Lantai marmer apartemen itu terasa dingin di kaki Cheril yang tidak memakai alas. Waktu sudah lewat pukul satu pagi, tapi Ia masih terjaga dan fokus. Di tangannya ada selembar kertas kecil berisi kode akun bank milik Ayahnya yang baru saja diberikan Louis. Bagi Louis, memberikan sandi itu adalah cara agar Cheril tetap menurut dan bergantung padanya secara finansial. Namun, Louis salah menilai, Cheril yang sekarang bukan lagi mahasiswi yang mudah percaya dengan orang lain. Cheril menoleh ke arah sofa, tempat Louis tertidur dengan napas teratur. Wajahnya terlihat tenang tanpa ada yang perlu dikhawatirkan.
"Kamu pikir aku akan menggunakan uang ini untuk diriku sendiri, Louis?" bisik Cheril pelan.
Cheril melangkah menuju dapur, ia merogoh ponsel cadangannya yang masih ia sembunyikan. Ia menghubungi satu-satunya orang yang mungkin masih memiliki keberanian untuk melawan dominasi Theodore Group dan Ayahnya sekaligus, yaitu eseorang yang sudah dihancurkan namun menolak untuk mati, Richard.
"Halo, Om Richard. Ini Cheril. Aku punya kunci yang Om berikan dan sekarang juga punya akses ke rekening likuiditas Ayah. Temui aku di parkiran belakang apartemen sekarang atau buang kesempatan Om untuk menghancurkan mereka selamanya." Ujar Cheril tegas sebelum mematikan sambungan.
Cheril tahu risikonya, kalau Louis bangun, Ia bisa mendapat masalah serius. Dengan hati-hati, Cheril keluar dari apartemen menggunakan kartu akses darurat yang Ia ambil dari saku jas Louis saat pria itu mandi. Lift servis kebetulan tidak dijaga karena pergantian sif.
Lima belas menit kemudian, di area parkir bawah tanah yang sepi, Richard sudah menunggu di dekat pilar beton. Ia memakai pakaian hitam dan terlihat waspada. Di sampingnya ada Zoe, sahabat Cheril, yang tampak emosional saat melihatnya keluar dari lift.
"Ril! Kamu benar-benar tidak apa-apa?" Zoe segera memeluk Cheril dengan erat, seolah-olah ia sedang memegang barang berharga yang hampir pecah. Cheril melepaskan pelukannya perlahan.
"Aku tidak punya banyak waktu, Zoe. Om Richard, katakan padaku lebih banyak tentang Ibuku, Anda bilang di taman kemarin kalau Ibu lebih terlibat daripada yang selama ini orang bicarakan," Richard melangkah maju, sorot matanya yang dingin menatap Cheril dengan serius.
"Keluargamu dan keluarga Louis bukan hanya sekadar bermitra dalam bisnis properti, Cheril. William mungkin yang memberikan perintah, tapi Ibumu, Maya, adalah otak di balik sistem klaim asuransi maut itu bersama Robert Theodore,"
"Jadi Ayah Louis... Ayahnya terlibat langsung dengan Ibuku?" tanya Cheril dengan suara yang gemetar, meskipun Ia sudah menduga hal ini sebelumnya.
“Robert dan Maya bekerja sama menggelapkan dana yang seharusnya dipakai untuk memperbaiki gedung setelah kebakaran kecil pertama. Tapi Maya ingin hasil cepat, jadi dia sengaja merusak sistem listrik gudang saat para buruh masih di dalam, supaya mereka bisa mengajukan klaim force majeure,” jelas Richard sambil menyerahkan rekaman digital dari saku jaketnya. Cheril memejamkan mata, dadanya terasa sesak mendengar semua itu. Ia mulai menyadari bahwa Ibunya terlibat dalam hal yang sangat serius.
“Louis tidak pernah bilang tentang kerja sama Ibuku dan Ayahnya. Dia hanya bilang membenci Ibuku karena terlibat perselingkuhan dengan Ayahnya,” kata Cheril pelan, Richard tersenyum tipis.
“Perselingkuhan itu bukan masalah utamanya, Louis menutup-nutupi keterlibatan Robert. Kalau nama Robert Theodore ikut terseret dalam kasus kebakaran itu, posisi Theodore Group bisa runtuh secara hukum,” Zoe ikut bicara dengan nada cemas.
"Ril, kita tidak bisa hanya berdiam diri. Safa dan Alyssa mungkin sudah lepas dari penjara setelah denda mereka dibayar Louis. Louis akan menggunakan mereka lagi untuk merusak reputasimu kalau kamu membangkang,"
"Biarkan saja mereka menyerangku. Itu justru akan mengalihkan perhatian Louis dari apa yang sedang kita rencanakan sekarang," sahut Cheril sambil menyerahkan kertas sandi bank kepada Richard.