Suasana ruang tamu apartemen itu mendadak tegang, bunyi jam di dinding pun terdengar sangat jelas. Louis masih memegang dagu Cheril, tetapi tatapannya kini tajam dan serius.
“Jelaskan padaku, Cheril,” suara Louis pelan namun terdengar mengerikan di telinga Cheril.
“Apa yang kamu cari di ruang kerjaku? Apakah kehangatan dariku selama seminggu ini masih belum cukup untuk memadamkan rasa penasaranmu yang tidak berguna itu?” Cheril mencoba menarik wajahnya, namun Louis tidak membiarkannya bergerak.
“Aku... aku tidak mencari apa-apa! Pintunya tadi tidak terkunci rapat, aku hanya ingin memastikan AC-nya sudah mati karena aku mendengar suara berisik!” Louis tertawa sinis, suara tawanya memantul di dinding-dinding kaca apartemen yang dingin.
“Berbohong padaku adalah kesalahan terbesar yang bisa kamu lakukan, Cheril. Kamu melihat peta itu, kan? Kamu melihat lingkaran merah di atas rumah keluargamu?”
“Iya! Aku melihatnya!” teriak Cheril akhirnya, rasa takutnya kini berubah menjadi kemarahan yang meluap.
“Kamu bilang kamu mau melindungiku, Louis! Tapi di sana tertulis 'target eksekusi penghancuran'. Kamu mau meruntuhkan satu-satunya kenangan yang aku punya dari masa kecilku? Kenapa kamu begitu kejam?” Louis melepaskan dagu Cheril dengan sentakan kasar, ia berdiri tegak dan merapikan jasnya seolah tidak terjadi keributan apa pun.
“Dunia bisnis tidak mengenal kenangan, Cheril. Rumah itu berdiri di atas sengketa lahan yang melibatkan nyawa keluargaku. Meruntuhkannya adalah satu-satunya cara untuk membersihkan dosa-dosa Ayahmu!"
“Kamu memanfaatkan posisimu saat ini untuk membalas dendam secara pribadi! Itu bukan bisnis!” tuduh Cheril sambil terisak.
“Sekarang aku mengerti kenapa Safa bilang aku adalah objek kompensasi. Kamu hanya menahanku di sini agar Ayah tidak bisa melakukan perlawanan hukum, kan?”
“Cerdas. Setidaknya sekolah mahalmu tidak sia-sia,” jawab Louis tanpa rasa bersalah sedikit pun. Ia berjalan ke arah pintu keluar dan menguncinya secara elektronik dari panel kendali utama.
“Mulai hari ini, kamu tidak boleh meninggalkan ruangan ini secenti pun tanpa pengawalan pribadiku. Aku tidak ingin ada lagi campur tangan dari pihak luar yang mencoba memengaruhimu.”
“Louis, jangan!” Cheril mengejar Louis, namun pria itu sudah melangkah keluar pintu menuju lobi pribadi apartemen, meninggalkan Cheril yang terpaku di depan pintu baja yang tidak mungkin ia buka.
Cheril jatuh terduduk di depan pintu, membenamkan wajahnya di kedua lututnya. Ia merasa dunianya benar-benar sudah berakhir. Ayahnya koma, sahabatnya dituduh penghianat, dan kini ia menjadi tawanan dari pria yang pernah ia pikir sebagai penyelamatnya. Namun, di tengah keputusasaannya, ia teringat sebuah detail kecil. Apartemen ini memiliki akses lift servis di dekat dapur yang jarang digunakan karena sedang dalam perbaikan, namun pintu daruratnya sering kali lupa dikunci oleh petugas pembersih setiap sore pukul lima.
Cheril melihat jam yang menunjukkan pukul 16.55. Ia segera berlari menuju dapur, melewati tumpukan bahan makanan organik yang dipesan Louis pagi tadi. Di balik pintu kayu kecil di sudut dapur, ia menemukan koridor sempit menuju lift servis. Dengan napas yang memburu, ia menarik pegangan pintu darurat.
Berhasil! Pintu itu terbuka. Cheril berlari menuruni anak tangga darurat dengan kecepatan tinggi, mengabaikan rasa sakit di betisnya karena terus berlari dari lantai empat puluh. Ia sampai di area parkir karyawan di ruang bawah tanah lantai dua setelah hampir lima belas menit berlari tanpa henti.
Begitu ia berhasil keluar ke jalan raya melalui celah pagar samping, udara panas Jakarta menyergapnya. Cheril terus berjalan dengan cepat, mengenakan kerudung hoodie dari jaket yang ia temukan di lemari dekat dapur tadi untuk menutupi wajahnya agar tidak dikenali oleh orang suruhan Louis atau media.