Angin kencang menerbangkan debu di trotoar pinggiran Jakarta Timur saat Cheril berdiri di depan sebuah bangunan bank swasta lama yang terlihat kurang terawat. Cahaya matahari yang mulai meredup memberikan kesan suram pada pilar-pilar beton yang sudah mulai berlumut. Di tangannya, kunci perak pemberian Richard terasa sangat dingin, seperti benda itu membawa aura kematian dari masa dua puluh tahun silam.
Cheril membenarkan posisi tudung jaketnya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada mobil Audi hitam milik Louis atau pria berbadan tegap yang membuntutinya. Ketakutan itu nyata, bahwa setiap bunyi klakson di kejauhan sanggup membuat jantungnya mencelos. Ia segera melangkah masuk ke dalam lobi bank yang hanya berisi dua orang nasabah paruh baya. Seorang petugas keamanan menyambutnya dengan tatapan waspada.
“Ada yang bisa saya bantu, Mbak? Jam operasional bank sebentar lagi tutup,” Cheril menelan ludah, mencoba mengatur suaranya agar tidak gemetar.
“Saya mau akses loker deposit nomor 203. Saya punya kuncinya dan surat kuasa dari Bapak Richard Wijaya,” Petugas itu mengernyitkan dahi sejenak sebelum menunjuk ke arah meja Customer Service.
“Silakan bicara dengan Mbak Siska di sana, Mbak. Biasanya bagian deposit box punya prosedur khusus,” Cheril melangkah menuju meja yang dimaksud. Seorang wanita muda dengan seragam rapi tersenyum ke arahnya, meskipun matanya tampak lelah.
“Selamat sore, saya Cheril. Saya ingin membuka loker 203 atas nama Richard Wijaya,” ucap Cheril sambil menyerahkan kunci dan secarik kertas usang yang ditandatangani Richard.
Siska menerima berkas itu, memperhatikannya dengan teliti, lalu mengetikkan sesuatu di komputer.
“Richard Wijaya... sebentar. Loker ini sudah tidak diakses selama hampir sepuluh tahun, Nona. Data administrasinya menunjukkan adanya tunggakan, namun semua biaya sudah dilunasi secara otomatis dari dana simpanan beku tahun lalu.” Cheril sedikit mengernyit.
“Dilunasi otomatis? Oleh siapa?”
“Sistem kami mencatat ada instruksi debit otomatis dari sebuah perusahaan bernama Theodore Group,” jawab Siska tanpa dosa, matanya kembali menatap layar.
Lutut Cheril lemas seketika. Namanya disebut lagi. Theodore Group. Ternyata Louis sudah tahu keberadaan loker ini dan sengaja membiarkannya tetap hidup untuk menjadi umpan baginya.
“Mbak? Jadi aksesnya bisa saya ambil sekarang?” desak Cheril, mencoba mengabaikan rasa takut yang mulai merayap di punggungnya.
“Bisa, Nona Cheril. Tapi karena data sudah lama, saya perlu verifikasi sidik jari atau PIN pendamping. Di sini tertulis 'Angka Kematian'. Apa Nona tahu angka itu?” tanya Siska dengan nada bingung.
Cheril terdiam. Angka kematian? Ia mencoba memutar otaknya. Hari ulang tahun pernikahan orang tuanya... tanggal kebakaran itu... Ia mencoba mengingat kliping koran tempo hari.
“Cobalah angka 22-07-20-04.”
Siska mengetikkan angka tersebut. Sebuah bunyi klik lembut dari arah mesin pembaca kode memberikan jawaban positif.
“Akses diberikan. Silakan ikut saya ke ruang penyimpanan bawah tanah.”
Mereka menuruni tangga menuju ruangan besi yang sangat dingin dan dipenuhi oleh deretan loker logam berukuran kecil hingga besar. Suara sepatu Siska bergema di ruangan yang kedap suara itu. Ia berhenti di depan sebuah pintu baja dengan nomor 203 di bagian depannya.