Warisan Abu

Nurul Adiyanti
Chapter #12

12. Permainan Louis

Hening menyelimuti kabin mobil mewah yang membawa Cheril kembali ke apartemen milik Louis. Cahaya lampu jalanan Jakarta yang kuning pucat berkelebat melewati wajah Cheril, memberikan kesan bayangan yang dalam di pipinya yang masih basah karena air mata. Folder hitam berisi rahasia Ibunya didekap erat di dadanya, benda itu seperti duri yang terus menusuk batinnya namun walau sekadar untuk melepaskannya.


Louis fokus pada jalanan di depannya, sesekali melirik Cheril dari kaca spion tengah. Ia bisa melihat perubahan besar pada ekspresi gadis itu, bukan lagi sekadar ketakutan, tetapi kekosongan jiwa yang sangat mendalam. Permainan ini berjalan persis seperti rencana yang Ia susun bertahun-tahun, namun ada rasa sesak yang mulai tumbuh di dadanya sendiri setiap kali melihat pundak Cheril berguncang kecil karena isak tangis yang tertahan.


“Berhentilah menangis, Cheril. Air mata tidak akan menghapus tanda tangan Ibumu di dokumen itu,” ujar Louis dengan nada suara yang berusaha ia buat sedingin mungkin. Cheril tertawa miris tanpa menoleh.


“Tanda tangan itu bukan hanya menghancurkan namaku, Louis. Itu juga membunuh seluruh ingatanku tentang cinta seorang Ibu. Jadi, katakan padaku, apa tujuannya kamu memperlihatkan ini sekarang? Untuk merayakan kemenanganmu?”


“Aku hanya tidak ingin kamu hidup dalam kebohongan yang terlalu indah,” balas Louis sambil memutar kemudi masuk ke area parkir apartemen.


“Keindahan itu palsu. Kamu berhak tahu dari mana asal uang sekolahmu, gaunmu, dan berlian yang sering Ibumu pamerkan itu.”


Mobil berhenti di parkiran pribadinya. Louis mematikan mesin, namun Ia tidak segera keluar, menatap wajah Cheril yang tampak sangat rapuh di balik temaram lampu kabin. Dorongan untuk merangkul dan menghapuskan sisa air mata di wajah gadis itu muncul kembali, sebuah keinginan yang Louis benci karena Ia menganggapnya sebagai tanda kelemahan.


“Turunlah, udara di luar sini terlalu dingin untuk paru-parumu yang sedang kacau.” Perintah Louis.


Cheril menurut tanpa membantah. Langkah kakinya gontai, seolah tulang-tulangnya sudah kehilangan fungsinya. Di dalam lift, tak satu pun kata keluar dari mulut mereka. Angka lantai di monitor terus bertambah, sejajar dengan detak jantung Cheril yang kini melambat karena mati rasa.


Sesampainya di apartemen, Cheril langsung duduk di tepi jendela kaca besar yang menghadap ke gedung-gedung bertingkat dan pemandangan malam di luar sana. Ia tidak menyalakan lampu, membiarkan kegelapan malam menjadi satu-satunya kawan. Louis masuk ke ruang kerjanya sejenak untuk meletakkan beberapa berkas, sebelum ponselnya bergetar di saku jas. Ia melihat nama peneleponnya, Robert Theodore.


Louis melangkah menuju balkon terbuka, menutup pintu geser agar Cheril tidak bisa mendengar pembicaraannya. Ia menarik napas panjang sebelum menjawab telepon Ayahnya itu.


“Iya, Yah. Dokumennya sudah ada di tangan dia. Semuanya sudah terbuka,” ucap Louis dengan nada suara yang rendah.


“Bagus, Louis!” suara Robert di seberang sana terdengar sangat puas, ada nada kejam di dalamnya.


“Sekarang adalah saat yang tepat. Setelah mentalnya hancur, kamu harus segera melakukan tanda tangan kuasa aset. Kita butuh tanda tangan Cheril agar kepemilikan saham di properti Cikupa bisa dialihkan sepenuhnya ke keluarga kita secara hukum sebagai 'hutang waris',”


“Kenapa begitu terburu-buru, Yah? Tuan William sedang koma, tidak akan ada perlawanan darinya,” sahut Louis, tangannya mencengkeram besi pagar balkon dengan sangat kuat.


“Karena jika dia sadar dan tahu kita sudah memegang rahasia Maya, dia bisa saja melakukan tindakan nekat seperti membakar dirinya sendiri demi menghapus bukti!” bentak Robert.


“Dan satu hal lagi, jangan pernah goyah karena wajah cantiknya, Louis. Ingat bahwa Ibumu yang menderita karena perselingkuhan murahan Maya denganku! Dia hanyalah anak dari seorang wanita penghianat!”


Louis terdiam. Bayangan Ibunya yang menangis di kamarnya puluhan tahun lalu kembali terlintas. Ia menutup matanya erat-erat.


“Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Cheril adalah bagian dari target akhir ini. Aku tidak akan melupakannya,”


“Pastikan besok semuanya selesai. Aku ingin properti William runtuh minggu depan!” Robert memutuskan telepon secara sepihak.


Lihat selengkapnya