Warisan Abu

Nurul Adiyanti
Chapter #24

24. Puncak Kebohongan

Langit Jakarta terlihat kemerahan saat senja, terlihat dari jendela mobil yang mereka tumpangi. Suasana di dalam mobil terasa tegang sejak tadi malam. Cheril duduk di samping Louis, menatap lurus ke arah pegunungan di depan. Tangannya terus memegang ponsel kecil yang berisi informasi dari Richard. Louis mengemudi dengan fokus, tapi sesekali ia melirik ke arah Cheril, mencoba melihat reaksinya.

“Apa kamu yakin rencana ini akan berhasil, Louis?” tanya Cheril memecah kesunyian yang sudah terlalu lama menggantung.

“Memancing Tuan Robert untuk keluar dari tempat persembunyiannya dengan jebakan dari Ibuku? Kita belum tahu apakah informasi yang aku dapat dari Richard benar-benar bisa membawanya ke sana,” Louis menarik napas panjang, lalu menoleh sejenak ke arah Cheril.

“Kita harus mencobanya, Cheril. Jika tidak, nyawa Ibumu dan Naomi akan terus menjadi taruhan keserakahan mereka. Robert Theodore bukan Ayah yang suka bertenggang rasa, dia hanya mau kemenangan mutlak tanpa ada sedikitpun celah untuk dibantah,”

“Dan apa yang akan terjadi padamu jika mereka berhasil menangkapmu, Louis? Kamu akan menghianati Ayahmu lalu tertangkap oleh kekuasaan tersembunyimu sendiri,” balas Cheril, kali ini ia memfokuskan tatapannya pada Louis dengan sorot mata penuh pertanyaan yang menggali.

“Kamu punya rencana untuk menyelamatkan dirimu dari segala kekacauan ini, kan?” Louis terdiam sejenak, seperti sedang merangkai kata-kata yang paling tepat untuk membongkar bagian terakhir dari dunianya yang kelam.

“Ada beberapa ‘aset’ yang aku simpan di luar negeri sejak awal mula permainan ini. Dana yang tersembunyi dari jangkauan Ayah, jika sesuatu yang terburuk terjadi, aku punya jalan keluar yang bersih. Namun, aku akan berjuang sebisa mungkin agar kamu tidak perlu melihatku melakukan itu, Cheril. Aku ingin melihatmu tersenyum di hari pernikahan kita, bukan di meja hijau.”

Kalimat Louis seperti hantaman badai yang menghapus semua ingatan manis yang Cheril pernah coba simpan. Pernikahan, sisa-sisa siuman dari harga dirinya yang hampir punah membuatnya bangkit dari duduknya. Ia meraih dokumen perjanjian penyerahan aset perusahaan yang diberikan Louis kemarin pagi, lalu ia membakarnya sedikit demi sedikit menggunakan api dari korek api di dasbor mobil.

“Apa yang kanu lakukan, Cheril?” pekik Louis dengan nada terkejut luar biasa, ia berusaha memadamkan api kecil di ujung dokumen itu, namun api dengan cepat menjalar ke seluruh kertasnya.

“Kamu tidak akan mendapat apa-apa dariku, Louis! Tidak tanda tangan, tidak nama Wijaya, bahkan tidak pengorbanan dariku lagi!” Cheril berteriak sambil melempar dokumen yang sudah separuh terbakar ke jendela mobil yang sedikit terbuka.

“Aku lebih baik memilih penjara selamanya daripada terus jadi budak ambisi kotor keluargamu!”

Mobil yang mereka tumpangi berhenti mendadak di tepi jalan berdebu, tidak jauh dari sebuah vila tua yang tertutup kabut tipis. Di depan, beberapa mobil mewah terparkir rapi, menandakan ada acara penting yang sedang berlangsung di sana.

“Kamu tahu konsekuensinya, Cheril? Dengan membakar dokumen itu, kamu sudah mengambil langkah hukum yang berlawanan dengan aku dan Ayah,” kata Louis dengan nada tegas dan marah.

Ia terlihat semakin kesal saat melihat pesan masuk di ponselnya dari kontak bernama 'Maya'. Cheril tidak tahu isi pesannya, tapi ia melihat Louis mengepalkan tangannya dengan kuat. Saat Louis keluar dari mobil, Cheril segera mengambil dompet kecilnya dan menggunakan ponsel lama untuk menghubungi Richard.

“Om Richard, ini Cheril. Aku sudah membakar dokumen asli penyerahan aset, tapi sekarang Louis sangat marah. Kita harus bertemu di mana? Polisi mungkin akan segera membatasi akses ke vila ini.”

Lihat selengkapnya