Warisan Abu

Nurul Adiyanti
Chapter #22

22. Duri di Atas Mahkota

Suasana di dalam apartemen itu sangat sepi dan tegang. Louis masih berdiri diam di depan pintu kamar. Wajahnya terlihat pucat dan tegang, seolah sedang tertekan. Napasnya terdengar berat di ruangan itu, Ia tidak menyangka rahasia yang selama ini ia simpan, yang menjadi alasan sikapnya terhadap keluarga William bisa diketahui dan diucapkan langsung oleh Cheril.

Cheril berdiri tegak, wajahnya tidak lagi menunjukkan rasa takut. Pengalaman yang Ia alami beberapa hari terakhir membuatnya lebih kuat dan lebih tenang dalam menghadapi situasi ini. Ia menatap Louis dengan tajam, melihatnya sebagai orang yang selama ini menyembunyikan banyak hal dan tidak jujur tentang dirinya.

“Kenapa kamu diam saja, Louis?” tanya Cheril, suaranya kini tenang namun dingin menyerupai es yang baru diambil dari freezer.

“Apa kenyataan itu terlalu berat untuk kamu akui sendiri setelah selama ini merasa sebagai korban suci yang pantas membalas dendam kepadaku?” Louis mengepalkan tangannya hingga urat-urat biru terlihat menonjol di punggung tangannya yang putih.

“Siapa yang memberitahumu hal itu? Om Richard? Atau si jompo Haryo yang otaknya sudah berkarat karena dimakan usia?”

“Itu tidak penting siapa yang mengatakannya!” bentak Cheril sambil melempar selembar dokumen asuransi terakhir yang sempat ia selipkan di sakunya tadi.

“Di sana ada lampiran daftar pembelian bensin literan yang dilakukan oleh Ibumu tepat dua jam sebelum gedung itu terbakar. Kamu tahu siapa yang membayar bon itu? Ibumu sendiri menggunakan kartu debit rahasia yang terhubung dengan perusahaan properti Theodore Group! Bukan ibuku, bukan ayahku, tapi ibumu yang sangat kamu dewakan itu, Louis!” Louis berjalan gontai menuju kursi bar, Ia jatuh terduduk di sana dengan suara hantaman kursi yang cukup keras. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

“Aku masih sepuluh tahun waktu itu, Cheril. Aku melihat dia menyeretku keluar gedung, lalu dia kembali masuk untuk melakukan... sesuatu. Aku pikir dia mau menyelamatkan dokumen, ternyata dia yang justru mematikan alat pemadam kebakaran pusat di gedung itu,”

“Dan selama dua puluh tahun, kamu memilih untuk melupakan bagian itu agar punya alasan untuk terus membenci keluargaku?” tanya Cheril dengan tawa sinis yang menyakitkan.

“Sangat nyaman ya, Louis? Menyalahkan orang lain atas kejahatan yang dilakukan oleh Ibumu sendiri. Kamu memanfaatkan dendam palsumu untuk menindasku, mengancamku, dan meruntuhkan rumahku, padahal di dalam darahmu sendiri ada jejak pembunuhan yang jauh lebih kental!”

“Hentikan!” teriak Louis sambil berdiri dan membanting gelas kristal kosong di depannya hingga pecah berkeping-keping di lantai marmer.

“Aku melakukan semuanya karena Ayahku, Robert Theodore, memerintahkan itu! Dia yang merancang perselisihan ini agar aku tetap menjadi senjata pribadinya untuk menghabisi William!”

“Dan sekarang senjatanya macet karena kamu mulai jatuh cinta padaku?” tantang Cheril yang mulai mendekati Louis dan menunjuk dada pria itu dengan jari telunjuknya.

“Jangan buat aku tertawa, Louis. Kamu tidak pernah jatuh cinta padaku. Kamu hanya takut rahasia ini terbongkar karena jika namaku hancur di depan publik sebagai anak pembakar, maka sejarah asuransi ini akan dibuka lagi dan namamu akan ikut terseret sebagai anak pelaku penyulut api aslinya!” Louis menatap Cheril dengan sorot mata yang sarat akan kepedihan. Ia merasa semua tembok perlindungan mental yang ia bangun sejak kecil runtuh di depan mata Cheril. Di dunia yang sekarang ia kendalikan, hanya Cheril yang memiliki senjata untuk merubuhkan singgasana kekuasaannya melalui kebenaran itu.

“Lalu apa yang ingin kamu lakukan sekarang, Cheril? Menyerahkanku ke polisi?” tanya Louis dengan suara parau yang pasrah.

“Bukan polisi yang aku incar, Louis. Tapi pengakuan dari Tuan Robert Theodore di depan publik malam ini,” sahut Cheril tegas. Ia berjalan ke arah panel kontrol utama apartemen dan mengambil ponsel satelitnya yang sejak tadi ia sembunyikan.

“Om Richard sudah menyiapkan siaran langsung dengan lima stasiun TV di luar gedung ini. Mereka menunggu berita tentang pertunangan megah kita, namun mereka akan mendapatkan berita tentang rekonstruksi kasus asuransi dua puluh tahun lalu dari saksi yang baru saja keluar dari rumahmu,” Louis menarik tangan Cheril, gerakannya lebih mirip dengan seseorang yang sedang memohon pengampunan di menit terakhir.

Lihat selengkapnya