Warisan Abu

Nurul Adiyanti
Chapter #26

26. Sisa Puing-Puing

Apartemen mewah di lantai teratas gedung SCBD itu biasanya menjadi simbol kejayaan, namun malam ini, tempat itu terasa seperti ruang tunggu di tengah pemakaman. Aroma kayu manis dan vanila yang biasa memenuhi udara kini digantikan oleh bau bensin yang sangat tipis dan debu dari berkas-berkas tua yang berserakan. Cheril berdiri di tengah ruang tamu, dikelilingi oleh koper-koper kecil yang ia kemas dengan tangan gemetar. Ia tidak membawa gaun-gaun mahalnya, tidak juga perhiasan pemberian Louis. Di dalam tasnya, hanya ada beberapa pasang pakaian sederhana, identitas dirinya, dan tumpukan dokumen yang telah ia curi dari brankas Louis sore tadi. Louis duduk di sofa besar, memandangi Cheril dengan sorot mata yang sulit dibaca. Pria itu tampak tidak bernyawa, meskipun segelas wiski di tangannya masih penuh. Kekacauan di vila tadi malam sepertinya mulai mengikis keangkuhan yang selama ini ia pelihara sebagai tameng pelindung diri.

“Kau benar-benar akan pergi setelah semua yang kita lewati bersama?” suara Louis terdengar rendah, memecah kesunyian yang mencekam. Cheril menoleh, menatap Louis dengan pandangan yang sudah mati rasa.

“Apa yang sebenarnya kita lewati, Louis? Apakah yang kita lalui itu hubungan nyata, atau hanya serangkaian taktikmu untuk memastikan aset keluargaku pindah ke rekeningmu tepat pada waktunya?”

“Aku menyelamatkanmu dari Ayahku! Tanpa aku, kamu sekarang sedang duduk di dalam sel bersama Ibumu!” bentak Louis sambil berdiri, mengabaikan gelasnya yang terguling di atas meja marmer. Cheril tertawa, sebuah tawa kering yang sarat akan rasa jijik.

“Menyelamatkanku untuk menjadikanku tawanan baru di dalam sistem bisnismu? Itu bukan penyelamatan, Louis. Itu hanyalah pengalihan kepemilikan. Aku sudah tahu tentang perusahaan L.T. Alpha Holdings. Kamu sengaja membiarkan Robert ditangkap agar seluruh kontrol aset itu jatuh padaku secara legal, namun akses keuangannya tetap berada di bawah jarimu,”

“Itu untuk melindungimu agar tidak melarat!” seru Louis sambil berjalan mendekat.

“Dunia di luar sana sedang menunggumu dengan gigi tajam, Cheril. William hancur, Maya akan dipenjara seumur hidup. Tanpa aku, identitasmu tidak berharga lebih dari debu!”

Cheril tidak mundur. Ia justru mengambil setumpuk berkas kontrak dan akta hibah yang asli, dokumen yang tadinya dianggap sebagai mahkota kemenangan Louis. Dengan gerakan lambat, Ia berjalan menuju perapian modern yang ada di tengah ruangan dan mengambil pemantik gas dari atas meja kecil.

“Apa yang kau lakukan? Jangan gila, Cheril!” teriak Louis saat melihat api mulai menyala di ujung jari gadis itu.

“Ini bukan tentang menjadi gila, Louis. Ini tentang membersihkan diri dari sisa-sisa puing rumah yang telah meruntuhkanku,” ujar Cheril dengan tenang.

Tanpa ragu sedikit pun, ia mendekatkan api ke pinggiran dokumen asli penyerahan Cikupa dan seluruh bukti transfer modal internasional yang menjadi dasar hukum L.T. Alpha Holdings. Api dengan cepat menjilat kertas-kertas berkualitas tinggi itu, menciptakan warna jingga yang menyilaukan mata di tengah ruangan yang remang-remang.

“Hentikan! Kertas itu senilai triliunan rupiah!” Louis mencoba merangsek maju untuk merebut berkas itu, namun Cheril menodongkan sisa kertas yang terbakar ke arahnya, membuat pria itu terpaksa mundur.

“Nilainya nol jika pemiliknya sudah tidak mau mengakuinya lagi sebagai miliknya,” balas Cheril.

“Malam ini, di depanmu, aku membakar seluruh identitas yang kalian berikan padaku. Aku bukan lagi putri dari pembunuh asuransi, dan aku pasti bukan bidak catur yang kamu siapkan untuk menjadi Nyonya Theodore.”

Kertas-kertas yang terbakar itu jatuh satu per satu ke dalam lubang perapian, berubah menjadi abu yang melayang tertiup sistem ventilasi udara. Louis hanya bisa berdiri mematung, melihat kekuasaannya hangus dalam hitungan detik oleh tangan wanita yang ia kira paling lemah. Ia baru menyadari bahwa Cheril lebih memilih hidup tanpa apa-apa daripada harus memegang kekayaan yang kotor.

Lihat selengkapnya