Warisan Abu

Nurul Adiyanti
Chapter #30

30. Rumah tanpa Pintu

Suara ledakan dari sistem keamanan katedral masih terdengar di telinga Cheril saat Zoe dan Naomi menariknya keluar lewat pintu darurat. Asap dari gas air mata memenuhi lorong-lorong batu yang lembap dan membuat pandangan terbatas. Di belakang mereka, suara tembakan antara pengawal Robert Theodore dan orang-orang Richard masih terdengar. Cheril sempat menoleh ke arah altar yang mulai terbakar. Ia melihat Louis sedang berkelahi dengan dua pengawal sebelum pintu kayu itu ditutup.

“Jangan lihat ke belakang, Cheril! Lari ke arah van putih di ujung jalan!” teriak Zoe sambil menarik lengan gaun pengantin Cheril yang sudah robek dan kotor. Mereka berlari saat hujan mulai turun cukup deras di area tersebut, jalanan menjadi basah dan licin. Saat sampai di van, Ivy sudah menunggu di kursi pengemudi dengan wajah tegang. Begitu pintu ditutup, Ivy langsung menjalankan mobil dan menjauh dari area katedral, sementara suara sirene polisi mulai terdengar semakin dekat.

“Apa uangnya sudah aman?” tanya Cheril dengan napas yang memburu, paru-parunya terasa perih karena asap. Naomi menunjukkan layar tabletnya yang berkedip hijau.

“Satu detik sebelum server mereka down, transaksinya selesai. Rekening yayasan amal di Swiss sudah menerima seluruh likuiditas Theodore Group yang tadi kamu otorisasi. Robert Theodore secara resmi tidak punya sepeser pun uang tunai di luar negeri mulai sekarang,” Cheril menyandarkan kepalanya ke dinding mobil, ia memejamkan mata sesaat.

“Lalu bagaimana dengan Om Richard? Aku melihatnya mengarahkan pistol ke arah Tuan Robert tadi,”

“Om Richard sudah tidak peduli pada keselamatannya sendiri, Ril,” sahut Zoe lirih sambil membersihkan noda debu di wajah Cheril.

“Dia hanya ingin melihat Tuan Robert mati atau membusuk di penjara. Tapi polisi sudah masuk, aku ragu ada yang bisa selamat dari kekacauan di dalam tadi tanpa luka parah,”

Tiba-tiba, ponsel satelit yang dibawa Cheril dari dalam buket bunganya bergetar. Sebuah panggilan masuk dari nomor pribadi Louis. Cheril menatap layar itu dengan perasaan bimbang yang sangat hebat. Antara benci yang mendalam dan sebuah rasa keterikatan yang belum sepenuhnya ia cabut dari akarnya.

“Angkat saja, Cheril, ini mungkin komunikasi terakhirmu dengannya sebelum kita sampai ke pelabuhan,” saran Ivy dari kursi depan. Cheril menekan tombol jawab dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya. Suara di seberang sana tidak terdengar tenang seperti biasanya. Terdengar suara kerusuhan, barang pecah, dan napas yang sangat berat.

“Cheril? Kamu masih di sana?” suara Louis terdengar parau, ada nada rasa sakit yang nyata di dalam vokal baritonnya.

“Aku masih di sini, Louis. Kamu masih hidup?” tanya Cheril dengan nada suara yang berusaha ia buat sebeku mungkin. Terdengar tawa pendek yang sangat pahit dari Louis.

“Ayahku... Om Richard baru saja menembaknya di kaki. Om Richard juga tertembak oleh pengawal pribadiku. Ini benar-benar pesta pernikahan yang kau rancang dengan sangat indah, Sayang.”

“Aku tidak merancangnya, Louis. Kebohongan kalianlah yang mengundang api ini masuk,” balas Cheril tegas.

“Apakah kamu akan tetap mengejarku? Sekarang harta yang kau idamkan itu sudah lenyap ke yayasan sosial. Kamu tidak punya alasan lagi untuk memaksaku tinggal,”

Lihat selengkapnya