Lampu kristal di ruang tamu apartemen Louis terasa terlalu terang bagi mata Cheril. Ia masih berdiri diam menatap layar televisi besar yang menampilkan grafik penurunan aset keluarga Wijaya dalam waktu singkat. Berita itu menunjukkan bahwa kondisi keuangan keluarganya sedang jatuh dan melibatkan orang-orang dari dalam perusahaan sendiri. Cheril menoleh ke arah Louis dengan gerakan kaku, pria itu masih berdiri tenang, meminum wiski dari gelas di tangannya, seolah situasi yang terjadi tidak memengaruhinya.
"Ibu... dia benar-benar memberikan sisa uang itu pada Tuan Robert?" suara Cheril bergetar, hampir hilang tertelan kesunyian ruangan yang mencekam. Louis meletakkan gelasnya di atas meja marmer dengan bunyi denting yang dingin.
"Apa kamu benar-benar terkejut, Cheril? Maya Wijaya adalah wanita yang pragmatis. Di matanya, nyawanya sendiri jauh lebih berharga daripada seluruh rekening bank Ayahmu atau bahkan keselamatanmu,"
"Tapi dia Ibuku, Louis! Dia baru saja memelukku di rumah sakit!" teriak Cheril, kemarahan akhirnya meledak dari balik rasa syoknya.
"Pelukan itu hanya alat tawar-menawar agar aku membiarkan penyerang tadi mundur sebentar," sahut Louis sambil berjalan mendekati Cheril.
"Ibumu tahu kalau Tuan Robert Theodore tidak akan berhenti sebelum dia mendapatkan seluruh nilai kompensasi dari kegagalan investasi Cikupa dua puluh tahun lalu. Dan malam ini, Ibumu resmi membeli keselamatannya sendiri dengan menggunakan akses yang sebenarnya kau percayakan padanya tadi siang," Cheril terjatuh kembali ke sofa, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Isak tangisnya terdengar menyeditkan hati.
"Jadi untuk apa aku membekukannya? Untuk apa aku mencoba melawan kalau ternyata semuanya sudah direncanakan oleh mereka berdua di belakangku?" Louis berlutut di hadapan Cheril, namun kali ini ia tidak menyentuhnya. Ia hanya menatap Cheril dengan sorot mata yang penuh penghakiman sekaligus kepuasan.
"Itu karena kamu terlalu naif. Kamu pikir dengan modal moralitas dan beberapa baris kode enkripsi, kamu bisa mengalahkan dua iblis yang sudah bersengkokol selama dua dekade? Tuan Robert dan Nyonya Maya adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Mereka saling membenci, tapi mereka saling membutuhkan untuk tetap berkuasa,"
"Lalu aku apa, Louis? Kenapa kamu menahanku di sini?" tanya Cheril dari balik sela-sela jarinya.
"Jika uangnya sudah di tangan Robert, apa gunanya aku buat kamu sekarang?" Louis menarik paksa tangan Cheril dari wajahnya, memaksa gadis itu untuk menatapnya lurus-lurus.
"Kamu masih berguna sebagai penjamin legalitas pengalihan aset properti yang tidak bisa dicairkan dalam bentuk uang tunai. Tanah di Cikupa dan rumah lama kalian hanya bisa beralih nama jika ada tanda tangan ahli waris yang sah di bawah kontrak pernikahan. Tanpa kamu, Robert tetap dianggap sebagai pencuri aset oleh hukum. Dengan kamu di sisiku, dia menjadi pemilik yang sah," Cheril menarik tangannya dengan kasar.
“Jadi semua yang kamu lakukan ini hanya supaya aku mau tanda tangan surat pernikahan besok? Kamu bukan menyelamatkanku, Louis. Kamu hanya memastikan aku tetap di sini dan tidak ke mana-mana,” kata Cheril. Louis berdiri tegak sambil merapikan jasnya yang sedikit kusut.