Warisan Abu

Nurul Adiyanti
Chapter #13

13. Sekutu dalam Kegelapan

Pagi itu, suasana di apartemen Louis terasa lebih tegang dari biasanya. Cheril berdiri di depan cermin toilet, melihat dirinya yang kini memakai cincin berlian di jari manisnya. Baginya, itu bukan lagi simbol apa pun, hanya sebuah pengingat bahwa ia sudah terikat dengan Louis. Cheril melirik ke pintu kamar yang sedikit terbuka, melihat Louis yang sedang berada di ruang kerja, kemungkinan sibuk mengurus rencana akuisisi aset keluarga William yang semalam ia setujui secara lisan. Ini satu-satunya kesempatan yang Cheril punya, Ia harus menghubungi seseorang di luar Theodore Group yang masih bisa dipercaya. Cheril mengambil ponsel lama yang ia sembunyikan di balik lipatan handuk cadangan di bawah wastafel. Tangannya sedikit gemetar saat menyalakannya. Nomor Ivy masih tersimpan.

"Halo, Ivy? Ini Cheril. Tolong jangan banyak tanya sekarang, aku butuh bantuanmu," bisik Cheril dengan suara yang sangat rendah, matanya terus waspada menatap pintu.

"Cheril! Ya Tuhan, kami mencarimu ke mana-mana! Naomi masih depresi setelah diusir dari rumah sakit waktu itu," sahut Ivy dari seberang telepon dengan nada kaget yang sangat jelas.

"Lupakan soal Naomi dulu, dia sudah jadi korban fitnah Louis. Dengar, Ivy, aku terjebak di apartemen Louis di kawasan SCBD. Aku butuh data spesifik tentang kebakaran gedung itu, terutama tentang saksi kunci dari Theodore Group yang 'katanya' tewas atau menghilang. Bisa kau carikan sekarang?" desak Cheril, Ivy terdiam sejenak.

"Ayahku punya akses ke arsip lama pemadam kebakaran. Beri aku waktu dua jam, Ril, aku akan mencari data saksi atau keluarga korban yang luput dari pemberitaan asuransi tempo hari,"

"Terima kasih, Vy. Temui aku di parkiran belakang mall dekat gedung ini jam satu siang. Aku akan mencari alasan untuk keluar sebentar. Tolong, jangan beritahu siapa pun, termasuk Naomi atau Zoe!" pinta Cheril sebelum segera memutuskan sambungan telepon dengan Ivy dan menyembunyikan ponselnya kembali.

Cheril keluar dari toilet dan mendapati Louis sudah berdiri di ruang tengah sambil memakai jam tangan Rolex-nya yang mengkilat. Sorot matanya sangat tajam, seakan ia bisa membaca setiap denyut kegelisahan yang ada di nadi Cheril.

"Sudah bangun? Wajahmu pucat sekali pagi ini," ujar Louis dengan nada suara yang tenang namun sarat akan investigasi terselubung. Cheril memaksakan diri untuk tersenyum tipis.

"Hanya kurang tidur. Aku bosan terkurung di sini terus, Louis. Bisakah aku ke mall di bawah sebentar untuk membeli keperluan pribadiku yang habis?" Louis berjalan mendekat, ia mengusap pipi Cheril dengan gerakan yang sangat lembut tapi posesif.

"Bukankah aku sudah bilang kalau belanjaanmu bisa diantarkan oleh kurir pribadiku, Cheril? Kenapa harus pergi sendiri?"

"Aku ingin melihat dunia luar sejenak agar aku tidak benar-benar merasa jadi tawanan di rumahmu ini," balas Cheril dengan nada menantang yang sudah ia persiapkan.

"Apa calon istri seorang Louis Theodore dilarang sekadar jalan ke toko buku atau supermarket di siang hari yang ramai?" Louis menatap Cheril cukup lama, sebuah pertarungan logika terlihat di matanya yang dingin.

"Baiklah. Pergilah dengan dua pengawalku. Tapi ingat, jangan coba-coba mematikan pelacak GPS yang ada di ponsel barumu. Satu milimeter kamu keluar dari radius mall, aku akan mencarimu dengan cara yang tidak menyenangkan,"

"Kamu memang sangat protektif, Louis. Aku sangat menghargainya." sahut Cheril sarkas.

Dua jam kemudian, Cheril turun ke mall di bawah apartemen. Dua pria berbaju hitam masih mengikutinya dari belakang, saat Ia masuk ke sebuah toko pakaian yang punya pintu depan dan pintu belakang. Di ruang ganti, Cheril cepat mengganti pakaian dengan jaket hoodie gelap dari tas belanjanya. Setelah itu, Ia keluar lewat pintu belakang yang kebetulan sedang terbuka karena ada barang masuk. Ia langsung berjalan cepat ke area parkir belakang yang lebih sepi. Sebuah mobil Honda hitam sudah menunggu di sana. Ivy ada di dalam, begitu melihat Cheril, Ia membuka pintu. Cheril segera masuk, dan Ivy langsung mengunci pintu.

"Gila! Kamu nekat banget, Ril!" seru Ivy sambil menyeka keringat di dahinya.

"Waktuku tidak banyak, pengawalku pasti menyadari aku menghilang sebentar lagi. Apa yang kamu dapatkan, Ivy?" tanya Cheril dengan napas yang memburu. Ivy menyerahkan sebuah folder cokelat yang terlihat sedikit kumal.

"Aku menemukan hal yang jauh lebih mengerikan dari sekadar penggelapan uang asuransi, Cheril. Ternyata ada seorang saksi mata bernama Leon, pengawal Robert Theodore dulu, yang menyatakan bahwa Louis sendiri sebenarnya ada di dalam gedung saat kebakaran terjadi,"

"Louis ada di sana? Sebagai apa?" Cheril membuka folder itu dengan tangan bergetar.

Lihat selengkapnya