Blurb
Di sebuah rumah yang penuh kenangan pahit, lahirlah seorang anak yang sejak kecil merasa menjadi orang asing di keluarganya sendiri. Bukan karena ia nakal atau malas, tetapi karena satu hal yang tidak pernah bisa ia ubah: wajahnya. Ayahnya memandangnya dengan dingin, seolah kehadirannya adalah kesalahan yang memalukan. Sementara itu, adik-adiknya tumbuh dengan manja dan penuh ambisi, terutama ketika pembicaraan tentang harta warisan mulai sering terdengar di meja makan.
Namun, anak itu berbeda. Ia tidak pernah berharap sedikit pun dari kekayaan keluarganya. Baginya, hidup adalah tanggung jawab pribadi. Jika ia miskin, itu karena usahanya kurang. Jika ia berhasil, itu karena kerja kerasnya sendiri. Ia memilih meninggalkan rumah, membawa hanya satu hal yang benar-benar berarti baginya: kenangan tentang ibunya.
Ibunya adalah satu-satunya orang yang pernah memandangnya dengan cinta. Tetapi cinta itu juga penuh luka. Ia masih ingat bagaimana ibunya sering menangis diam-diam setelah pertengkaran keras dengan ayahnya, pertengkaran yang kadang berakhir dengan kekerasan.