Pagi pun tiba, cahaya matahari masuk melalui celah gorden otomatis di kamar Louis dan jatuh ke lantai marmer. Suasana ruangan sunyi, hanya terdengar suara mesin pemurni udara. Cheril duduk di ujung tempat tidur sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia masih memikirkan tawaran Louis tadi malam, kerjasama untuk menjatuhkan Tuan Robert Theodore. Rencana itu bisa membantu melindungi aset keluarganya, tapi juga bisa membuatnya dalam bahaya jika sampai diketahui oleh Tuan Robert. Pintu toilet pun terbuka. Louis keluar dengan sisa uap air dari dalam sembari mengenakan jubah mandi hitam yang diikat longgar di pinggang. Ia terlihat segar dan tenang, tidak menunjukkan tanda-tanda tertekan, meskipun rencana yang ia buat memiliki risiko besar.
“Kenapa wajahmu masih sangat tegang, Cheril?” tanya Louis sambil menyisir rambut basahnya dengan tangan kiri.
“Bukankah secangkir kopi pagi biasanya bisa meredakan kepanikan mental seseorang?” Cheril menatap Louis melalui pantulan cermin rias yang besar.
“Bagaimana aku bisa tenang, Louis? Kamu mengajakku bermain api dengan bensin yang mengalir di bawah kaki kita. Ayahmu, Tuan Robert Theodore itu bukan orang bodoh. Dia sudah mengawasi gerak-gerik kita setiap detik melalui Leon,”
“Leon setia pada siapa pun yang bisa memberikan kekuasaan yang lebih nyata di depannya,” balas Louis sambil berjalan menuju ruangan bar kecil di sudut kamarnya untuk menyiapkan dua cangkir kopi espresso.
“Ayahku punya kekuatan di masa lalu, tapi aku punya kunci masa depan bagi pria seperti Leon. Jadi, kamu tidak perlu khawatir tentang saksi bisu di rumah ini,”
“Tapi aku butuh bukti nyata soal pengkhianatanmu padanya. Bagaimana kau bisa yakin rencanamu dengan perusahaan Singapura itu tidak akan terlacak?” tuntut Cheril. Ia melangkah mendekati Louis, tatapannya mencari kepastian di dalam mata kelam pria itu. Louis menyodorkan secangkir kopi kecil yang aromanya sangat kuat kepada Cheril.
“L.T. Alpha Holdings adalah perusahaan yang aku bangun tanpa campur tangan aset Theodore Group sepeser pun. Segera setelah kamu menandatangani hibah aset dari Ayahku ke namamu hari ini, uang asuransi yang Ibumu serahkan secara paksa itu akan dialihkan ke sana sebagai modal dasar pengembangan pelabuhan di Batam. Robert hanya akan melihat laporan angka di layar komputer, tanpa sadar kepemilikan saham fisiknya sudah berganti kode pemilik.”
“Lalu tugasku hanya menjadi pajangan saat pengacara itu datang?” tanya Cheril sambil menyesap kopinya dengan tangan yang masih sedikit bergetar.
“Tidak, tugasmu adalah terlihat sangat menderita di depan mereka,” ujar Louis sambil mengusap pundak Cheril dengan lembut, namun sentuhannya memberikan kesan kepemilikan yang sangat kental.
“Pukul sepuluh pagi ini, pengacara Ayahku yaitu seorang pria licik bernama Sutedjo, akan datang membawakan dokumen penyerahan hak ahli waris Cikupa. Kamu harus menandatanganinya dengan mata yang sembab, seolah-olah aku baru saja menyiksamu habis-habisan agar kamu menurut,” Cheril tertawa sinis dan meletakkan cangkirnya dengan bunyi hantaman kecil di meja.
“Sepertinya aku tidak perlu akting terlalu keras untuk bagian itu, Louis. Kenyataan di sini sudah cukup menyiksaku,” Louis tidak marah, justru tertawa sebentar, suatu hal yang sangat jarang ia lakukan.
“Bagus, pertahankan energi kemarahan itu saat Sutedjo bicara soal kompensasi nyawa. Jika Ayahku melihatmu terlihat terlalu kooperatif, dia akan segera mencabut semua penjagaan di lantai isolasi Ibumu dan membiarkan para pembunuh itu menyelesaikan tugas mereka yang tertunda,”
“Kamu benar-benar sosiopat yang detail, Louis.” gumam Cheril sambil melangkah menuju ruang tamu, ia mulai bersiap untuk pertempuran administratif yang akan menentukan hidupnya.
Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh tepat. Bel apartemen berbunyi, membuat suasana di ruangan langsung terasa tegang. Cheril menarik napas dalam, lalu duduk di ujung sofa ruang tamu. Ia menundukkan kepala dan menutupi cincin pertunangannya dengan lengan sweter agar tidak terlihat. Louis membuka pintu apartemen dan menyambut Sutedjo, pria paruh baya dengan tas kulit dan kacamata berbingkai emas, masuk bersama dua staf legal bertubuh besar. Mereka tidak menyapa Cheril dan justru melihat sekeliling apartemen seperti sedang memastikan kondisi tempat tersebut.