bisik Cheril dengan suara tercekat.