Warisan Abu

Nurul Adiyanti
Chapter #16

16. Wajah di Balik Cermin

Malam itu, suara hujan di kota Jakarta terus membuat kebisingan kota terdengar lebih samar, sementara air yang jatuh mengenai jendela kaca rumah sakit terdengar jelas dari dalam. Di kamar VIP nomor 901, suasananya berbeda, lebih sepi dan terjaga kebersihannya. Hanya ada suara alat monitor jantung yang terhubung ke tubuh William, berbunyi secara teratur. Cheril berdiri di pintu, melihat seorang wanita yang duduk di kursi di samping tempat tidur pasien.

Ibunya, Maya, duduk dengan posisi tegak. Ia membuka tas rias bermerk mahal dan mulai merapikan penampilannya. Wajahnya tetap rapi, tidak terlihat bekas menangis, dan rambutnya tertata seperti biasa. Di saat suaminya masih koma setelah serangan jantung kedua, Maya justru sedang mengoleskan lipstik merah di bibirnya dengan bantuan cermin kecil.

Cheril melangkah masuk, suara sepatunya begitu pelan di lantai vinil. Ia merasa situasi ini tidak sesuai dengan kondisi yang seharusnya. Maya terlihat lebih seperti orang yang sedang bersiap menghadiri pertemuan penting, bukan seperti anggota keluarga pasien yang sedang menunggu di rumah sakit.

“Kenapa Ibu berdandan seperti itu di ruangan orang sakit?” tanya Cheril dengan nada datar. Maya sedikit terkejut, tapi segera menenangkan diri. Ia menutup lipstik dengan bunyi kecil dan memasukkannya kembali ke dalam tas.

“Dunia luar tidak berhenti hanya karena Ayahmu dirawat di sini, Cheril. Ibu harus menemui beberapa kolega supaya bisnis kita tetap berjalan dan tidak dianggap melemah oleh pesaing,”

“Bisnis yang mana, Bu? Bisnis properti dari uang asuransi dua puluh tahun lalu? Atau kegiatan lain yang melibatkan orang-orang yang menghalangi kalian?” Cheril mendekat dan menatap Ibunya melalui cermin di meja rias. Maya menghentikan gerakannya. Ia lalu menoleh dan menatap Cheril dengan ekspresi datar, tanpa reaksi emosional yang jelas.

“Sejak bersama Louis, cara bicaramu berubah. Sepertinya dia banyak memengaruhimu.”

“Louis tidak memengaruhiku, Bu. Dia hanya menunjukkan dokumen asuransi yang Ibu tanda tangani bersama Robert Theodore,” jawab Cheril sambil melemparkan fotokopi dokumen dari dalam tasnya ke pangkuan Maya.

"Katakan padaku, apa Ibu benar-benar menginginkan orang-orang di gudang itu mati supaya uangnya cepat cair?" Maya melirik dokumen itu sekilas, lalu ia justru tersenyum kecil. Sebuah senyum yang sanggup membuat bulu kuduk Cheril meremang.

"Apa kamu pikir menjadi kaya itu hanya soal kerja keras dan berdoa setiap malam? Di dunia yang dipenuhi oleh serigala, kamu tidak bisa terus-terusan jadi domba yang menunggu diberi makan."

"Tapi Ibu membunuh mereka!" bentak Cheril, air matanya kini mulai mengenang bukan karena sedih, melainkan karena kecewa yang teramat dalam pada wanita yang telah melahirkannya. Maya berdiri, postur tubuhnya sangat elegan saat ia mendekati Cheril. Ia menyentuh dagu putrinya dengan ujung jemari yang dingin.

"Kematian adalah biaya produksi, Cheril. Ayahmu itu lemah, William selalu merasa bersalah setelah kejadian itu, Ia mulai minum alkohol sampai kena penyakit liver, lalu sekarang jantungnya tidak sanggup menanggung rahasia ini. Tapi Ibu? Ibu tidak pernah sekalipun menyesal karena dengan uang itu Ibu bisa memberimu kehidupan layaknya putri raja."

"Aku tidak butuh itu kalau itu artinya aku anak dari seorang sosiopat!" Cheril menepis tangan Maya dengan kasar.

"Louis bilang, Ibu yang menyuruh Robert memancing penjaga malam ke dalam gedung itu sebelum sistem listriknya disabotase. Benar begitu, kan?"

"Robert pria yang sangat rakus. Ia mudah sekali dimanipulasi hanya dengan sedikit tawaran kekuasaan dan... kedekatan fisik," ujar Maya tanpa ada rasa malu di wajahnya.

“Kami berbagi peran. Robert menangani hal-hal yang melibatkan kekerasan, Ibu mengurus dokumen dan urusan administrasi, dan Ayahmu, William, yang tampil ke publik untuk menjaga citra perusahaan. Kami bekerja efektif, sampai William mulai berubah dan tidak lagi setuju dengan cara kami,”

Cheril mundur selangkah. Ia merasa mual saat menyadari Ibunya terlibat langsung dalam kejadian itu. Selama ini ia mempercayai cerita yang berbeda, dan sekarang semuanya terbantahkan. Sosok Maya yang selama ini Ia anggap lembut ternyata tidak seperti yang ia pikirkan.

Lihat selengkapnya