Warisan Abu

Nurul Adiyanti
Chapter #29

29. Rencana Kebebasan

Lonceng katedral tua di pusat kota Jakarta berbunyi tujuh kali, suaranya terdengar jelas di antara gedung-gedung tinggi di sekitarnya. Pagi itu, langit tampak mendung. Cuaca yang kurang cerah membuat suasana terlihat suram. Katedral tersebut sudah dipenuhi bunga lili putih dan dekorasi kain mahal. Para tamu undangan, yang sebagian besar merupakan rekan bisnis Theodore Group, hadir dengan sikap formal, meskipun hubungan di antara mereka lebih didasarkan pada kepentingan daripada kedekatan pribadi. Di dalam ruang rias pengantin yang luas dan berpendingin udara, Cheril berdiri diam di depan cermin besar. Ia mengenakan gaun pengantin putih tanpa lengan dengan desain sederhana, dipadukan dengan perhiasan berlian mahal yang diberikan Louis. Wajahnya terlihat pucat, tertutup riasan tipis yang membuat ekspresinya sulit dibaca dan terlihat kaku.

“Jangan goyah sekarang, Ril. Sedikit lagi, semua rencana kita akan mencapai titik puncaknya,” bisik Ivy sambil membantu membetulkan kerudung transparan di rambut Cheril.

Ivy, Naomi, dan Zoe ada di sana. Ketiganya tidak lagi menggunakan pakaian pesta yang biasa mereka kenakan ke kelab malam. Mereka semua mengenakan seragam pengiring pengantin yang sangat sopan, namun di balik tas genggam mereka masing-masing, tersimpan perangkat tablet tipis yang terus terhubung dengan server pribadi di luar negeri.

“Aset operasional Wijaya di Singapura sudah aku alihkan ke rekening yayasan amal yang baru,” sahut Zoe dengan nada bicara yang sangat tenang dan waspada.

“Tinggal satu otorisasi lagi dari tanda tangan digitalmu saat upacara nanti, dan Theodore Group tidak akan punya satu persen pun akses ke likuiditas itu selama dua puluh empat jam ke depan,” Cheril menatap Zoe melalui cermin.

“Apa Tuan Robert menyadari ada pergerakan arus kas ini?” Naomi menggeleng sambil terus menatap layar ponselnya.

“Ponsel satelit Louis sudah kami enkripsi ulang lewat akses dari Om Richard kemarin malam. Setiap laporan transaksi yang masuk ke komputer Sutedjo sekarang hanyalah laporan palsu dari program kloning yang aku pasang di server lobi apartemen. Mereka pikir uangnya masih aman, padahal kita sedang menguras dasarnya,”

“Tapi ingat, Cheril,” potong Ivy dengan wajah serius.

“Jika Om Richard tidak muncul tepat waktu saat pengucapan janji nanti, rencana pelarianmu ke perbatasan tidak akan berhasil. Kita bertaruh pada orang yang baru saja mengkhianatimu, kamu sadar itu kan?” Cheril menarik napas panjang, menekan rasa takut yang seolah-olah sedang mengonsumsi jantungnya hidup-hidup.

“Aku tidak punya pilihan lain. Om Richard ingin menghancurkan Tuan Robert sama sepertiku. Dia adalah musuh dari musuhku, dan di dunia yang hancur ini, itu adalah definisi terbaik untuk seorang kawan,”

Pintu ruang rias diketuk dengan keras sebanyak tiga kali. Sosok pengawal Theodore Group masuk dan membungkuk sopan namun matanya terus menyelidiki ke seluruh ruangan.

“Waktunya, Nona. Tuan Louis sudah menunggu di altar, dan Tuan Robert Theodore sudah menduduki kursi paling depan,”

“Baik, saya keluar sekarang,” jawab Cheril datar. Ia menyerahkan tablet kecil itu kepada Zoe dengan gerakan yang sangat halus.

“Lakukan apa yang harus dilakukan segera setelah aku memberikan kode melalui kedipan lampu sensor di atas altar.”

Cheril berjalan menyusuri lorong katedral yang sunyi. Setiap langkah kakinya yang mengenakan sepatu hak tinggi berbahan satin terasa sangat nyata dan dingin. Saat pintu ganda menuju aula utama katedral dibuka, semua tamu undangan berdiri. Musik organ mulai dimainkan, lagu yang harusnya sakral namun terasa sangat horor di telinga Cheril.

Louis berdiri di depan altar, mengenakan tuxedo hitam yang sangat rapi. Wajahnya sangat tenang, seperti ia benar-benar sedang menunggu mempelai wanitanya dengan penuh kasih sayang. Namun Cheril tahu, di balik jas itu, Louis kemungkinan besar juga memegang ponsel untuk memastikan transaksi final aset Wijaya sedang berlangsung sesuai dugaannya. Di barisan paling depan, Robert Theodore tersenyum dengan sorot mata pemangsa yang puas melihat hadiahnya akhirnya tertangkap. Louis mengulurkan tangannya saat Cheril sudah sampai di hadapannya. Ia meremas jemari Cheril dengan cukup kuat, memberikan kenyamanan yang diiringi dengan tekanan otoritas.

Lihat selengkapnya