Suara teriakan dari koridor apartemen masih terdengar jelas sampai ke dalam unit Louis. Cheril berdiri di samping sofa dengan tubuh sedikit gemetar, matanya tertuju pada monitor keamanan yang menampilkan seorang pria berwajah serius sedang menunjuk ke arah kamera sambil memegang ponsel satelit. Louis tidak langsung bergerak, melainkan berdiri diam dengan rahang yang tegang, terlihat sedang menahan emosi.
"Louis, buka pintunya! Bagaimana kalau dia benar-benar meledakkan unit Ibuku di rumah sakit!" jerit Cheril dengan suara yang serak karena kepanikan murni.
"Ayahku tidak akan melakukan itu sekarang, Cheril! Dia hanya ingin menggertak agar aku tidak menyentuh aset Swiss-nya!" bentak Louis, suaranya menggelegar menyaingi bunyi bising dari monitor.
"Kamu mau mau mengambil risiko dengan nyawa Ibuku?" tanya Cheril balik, air mata ketakutan kini mulai mengalir deras di pipinya.
"Cukup, Louis! Buka pintunya atau aku sendiri yang akan mendobrak jendela ini dan berteriak agar semua orang mendengar!"
Louis menghela napas panjang, ia memukul dinding marmer dengan kepalan tangannya hingga terdengar suara benturan yang keras. Ia berjalan ke arah panel kontrol dan menekan tombol pembuka kunci pintu utama. Pintu baja yang sangat berat itu bergeser secara otomatis dengan suara mendesis yang pelan namun sangat mengerikan di telinga Cheril.
Pria yang berdiri di koridor tadi melangkah masuk. Ia tidak datang sendirian dan di belakangnya, tampak Richard berjalan perlahan dengan pakaian yang jauh lebih rapi, diikuti oleh seorang pria tua bungkuk dengan kacamata tebal yang terlihat sangat gugup. Cheril terkesiap saat melihat Richard, Ia mengira pria itu sudah lari ke Singapura setelah membawa dana pribadinya tadi pagi.
"Kau kembali, Om Richard?" tanya Louis dengan suara yang penuh kebencian, matanya kini terfokus pada pria tua di belakang Richard.
"Dan siapa laki-laki jompo ini yang kau bawa ke wilayah pribadiku?" Richard tidak menjawab tantangan Louis dengan emosi. Ia menarik kursi di meja makan dan menyuruh pria tua itu duduk dengan sangat hati-hati.
"Ini adalah Pak Haryo, Louis. Dia adalah mantan pengawal pribadi dan orang kepercayaan Ayahmu, Robert Theodore, serta Ayah Cheril, William, selama hampir dua puluh lima tahun," Cheril mendekat secara perlahan karena merasa wajah Pak Haryo tidak asing, bayangan samar dari masa kecilnya muncul di kepala, seorang pria yang sering berjaga di gerbang rumah lama mereka saat malam hari.
"Pak Haryo? Anda masih ingat saya?" Pria tua itu mendongak, matanya yang rabun menatap Cheril dengan sorot penuh penyesalan.
"Nona Cheril... Anda sudah sangat besar. Wajah Anda benar-benar duplikat dari Nyonya Maya di waktu itu. Saya mohon maaf karena baru berani muncul sekarang,"
"Kenapa Bapak datang sekarang?" tanya Cheril sambil menarik kursi untuk duduk di hadapan Pak Haryo.
"Aku membawanya karena dia memiliki memori yang tidak bisa dihapus oleh data bank manapun, Cheril," sahut Richard tegas, ia menatap Louis yang masih berdiri mematung di sudut ruangan.
"Katakan padanya, Pak Haryo. Tentang apa yang Bapak saksikan setiap tahun di kantor asuransi itu," Pak Haryo menghela napas panjang, suaranya parau namun setiap katanya terasa sangat berbobot.