Warisan Abu

Nurul Adiyanti
Chapter #14

14. Topeng yang Terlepas

Selama perjalanan pulang dari gudang di pinggiran kota, suasana di dalam mobil Range Rover hitam itu sunyi. Bau darah dari kemeja Louis bercampur dengan bau bensin di dalam mobil. Cheril duduk diam di kursi penumpang, jemarinya masih kemerahan karena bekas diikat, dan sesekali gemetar.

Louis mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan satunya beberapa kali mengusap keningnya yang berkeringat. Wajahnya tetap datar, tidak menunjukkan rasa bersalah setelah memukul para preman tadi.

Bagi Louis, kekerasan hanyalah cara untuk menyelesaikan masalah. Sikapnya barusan membuat Cheril mulai melihat sisi lain dirinya yang selama ini tidak terlihat.


“Kenapa kamu tidak bicara sama sekali sejak kita keluar dari gudang itu?” suara Louis memecah kesunyian dengan nada yang sangat datar. Cheril menarik napas panjang, memejamkan mata sejenak untuk menahan pening di kepalanya.


“Aku sedang berpikir, Louis. Apakah yang tadi aku lihat di gudang itu adalah sosok aslimu? Atau kamu masih punya kejutan mengerikan lainnya untukku?”


“Aku menyelamatkanmu dari Safa dan kawan-kawannya, Cheril. Harusnya kata pertama yang keluar dari bibirmu adalah ucapan terima kasih, bukan penghakiman,” sahut Louis sambil memutar setir memasuki pelataran parkir apartemen mewah mereka. Cheril tertawa miris, sebuah tawa yang terdengar sangat hambar.


“Terima kasih karena kamu sudah menghancurkan tulang kaki orang di depan mataku? Atau terima kasih karena kamu secara tidak langsung menyeretku ke dalam dendam keluargamu yang sakit ini?”


Louis menghentikan mobilnya dengan sentakan yang cukup kasar. Ia mematikan mesin dan menatap Cheril dengan sorot mata yang sanggup mengunci gerakan mangsanya.


“Dunia tidak seindah dongeng yang diceritakan Tuan William padamu. Kadang, perlindungan butuh tangan yang berlumuran darah,”


“Aku tidak pernah minta dilindungi oleh monster, Louis!” Bentak Cheril.


Ia segera membuka pintu mobil dan berlari menuju lift pribadi. Sesampainya di apartemen, Cheril tidak menuju ke kamar. Ia berdiri di tengah ruang tamu, menunggu Louis masuk agar ia bisa meledakkan semua emosi yang sudah ia tahan sejak Ivy memberinya berkas di parkiran tadi.


Louis melangkah masuk beberapa saat kemudian, melempar kunci mobilnya ke meja marmer dengan suara dentingan yang nyaring. Ia mulai membuka kancing manset kemejanya yang ternoda darah.


“Masuklah ke kamar dan bersihkan dirimu. Kita akan makan malam dalam tiga puluh menit,”


“Kita tidak akan makan malam sampai kamu menjelaskan pengakuanmu di gudang tadi!” teriak Cheril.


Louis menghentikan gerakannya. Ia menoleh perlahan.


“Pengakuan yang mana?”


“Tentamg Ibumu! Kamu bilang ada di sana melihat ibumu tewas karena perintah Ibuku!” Cheril melangkah maju, kini ia tidak lagi menunjukkan rasa takut. Keberanian yang muncul dari rasa dihianati telah mengubah sorot matanya menjadi tajam.


“Ivy memberikan berkasnya padaku. Louis Theodore tidak pernah jatuh miskin. Louis Theodore sengaja dibentuk oleh ayahnya untuk menjadi pemangsa yang akan kembali menelan keluarga William saat waktunya tiba. Katakan, sejak kapan kamu merencanakan semua pertemuan 'kebetulan' kita di kampus dulu? Sejak kapan kamu mulai mengincar kepemilikan saham Ayahku lewat perasaanku?”


Louis berjalan mendekati Cheril, setiap langkahnya terasa sangat menekan. Ia berhenti tepat di depan wajah Cheril, sehingga napasnya yang dingin menyapu pipi gadis itu.


“Ingin tahu kebenarannya? Baiklah, Cheril. Aku sudah mengincar keluargamu sejak pertama kali bisa memegang senjata di usia sepuluh tahun,” Cheril terperangah, jantungnya berdenyut nyeri mendengar kejujuran yang begitu dingin itu.


Lihat selengkapnya