Aroma arang yang masih panas dan sisa bensin yang menyengat memenuhi udara di sekitar reruntuhan rumah besar keluarga Wijaya di Menteng. Bangunan yang dulunya merupakan istana bagi Cheril, kini hanya menyisakan puing-puing hitam yang mengeluarkan asap tipis ke langit malam. Garis kuning polisi terbentang mengelilingi sisa-sisa kemegahan itu, seolah menyegel seluruh kenangan masa kecil Cheril di bawah label barang bukti kejahatan.
Cheril melangkah turun dari taksi dengan lutut yang terasa sangat lemas. Ia menatap nanar ke arah kamarnya di lantai dua yang kini sudah runtuh total. Tidak ada lagi gaun indah, tidak ada lagi koleksi buku favoritnya, dan tidak ada lagi rasa aman yang pernah ia rasakan di sana. Segala sesuatu yang memberinya identitas sebagai seorang "Putri Wijaya" telah lumat oleh api dalam waktu kurang dari satu jam.
“Apa kamu baru puas melihat semuanya terbakar habis, Louis?” tanya Cheril lirih, suaranya parau tertiup angin malam yang dingin.
Sesosok pria keluar dari balik bayangan pohon besar di seberang jalan. Louis Theodore berdiri di sana dengan penampilan yang tidak lagi sempurna. Kemeja hitamnya kotor oleh jelaga, dan rambutnya yang biasa tersisir rapi kini jatuh menutupi sebagian keningnya yang berkeringat. Di tangannya, ia memegang sebuah kotak kayu kecil yang permukaannya menghitam karena api.
“Bukan aku yang melakukannya, Cheril. Aku sudah mencoba memadamkannya dengan alat pemadam pribadi sebelum tim pemadam kebakaran sampai ke sini!” sahut Louis, suaranya mengandung nada putus asa yang jarang ia tunjukkan sebelumnya.
“Ini ulah Ayahku yang benar-benar sudah kehilangan kewarasannya karena kamu menolak tanda tangan itu di hadapan Sutedjo tadi!”
Cheril tertawa miris, matanya berkilat karena kebencian yang mendalam.
“Lalu untuk apa kamu masih di sini? Untuk memberikan penghormatan terakhir pada rumah yang kamu sendiri yang sudah menyulut bibit kehancurannya sejak awal?”
“Aku datang untuk menyelamatkanmu dari gelombang kedua, Cheril!” Louis melangkah maju, melewati garis polisi tanpa memedulikan aturan hukum. Ia mencengkeram bahu Cheril, memaksanya untuk melihat lurus ke matanya yang penuh dengan kilatan ketakutan yang murni.
“Ayahku baru saja mengaktifkan tim pengacaranya untuk memicu tuntutan penggelapan dana yang disiapkannya untuk menumbangkan ayahmu sepenuhnya!”
“Aku sudah tidak peduli pada harta, Louis! Bakarlah segalanya!” teriak Cheril sambil meronta melepaskan diri.
Tiba-tiba, suara pintu mobil mewah yang tertutup dengan dentuman keras memecah ketegangan di antara mereka. Sebuah Mercedes-Benz merah menyala berhenti tepat di belakang taksi Cheril. Safa keluar dari kursi kemudi, diikuti oleh Nicole yang menatap Cheril dengan senyum yang sarat akan rasa puas melihat jatuhnya musuh lama mereka.
“Wah, wah, sepertinya dramanya jauh lebih panas daripada api rumahnya ya,” ejek Safa sambil berjalan mendekat dengan gaya angkuhnya.
“Kasihan ya, Cheril. Kemarin punya segalanya, malam ini kamu hanya punya baju yang menempel di badan dan tumpukan hutang pidana," Louis menoleh ke arah Safa dengan sorot mata yang siap menerkam.