Halaman depan vila tua di perbatasan kota itu terlihat kacau setelah kejadian tadi. Suara sirene polisi terdengar keras di malam hari, sementara lampu biru dan merah dari mobil patroli menyinari dinding vila yang sudah retak. Garis polisi segera dipasang untuk membatasi area tersebut. Puluhan wartawan dari media online dan televisi mulai masuk melalui celah gerbang, berusaha mendapatkan posisi terbaik untuk merekam kejadian yang melibatkan dua keluarga besar tersebut. Cheril berdiri bersandar di mobil polisi, menatap pintu utama vila yang kini dijaga oleh petugas berseragam. Napasnya masih cepat dan belum stabil. Gaun merah yang ia pakai terlihat kotor karena debu dari keributan sebelumnya, Ia tidak lagi memikirkan status atau latar belakangnya. Saat itu, ia hanya merasa lelah dan kosong.
“Kamu harus minum ini, Ril. Tubuhmu masih gemetar,” kata Zoe dari samping dengan nada khawatir. Ia memberikan segelas air mineral dan selimut untuk menutupi bahu Cheril. Cheril menerima air itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
“Terima kasih, Zoe. Kamu cepat sekali menghubungi tim hukum Om Richard. Kalau tidak… mungkin aku masih terjebak di dalam,” katanya.
“Bukan aku yang mengatur semuanya. Ini rencana Om Richard dan Pak Haryo. Aku cuma menyampaikan dan ikut membantu karena tidak suka melihat kamu diperlakukan seperti itu,” jawab Zoe sambil melihat ke arah mobil tahanan yang mulai keluar dari halaman vila.
Di dalam salah satu mobil tahanan tersebut, Cheril bisa melihat wajah Ibunya, Maya, yang sedang menatap jendela dengan ekspresi dingin yang membeku. Tidak ada air mata di wajah Maya, wanita itu tampak seperti ratu yang sedang digulingkan, namun masih menolak untuk mengakui kekalahannya. Ia bahkan sempat menatap Cheril sejenak melalui kaca yang gelap sebelum mobil itu benar-benar menjauh menuju markas kepolisian.
“Lihatlah Ibumu, Ril. Bahkan saat dia memakai borgol, dia masih mencoba terlihat berwibawa,” gumam Zoe sinis.
“Darah dingin itu benar-benar mengalir deras dalam sejarah keluargamu,” Cheril menarik napas panjang, menahan rasa sesak yang kembali menyerang paru-parunya.
“Itu bukan wibawa, Zoe. Itu adalah bentuk terakhir dari penyangkalannya. Dia merasa berhak melakukan segala cara untuk tetap kaya, termasuk mengorbankan suaminya dan anaknya sendiri.”
Tiba-tiba, suara derap sepatu yang teratur di atas kerikil halaman vila menarik perhatian mereka berdua. Louis Theodore muncul dari arah belakang bangunan, berjalan dengan langkah yang lamban. Pakaiannya yang serba hitam tampak berantakan, dan rambutnya yang biasa tertata rapi kini jatuh menutupi dahinya. Ia berhenti sekitar dua meter dari posisi Cheril berada.
“Rencananya berjalan sangat lancar, bukan, Cheril?” tanya Louis dengan nada suara yang serak, namun tetap mengandung karisma gelap yang kuat. Zoe langsung melangkah di depan Cheril dengan sikap defensif.
“Apa lagi maumu, Louis? Ayahmu sudah dibawa pergi, kamu harusnya senang melihat semua pesaing bisnismu kini sudah memakai baju tahanan oranye!”
Louis tidak menghiraukan Zoe. Matanya hanya terpaku pada Cheril, sorot matanya yang biasanya tajam kini tampak dipenuhi oleh luka yang ia sembunyikan selama bertahun-tahun di bawah kendali Ayahnya.
“Aku ingin bicara berdua dengan Cheril, hanya lima menit.” Cheril memegang pundak Zoe, memberi isyarat agar sahabatnya itu memberinya ruang.
“Tidak apa-apa, Zoe. Biarkan dia bicara, ini mungkin kali terakhir kami bisa berdiri di bawah langit yang sama sebagai orang yang bebas.”