Warisan Abu

Nurul Adiyanti
Chapter #17

17. Serpihan Kesetiaan

Koridor rumah sakit yang biasanya tenang sekarang terasa tidak nyaman. Udara di sekitarnya masih terasa tegang setelah dua orang suruhan Tuan Robert Theodore pergi.

Cheril berdiri diam di pintu kamar 901. Di belakangnya, Ibunya masih duduk di lantai sambil menangis pelan. Pandangan Cheril tertuju ke arah lorong, yaitu pada seorang pria yang ia sadari terlibat langsung dalam kejadian yang menimpa keluarganya. Louis keluar dari area yang sebelumnya gelap di dekat dinding. Lampu neon di atasnya berkedip, membuat wajahnya terlihat tidak jelas. Ia berjalan mendekat tanpa menunjukkan rasa bersalah.

Di tangannya, memegang ponsel yang masih menyala, menampilkan kode keamanan yang sebelumnya ia berikan aksesnya kepada orang-orang tadi.

“Kamu belum menjawabku, Louis!” seru Cheril dengan suara yang berguncang hebat.

“Kenapa kamu membiarkan mereka masuk ke ruangan ini? Kamu sengaja membiarkan Ibuku hampir terbunuh di depan mataku sendiri?"

Louis berhenti beberapa langkah di depan Cheril. Ia memasukkan ponselnya ke saku jas dan menatap Cheril dengan sorot mata yang sulit dibaca, ada perpaduan antara kedinginan seorang algojo dan gairah sosiopat yang sulit dikendalikan.

“Dunia ini butuh keseimbangan, Cheril. Ibumu sudah menumpuk terlalu banyak hutang darah selama dua puluh tahun ini. Aku hanya membukakan pintu agar dia bisa melunasi sebagian darinya,”

“Tapi aku ada di dalam sana! Bagaimana kalau peluru itu mengenai aku juga?” Bentak Cheril sambil melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka.

Louis meraih pergelangan tangan Cheril dengan sangat cepat, menarik gadis itu mendekat hingga dada mereka hampir bersentuhan. Napas Louis terasa sangat tenang di atas dahi Cheril yang berkeringat.

“Aku sudah mengatur semuanya dengan sangat presisi. Pria-pria tadi tidak akan berani menyentuh selembar rambutmu karena mereka tahu siapa yang memberi mereka makan,”

“Jadi hidup dan matinya Ibuku sekarang ada di bawah kendalimu?” tanya Cheril sambil mencoba melepaskan tangannya, namun genggaman Louis terasa seperti borgol yang sangat kuat.

“Semua orang di keluarga ini ada di bawah kendaliku, Cheril. Termasuk kamu,” sahut Louis dengan nada suara yang merendah, hampir seperti sebuah bisikan yang mematikan.

“Jika aku tidak memfasilitasi kejadian tadi, Robert akan mengirim pasukan yang jauh lebih besar dan brutal besok pagi. Dengan memberinya satu kesempatan yang gagal, aku baru saja memperpanjang napas ibumu setidaknya untuk dua puluh empat jam ke depan,”Cheril tertawa sinis, matanya kini berkilat dengan kebencian yang sangat kental.

“Sangat dermawan dari pihakmu karena menyelamatkan kami hanya untuk menjadikannya bahan tontonan pribadimu?”

“Sebut saja begitu,” balas Louis sambil melepaskan genggamannya. Ia berjalan menuju pintu kamar rawat, mengintip sekilas ke arah Ibunya Cheril yang masih gemetar di lantai.

“Nyonya Maya Wijaya yang agung ternyata hanya seorang wanita yang takut mati saat dihadapkan pada senapan. Sungguh pemandangan yang menyegarkan untuk dilihat malam-malam begini," Maya mendongak, menatap Louis dengan kebencian yang meluap, meskipun bibirnya masih bergetar.

“Kamu anak haram Robert Theodore yang penuh dendam! Aku menyesal pernah membujuk William untuk memberikan akses pada Ayahmu!” Louis tidak terpancing oleh kemarahan Maya. Ia justru bersandar pada pintu kayu besar itu dan bersedekap.

“Penyesalan tidak akan berguna sekarang, Nyonya Maya. Sekarang pilihannya hanya dua, antara Anda keluar dari rumah sakit ini dan masuk ke dalam pengawasan pribadi Ayahku untuk dibunuh pelan-pelan di ruang bawah tanah, atau Anda menyerahkan sisa data klaim asuransi asli itu kepadaku secara sukarela,” Cheril melangkah masuk ke ruangan lagi, berdiri di antara Ibunya dan Louis.

“Berhenti mengancamnya, Louis! Ibuku sedang tidak punya apa-apa lagi sekarang. Aku sudah membekukan dana cair milik Ayah yang selama ini dia gunakan,” Louis menoleh ke arah Cheril, kali ini matanya menyipit dengan tanda-tanda ketertarikan intelektual yang tinggi.

“Aku baru tahu putri konglomerat ini sudah pintar menggunakan pembekuan rekening bank secepat kilat. Tapi kamu salah satu hal, Cheril. Uang itu bukan satu-satunya alat tukar Ibumu,"

Lihat selengkapnya