Warisan Abu

Nurul Adiyanti
Chapter #23

23. Sekutu dalam Kegelapan

Suasana di Gudang 403 langsung menjadi sangat sunyi setelah Louis selesai bicara. Suaranya masih terdengar jelas di antara pilar-pilar beton yang sudah lembap dan kotor. Bau bensin di ruangan itu sangat kuat dan berbahaya jika sampai ada percikan api. Di bawah satu lampu yang menggantung dan bergerak pelan, Robert Theodore menatap putranya. Ekspresinya sulit dibaca, antara terlihat marah, tetapi juga seperti terkejut melihat keberanian Louis yang berani mengancamnya secara langsung. Pria itu perlahan menurunkan tangan yang memegang detonator. Ia tertawa sebentar dengan suara pelan dan kasar, terdengar jelas di ruangan gudang yang luas.

“Kau memang darah dagingku, Louis. Hanya seorang Theodore yang berani mengancam Ayahnya sendiri dengan ledakan di saat posisinya sedang terkepung seperti ini,”

“Ini bukan sekadar ancaman, Yah,” sahut Louis dengan nada bicara yang sangat rendah dan tenang.

“Sepuluh menit yang lalu, tim teknis asuhanku sudah mengisolasi sinyal frekuensi di sekitar Rumah Sakit Pondok Indah. Jika tombol itu kau tekan sekarang, bukan unit Maya yang hancur, melainkan sistem elektronik mobil Mercedes milikmu di luar sana yang akan meledak seketika,”

Cheril mencengkeram pistol perak pemberian Louis dengan tangan yang basah oleh keringat dingin. Ia berdiri di belakang Louis, matanya tak lepas dari sosok Naomi yang masih terikat lemas di kursi besi. Setiap embusan napas di gudang itu terasa seperti sedang menghitung mundur menuju kehancuran total.

“Lepaskan Naomi sekarang juga, Tuan Robert,” ujar Cheril dengan suara yang meski bergetar, tetap membawa ketegasan yang baru.

“Semua harta warisan itu sudah aku tandatangani untuk Louis, bukan untuk Anda. Anda tidak punya apa-apa lagi di sini.” Robert menoleh ke arah Cheril, menatap gadis itu dengan pandangan merendahkan yang sangat kentara.

“Kau pikir satu coretan pena di atas kertas sengketa bisa menghentikan dinasti yang aku bangun dengan darah selama dua puluh tahun, Anak Kecil? Kamu tidak jauh beda dengan Ayahmu yang lemah. Kamu terlalu banyak bicara soal moral, sementara bensin sudah membasahi kaki teman baikmu.”

“Ayah, cukup!” bentak Louis.

“Suruh anak buahmu menyingkir. Aku ingin Naomi dilepaskan tanpa ada goresan sedikit pun, atau kau akan pulang dengan berjalan kaki karena tidak punya lagi kemewahan di garasi rumahmu,”

Salah satu pria bersenjata di belakang Robert mulai menunjukkan gelagat gelisah. Ia melirik ke arah pintu keluar, takut ancaman Louis tentang ledakan mobil di luar sana adalah nyata. Robert menyadari hal itu, ia mengepalkan tinjunya dengan geram.

“Berani sekali kalian bermain-main denganku!” geram Robert. Ia memberi isyarat kepada pria bertopeng di dekat Naomi.

“Bakar pintunya! Jangan biarkan mereka keluar sebelum aku mendapatkan apa yang aku mau!”

Pria bertopeng itu hendak menyalakan pemantik api ke arah ceceran bensin di sekitar Naomi, namun sebelum jemarinya bergerak, sebuah suara tembakan memecah keheningan gudang. Peluru itu tidak mengenai orang, melainkan menghantam botol kimia di dekat tangan sang pengawal, membuatnya meledak kecil dan memercikkan cairan yang membuat tangannya panas terbakar. Tembakan itu berasal dari pistol yang dipegang Cheril. Tangannya bergetar hebat setelah menarik pelatuknya, namun matanya tetap tajam menatap lawan di depannya.

“Jangan coba-coba atau tembakan berikutnya akan aku arahkan tepat ke kepalamu!”

Louis terkejut melihat keberanian Cheril. Ia segera memanfaatkan celah ketakutan para pengawal itu dengan merangsek maju dan melancarkan tendangan keras ke arah perut pengawal yang memegang botol kimia tadi hingga tersungkur. Louis bergerak sangat cepat, hampir seperti bayangan yang menyambar di dalam kegelapan gudang.

“Mundur!” teriak Louis kepada pengawal Robert lainnya yang mulai mencabut senjata mereka.

“Jangan sampai pelurumu memicu uap bensin ini jika tidak ingin kita semua menjadi arang bersama!”

Lihat selengkapnya