Warisan Abu

Nurul Adiyanti
Chapter #28

28. Persidangan Hati

Bau kopi instan murahan yang sudah mendingin bercampur dengan aroma pembersih lantai yang tajam di dalam ruang interogasi itu. Cahaya lampu neon di langit-langit berkedip, mengeluarkan bunyi mendenging halus yang sanggup merusak ketenangan batin siapa pun yang berada di sana selama berjam-jam. Cheril duduk di sebuah kursi besi yang tidak nyaman, pergelangan tangannya masih terasa nyeri karena bekas borgol yang tadi terpasang terlalu erat. Di depannya, sebuah meja kayu tua yang penuh coretan tampak sangat suram.


Detektif Danu, seorang pria paruh baya dengan rahang tegas dan tatapan mata yang sudah bosan melihat kejahatan, melemparkan sebuah map cokelat ke atas meja. Suaranya menggelegar di ruangan yang sempit itu.


"Lima puluh miliar rupiah, Nona Cheril. Uang itu tidak kecil. Kami sudah mencocokkan jejak audit dari akun luar negeri yang tertulis atas nama Anda. Semua bukti digital mengarah ke satu kesimpulan: Anda menguras dana operasional Wijaya Group saat ayah Anda tidak sadarkan diri di rumah sakit," ujar Danu dengan nada bicara yang kering dan menuntut. Cheril mendongak, matanya yang sembab kini terlihat jauh lebih dingin daripada beberapa jam yang lalu.


"Sudah saya katakan berulang kali, Pak. Saya tidak pernah memiliki akses ke sistem perbankan korporat ayah saya. Bukti digital itu dipalsukan. Apa Bapak tidak bisa melihat motif di balik laporan ini? Robert Theodore yang melakukannya!" Danu tertawa pendek, suara tawanya tidak mengandung sedikit pun humor.


"Tuan Robert Theodore adalah saksi pelapor yang paling kooperatif sejauh ini. Beliau bahkan menyerahkan data pribadi Maya Wijaya yang mendukung laporan ini. Bagaimana mungkin seorang mitra bisnis menyerang keluarga Anda tanpa dasar hukum yang kuat?"


"Dasar hukumnya adalah keserakahan, Pak!" bentak Cheril sambil menggebrak meja dengan sisa tenaganya.


"Keluarga kami dihancurkan satu per satu oleh mereka! Jika Anda tetap memenjarakan saya, Anda hanya membantu iblis asli menguasai aset keluarga saya secara ilegal!"


"Masalah moralitas keluarga bukan urusan penyidikan saya, Nona. Saya bicara soal angka," balas Danu tanpa perasaan. Ia bangkit dari kursi dan merapikan kemejanya yang sudah kusut.


"Satu jam lagi jaksa penuntut umum akan datang untuk meresmikan penahanan Anda. Saya sarankan Anda segera mencari pengacara yang sangat hebat, meskipun saya ragu ada yang berani melawan pengaruh Theodore Group di kota ini."


Detektif itu keluar dari ruangan, membiarkan pintu besi menutup dengan suara dentuman yang sangat memekakkan telinga. Cheril kembali terisolasi dalam kesunyian. Ia menatap dinding semen yang retak, merasa seperti sedang berada di dalam sebuah kotak Pandora yang baru saja terbuka. Di titik ini, Cheril menyadari bahwa kebenaran saja tidak cukup untuk membebaskannya. Ia butuh sesuatu yang jauh lebih berkuasa yaitu perlindungan dari seseorang yang lebih kuat.


Tiba-tiba, suara langkah kaki sepatu pantofel yang teratur terdengar mendekati ruang interogasi tersebut. Pintunya kembali terbuka, namun bukan Danu yang masuk. Louis Theodore melangkah masuk dengan setelan jas hitam yang sempurna, tanpa noda debu selembar pun, seolah-olah ia baru saja turun dari panggung pesta sosialita dan bukan dari TKP rumah terbakar. Di tangannya, ia memegang sebuah dokumen legal dengan segel khusus.


"Tolong tinggalkan kami berdua," ujar Louis kepada petugas yang berdiri di depan pintu dengan nada suara yang penuh otoritas murni.


Petugas itu mengangguk patuh dan segera mengunci pintu dari luar. Louis berjalan mendekati Cheril dan duduk di hadapannya. Ia meletakkan sebuah ponsel di atas meja yang menyalakan rekaman CCTV di lantai rumah sakit, memperlihatkan Maya yang sedang dijemput oleh tim hukum lain menuju ruang pemeriksaan.


"Kamu datang ke sini untuk mengejekku, Louis? Atau kamu ingin menonton pertunjukan sirkus Ayahmu dari barisan paling depan?" tanya Cheril dengan nada penuh sarkasme yang tajam.


Louis menatap Cheril dalam-dalam. Sorot matanya kini sarat akan rasa obsesi yang dipadukan dengan keseriusan yang mematikan.


"Aku baru saja berdiskusi dengan Kepala Kejaksaan. Tuan Robert benar-benar ingin membusukkanmu di sel paling bawah karena kau sudah memalukannya di depan media lewat skenario Om Richard kemarin. Namun, aku sudah menyiapkan jalan keluar yang paling masuk akal bagimu,"

Lihat selengkapnya